On Wed, 26 May 1999, Herdarmadi K. U. wrote:
> Wach...ketinggalan nich diskusinya.....belakangan banyak tugas yg
> musti diserahin dan diselesaikan....
Ada "klausur" nih...??? atau "pruefung". Perlu diketahui sistem ujian di
Jerman ini ada yang "tertulis" (ini belum tentu mudah), ada yang lisan,
ada yang "ngobrol-ngobrol".
> Nach bagaimana kita bisa bekerja sama kalo kita udah dari awalnya pelit
> dan kikir akan ilmu?
Nah di sini yang membedakan antara "kolaborasi/kooperasi" dengan
koordinasi. Rasa ingin "saling membagi" (kayak lagunya Rinto Harahap
aja..he.he.e) harus ada dalam suatu proses kolaborasi.
> Tapi dijerman atau di negara barat yg hilang juga ada, yaitu komunikasi
> antar orang tua dan anak yg semakin lama semakin surut sejalan dengan
> usia...Faktor2 ini yg menyebabkan angka bunuh diri di eropa tinggi..!
Saya amati memang terjadi faktor berkurangnya "ikatan keluarga" dan
komunikasi. Tetapi di keluarga Jerman (atau eropa) belum separah di
Australia. Di sini hubungan "ayah-ibu-anak-nenek-kakek-paman-bibi dll
masih ada". Di Australia hubungan itu hanya tampak pada "keluarga
Italia"... (kayak film mafia, kalau Natalan pada kumpul dan ngebicarain
masalah keluarga.... "mama mia"...)
Saya tidak tahu apakah faktor "lemahnya komunikasi" atau "tekanan hidup
(bukan dalam arti sulitnya hidup, tetapi pencarian arti hidup) yang
membuat angka bunuh diri tinggi. (bisa juga karena adanya kemudahan
peralatan bunuh diri (misal lompat di rel ICE..he.he.eh), atau juga hak
bunuh diri yang ingin dimiliki. (hak bunuh diri termasuk hak azasi
nggak..??)
> Mereka ogah mendengar hal2 yg "introduction", "newbie", dan "anfaenger".
> Mereka merasa posisinya terlalu tinggi utk mengurusi masalah tsb...
Ini memang nampak sekali di kalangan "para pakar" di milis pun terjadi
proses "klusterisasi", yang pinter bergabung dengan yang pinter, yang
newbie bergabung dengan yang newbie. Jarang sekali terjadi proses
"komunikasi" dan penularan kepandaian antar sang "pakar" ke sang "newbie".
> Lebih banyak mereka mengejek, menertawakan, mencibirkan dan sejenisnya...
> Kenapa kita engga bisa menerima org yg gagal?
> Apakah kegagalan itu selalu merupakan tolak ukur dari kemampuan?
Tidak heran "sebagian besar dari penelitian atau karya tulsi di INA"
selalu bertuliskan "metoda yang dikembangkan selalu lebih baik..."
Ini juga disebabkan masyarakat yang belum siap menerima "pengakuan
kegagalan".
> Kunci sukses suatu proses adalah proses yg selalu siap utk memulai lagi
> jika terjadi kemacetan.
(kill -9 proces_id), atau kill -HUP process_id
tanpa Reboot ? ...he.he.h.he
IMW
===========================================================================
I Made Wiryana (0521-106 5328) Universitas Gunadarma - Indonesia
Rechnernetze und Verteilte Systeme http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/made
Universitaet Bielelfeld Check my e-zine :
[EMAIL PROTECTED] http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/majalah
===========================================================================
* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Berhenti : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]