On Tue, 25 May 1999, HDT-Hudiantoro wrote:

>==>    Saya setuju dengan pendapat IMW mengenai BERBAGI ILMU DAN
>==>    PENGALAMAN.
Wach...ketinggalan nich diskusinya.....belakangan banyak tugas yg
musti diserahin dan diselesaikan....

>==>    Sekarang ini banyak orang yang individualistis, yang hanya
>==>    mementingkan kepentingan sendiri / kelompoknya saja.
Ini hal yg lumrah....syndrom dari modernisasi

>==>    Ada kalanya bahkan dosen / pengajar / senior   sendiri tidak ringan
>==>    tangan untuk membagi ilmu dan pengalamannya dengan berbagai macam
>==>    pertimbangan dan alasan. 
Ini karena si manusianya takut kalau nanti kalah ilmu...dia engga sadar,
semakin banyak kita ngajar/berbagi ilmu, semakin kita melihat kekurangan
yg ada pada kita dan semakin giat kita mencerna, mengolah dan menggali
ilmu...
Jadi belajar dari problem org lain dan dari ngajarin org lain.

>==>    Padahal dengan berlimpahnya informasi, orang dituntut untuk dapat
>==>memilah-milah mana informasi yang diperlukan dan mana yang tidak dari sekian
>==>banyak informasi yang ada, sementara pada saat yang sama banyak kesibukan /
>==>kegiatan lain yang harus dilakukan. Nah, disinilah letak orang yang tahu /
>==>bisa / mengerti lebih dulu mengenai informasi tertentu dapat berperan besar
>==>dalam membantu yang lainnya. 
Disini kita dituntut utk berpikir kritis dan memasang "filter"

>==>    Lebih bermanfaat orang memiliki sedikit ilmu / pengalaman tapi mau
>==>berbagi / membagi dengan orang lain. Daripada orang tahu banyak /
>==>berpengalaman tetapi pelit / kikir untuk berbagi / membagi ilmunya dengan
>==>orang lain.
Org yg kikir ilmu bakal ngejagrak di ilmu yg dikikirin...
Ingat, bukan dia aja org yg berilmu....setinggi-tinggi burung terbang,
masih ada yg lebih tinggi.....model kaya di dunia kung fu-nya Kho Ping Hoo

>==>    Masalah pokoknya adalah kembali kepada hati nurani, kemauan, dan
>==>yang lebih penting lagi adalah kesadaran bahwa kita hidup di dunia hanya
>==>sementara. Sebagai ilustrasi, mungkin kita dulu pandai dalam hal-hal
>==>tertentu di sekolah, tapi sekarang mungkin kita sudah tidak ingat sama
>==>sekali mengenai hal-hal tersebut. Bukankah akan lebih memberi manfaat bagi
>==>diri kita ( bekal untuk akhirat ) dan bagi orang lain apabila disaat kita
>==>tahu / bisa / paham / ahli dalam hal sesuatu kita membaginya dengan orang
>==>lain yang sedang membutuhkan dengan ikhlash dan senyuman ?
Kalau kita bicara soal akherat sama org bule bisa diketawain kitanya...
Kita musti berpikir, semasa kita masih mampu utk berpikir dan berkarya,
maka kita musti bekerja sama bahu membahu, saling membantu dan saling
mengisi...
Nach bagaimana kita bisa bekerja sama kalo kita udah dari awalnya pelit
dan kikir akan ilmu? 
Bagaimana kita bekerja dalam sebuat team kalo kita pelit akan ilmu kita?
Org model kayak gini adalah org yg musti di reformasikan hehehehehe

>==>    I M W menulis :
>==>    Saya sendiri sekarang lebih berfokus kalau kita ingin membuat maju
>==>    pendidikan, maka kita juga harus melakukan sesuatu.  Tidak bisa
>==>    mengharapkan "hanya orang lain yang melakukan itu".  Sebagai contoh.
>==>    Sekolah di Jerman memang beban di klas kecil, tetapi bacaan di luar
>==>    tersedia banyak, di TV banyak pengetahuan.  Pertanyaannya siapa yang
>==>    menulis...? Ya para orang tua, dosen dll.  
Tapi dijerman atau di negara barat yg hilang juga ada, yaitu komunikasi
antar orang tua dan anak yg semakin lama semakin surut sejalan dengan
usia...Faktor2 ini yg menyebabkan angka bunuh diri di eropa tinggi..!

>==>    Ya kita kita ini, artinya siapapun yang menginginkan pendidikan atau
>==>    bangsa ini maju harus meluangkan waktu untuk "menularkan" ilmu atau
>==>    pengalaman yang dimiliki.  Tanpa itu tidak bisa tercapai, walau
>==>    sebaik
>==>    apapun Universitas, UU PEndidikan, Silabus, atau kurikulumnya.
>==>    Jadi percuma para ahli pendidikan berteriak, sistem kurikulum salah,
>==>    kebijakan salah, tanpa dia sendiri tidak pernah "menyumbangkan"
>==>    pengetahuan secara luas.
heheheheh, typisch manusia...selalu menyalahkan system...
betulnya system apapun yg pernah kita alamin didunia pendidikan itu bagus,
hanya saja penerapan- dan pendalamannya yg belom bagus....

>==>    Sumbangan masyarakat (termasuk alumni yang telah lulus, dan
>==>    mahasiswa,
>==>    serta para dosen) adalah jauh lebih penting. Apalagi pada situasi
>==>    sekarang
>==>    ini.  Sebagai contoh ada suatu milis yang berisi para pakar, tetapi
>==>    para
>==>    pakar itu relatif "sedikit sekali menularkan ilmunya ke masyarakat
>==>    banyak".  Bagaimana orang lain di luar lingkungannya dapat mengambil
>==>    manfaat..?
para alumni dan para guru besar juga enggak ada manfaatnya dalam proses
penularan kalau mereka enggak perduli akan "basis" dari proses pendidikan,
kalau mereka belom memperbaiki manusianya sendiri dan yg paling penting
memperbaiki diri sendiri dalam bersikap...
Mereka ogah mendengar hal2 yg "introduction", "newbie", dan "anfaenger".
Mereka merasa posisinya terlalu tinggi utk mengurusi masalah tsb...

>==>    Jadi jelas kita bisa bertanya...berapa orang yang menulis.menularkan
>==>    pengetahuan yang dimilikinya...???
hehehe, dan berapa org yg tertarik?????? hahahahahahahhahahah
kalo org2nya ogah ditularin yach juga percuma heheheheheh

>==>    Pengetahuan ini bukan dalam konteks kemampuan menguasai suatu
>==>materi,
>==>    tetapi juga termasuk pengalaman ketika dia mempelajari sesuatu,
>==>kegagalan
>==>    ketika dia melakukan sesuatu, keberhasilan, pengamatan dia.. dan
>==>    lain-lainnya.
Mencerna dan bangkit dari suatu kegagalan itu berat dan sakit, apalagi 
mengakui suatu kegagalan...
Apa yg kita lihat dari org2 pada umumnya...jika kita tahu bahwa si A ini
gagal berulang kali?...
Lebih banyak mereka mengejek, menertawakan, mencibirkan dan sejenisnya...
Kenapa kita engga bisa menerima org yg gagal?
Apakah kegagalan itu selalu merupakan tolak ukur dari kemampuan?

>==>    Walau memang kurikulum dan beberapa konsep pengajaran perlu sedikit
>==>di
>==>    adjust (misal memasukkan konsep sosial, etika, dan hukum) pada
>==>pengajaran
>==>    komputer (pembajakan, privacy, dll)  Bukan sebagai mata kuliah yang
>==>    terpisah (saya bisa cerita banyak lain kali soal ini).
>==>    Jadi kalau memang "kita menginginkan" pendidikan baik, maka "do
>==>    something".. jangan cuma meminta orang lain memperbaiki.  Write
>==>something,
>==>    kesuksesan atau kegagalan.  Sehingga orang lain bisa belajar.
>==>    Hanya dengan cara itulah siswa di negara maju bisa dikurangi beban
>==>    sekolahnya.  
Kunci sukses suatu proses adalah proses yg selalu siap utk memulai lagi
jika terjadi kemacetan.
salam
=======================================================================
Herdarmadi Kuswandito             E-Mail : [EMAIL PROTECTED]
Rauchensteinstrasse 6, 5200 Brugg   Tel. : 079 / 639 16 53
Sweetzerland


* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke