On Sun, 25 Apr 1999, Riki Kurniawan wrote:
> :) Hehehe muji dikit ngak apa-apa khan ?
JAngan kebanyakan muji lho.. ...
> >disain.. ini hanya mana yang lebih tepat untuk suatu aplikasi mana yang
> >tidak..
> Aplikasi apa saja yang cocok untuk kernel Monolitic dan apa saja yang cocok
> untuk MicroKernel ?
Sebetulnya aplikasi tidak bergantung pada "model" kernel.. tetapi
portabilitas akan dipengaruhi.. tetapi rupanya "well design dan well
implemented" dari Linux mematahkan teori ini (secara teori monolitic ini
kurang portable dibanding microkernel, tetapi buktinya Linux lebih mudah
diport.. (jadi ada teori yang perlu direvisi, sama juga dg teori software
enginerring tentang pemakaian team pengembang perangkat lunak, yang
sekarang jadi dipertanyakan (baca Man Month Myth)
> nilai F karena membuat sistem operasi dengan konsep Kernel yang monolithic.
> Pada saat itu (1991/92) mendesain suatu sistem operasi dengan kernel
> monolithic adalah sesuatu yang dianggap obsolote/ketinggalan jaman.
Sebetulnya itu karena "trend" saja.. sama seperti ketika dulu Zadeh ketika
mulai meluncurkan Fuzzy Theory juga dianggap.. salah...
>
> Menurut Pak Made apa sich yang membuat desain NT yang tadinya sudah bagus
> malah jadi amburadul implementasinya ? Padahal kan ada si Rashid
> (ngomong-ngomong siapa sich si Rashid ini) ?
Rashid ini adlah disainer dari Mach (kernel OS microkernel), yang puny
apaper ngetop ketika dia melakukan perbandingan bahwa microkernel
performancenya lebih kenceng dari monolitic, dia ditarik ke MS Research,
tapi kata Prof saya dia sudah tidak terlibat dalam design decision alias
cuma dipakai "nama".
KElemahan dari implementasi NT adalah siklus pengembangan perangkat lunak
terlalu "dipepet" oleh sasaran milestone pemasaran. JAdi belum cukup
mikir disain yang bersih dan coding yang bug free sudah harus dilepas ke
pasar karena takut kehilangan momentum....
> Windows manager apa sich yang paling hemat memory ? Terus development tools
> apa yang paling mudah digunakan untuk membuat aplikasi XWindows ?
ada icewm apa gitu atau pakai Tiny X yang bisa cuma 4-8 MB.. (inget lho X
sekalian memberikan fasilitas distribusi process)
> pindah platform tinggal compile ulang aplikasi yang pernah kita buat di
> mesin tujuan, ada yang lebih bagus dari ini (kayak iklan aja) ?
Sekali lagi tergantung kebutuhan, Tcl/Tk cukup enak... dan platformnya
banyak juga.. sekaragn memang Qt (yang dipakai KDE) lagi ngetop juga GTK
yang dipakai GNOME. semua tinggal kebiasaan dan selera aja. tapi kalau mau
"cepet" ya pakai Tcl/Tk aja...
> Sayangnya "power" yang diberikan oleh Linux hanya cocok untuk Power-User
> bukan End-User. Nggak kebayang khan kalo ibu-ibu nongkrong didepan komputer
> sedang asyik "ngompile" Kernel Linux.
Ini salah menterjemahkan... maksudnya "Power" di sini kemampuan atau
kekuatan memutuskan beraada di tangan user.. artinya apa dia mau memakai
progrm A, mau mengupgrade itu tergantung dia bukan tergantung vendor
(seperti contoh yang saya berikan, bahwa ada ibu-ibu terpaksa harus
Upgrade ke 98 gara-gara softwarenya nggak ada versi 95 lagi), khan artinya
keputusan sudah tidak ditangan dia..
Dan lagi apa salahnya ibu-ibu ngompile kernel...8-)
> Setelah dengan bantuan Windows 95 (untuk mendeteksi setting irq dan
> address-nya) baru beres, karena kalau dideteksi dari Linux setting irq dan
> addressnya suka berubah-ubah. Ada nggak sich Linux yang betul-betul plug n
> play ?
Sebetulnya ini adlaah "Konyolnya si Windows" si perusahaan hardware
terkena kontrak tidak boleh melepas informasi. Jadi hanya Windows yang
boleh tahu...8-) Di samping itu banyak persh hardware sengjaa membuat non
standard sebhingga orang bergantung kepadanya...
Biasnya sih kalau kita telili sedikit dg pnpdump bisa terpecahkan koq...
kalau semuar persh hardware sudah tidak terikat mungkin "user" lebih enak.
Bahkan ada walau si programmer Linux bisa membuat driver tetapi secara
hukum tidak boleh karena dianggap "reverse engineering".. jadi ini adlah
masalah.. "monopoli jaringan antara pedagang" (yang rugi user lagi.. user
lagi)
> Di Windows juga ada versi bahasa Arab, Cina, Thailand, dll. Cuma untuk
> bahasa Indonesia memang belum ada. Mungkin karena disni produk tsb tingkat
> pembajakannya masih cukup tinggi, termasuk saya sendiri yang suka ikut
Memang ada tetapi setelah berapa tahun...? dan ingat ketika anda membeli
bahasa Arab, anda tidak boleh memakai dua versi kalau tidak beli 2 bahasa.
Maksud saya seberapa cepat "tanggapan" si vendor terhaap kebutuhan user..
ini khan salah satu parameter penilaian "support".
Ingat "keputusan" membuat bahasa itu bukan pada user (decision power is
not at user side). Artinya ethnodiversity tetap lebih sulit tercapai.
> ngebajak. Tapi ngak apa-apa karena mungkin Microsoft juga punya pemikiran
> "Pembajak hari ini adalah pelanggan masa depan".
Sama dengan "sekarang kasih boat gratis" .. besok pada nagih dan
nyari..he.hehe
> Saya rasa untuk mempelajari suatu produk seperti Windows NT / Windows 98
> bukan berarti kita harus membelinya. Dengan modal kursus dan buku-buku yang
> memadai atau (kalau terpaksa) beli CD bajakannya di Mangga Dua kita sudah
> dapat mempelajarinya, sambil juga memepelajari Linux, UNIX, dll. Jadi
Apapun alasannya itu adalah "tidak etis".. sama saja karena lapar saya
mencuri.. padahal bisa tidak harus mencuri.... kalau kita selalu mengambil
justfikasi "demi belajar":. sepertinya kita tidak maju-maju seperti tahun
tahun kemarin.. kita harus belajar dari "pengalaman".
> banyak produk sekaligus tanpa harus terlalu fanatik dengan salah satunya,
> jadi kita dapat mengambil keuntungan dari kelebihan masing-masing produk
> tersebut. Tidak mungkin khan ada suatu produk yang memang benar-benar
> sempurna.
Betul.. tetapi kita harus belajar sesuatu yang "memberikan dasar sehingga
mudah mempelajari lainnya" bukan belajar sesuatu yang terlalu "spesifik".
INi saya pelajari kenapa para mahasiswa di negara maju lebih luwes
menguasai teknologi komputer... ternyata karena modalnya adalah "belajar
UNIX".. UNIX sendiri memberikan dsaar yang sangat baik kepada modal
pengetahuan untuk menguasai teknologi komputer lainnya (bisa UNIX akan
mudah menguasai NT, tapi tidak sebaliknya....) (sudah banyak buku
pendidikan komputer dan penelitian yang membahas aspek ini... jadi alasan
saya bukan hanya "ngotot membabi buta" tetapi karena berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti di bidang "pendidikan
komputer".
Di jaman TI yang serba cepat ini, penguasaan suatu knowledge bukan diukur
dari ketrampilan mengoperasikan produk, tetapi dimilikinya dasar
pengetahuan yang baik yang dapat digunaan untuk mempelajari hal baru yang
lainnya.. Sebagai contoh anda sudah mengoperasikan NT dan mempelajari 1
tahun mungkin yang namanya konsep "kernel" masih di awang-awang..he.he.h
(paper saya ttg Mindcraft menjelaskan dg detail, permasalahan knoledge
ini..)
Di sini kita bicara dari aspek strategi dan "dorongan motivasi dan
pembentukan pola pikir"
> Mengenai soal bajak-membajak saya rasa sudah menjadi rahasia umum bahwa
> produsen yang produknya dibajak belum tentu tidak senang produknya dibajak.
Yang jadi rahasia umum itu belum tentu benar dan baik...lho.. seperti
banyak mahasiswa menyontek..he.he.h khan nggak benar dan baik, walau sudah
menjadi rahasia umum....
> masih terlalu mahal bagi mereka. Produsen masih tetap diuntungkan karena
> setelah bekerja nanti si mahasiswa tsb dapat merekomendasikan
> software-software yang pernah dipelajarinya ke perusahaan tempat dia bekerja.
Artinya secara "tidak langsung kita telah menjadi korban dalam sitasi ini
yaitu :
- KIta menjadi "sasaran pemasaran" dan akhirnya tergantung dg produk
mereka (di negara maju, vendor harus memberi harga potongan agar
para mahasiswa tertarik memnggunakan produknya, di sini tidak perlu)
- Kita menjadi memiliki "etika yang buruk" yaitu menghalalkan pembajakan,
yang akan mendorong.. kurang berproduktif (ngapain bikin program mending
cari bajakannya..)
- Nama tenaga kerja TI (reputasi) Indonesia buruk, karena dikenal sebagai
pembajak...
Nah kalau kita tetap bersedia "menjadi korban"... ya itu pilihan
masing-masing koq..
IMW
* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Berhenti : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]