Hai Setiaji, Aku ketinggalan kereta nech.
On 10/9/09, setiaji_kurniawan <[email protected]> wrote: > Aloo miteker, > > Barusan ada ngobrol ngalor ngidul sama temen, isinya soal : > > Seseorang yang napsu di programming, apa harus bisa koding di luar jam > kerja? musti di bedakan antara nafsu atau kejar target? karena menurutku coding di luar jam intinya bisa sama. A. kita bikin error kemudian bugfiixing diluar jam kerja tanpa gaji sambil di tungguin manager :( B. kita ada sampingan (amphibi) coding juga kadang, tapi kadang tidak mood karena tidak ada punishment atau damprat atasan. Yang kamu maksud yang mana ini? > > Kalau kita cuma koding di jam kerja (9:00 - 17:00), di luar itu sudah ngga > megang komputer lagi, apa kita termasuk yang ngga napsu di programming ? menurutku setiap orang pasti menggunakan skala prioritas. Karena pasti ada banyak urusan di luar sana setelah jam kantor usai, Urusan selain urusan koding tentunya. kalo mau urusan koding bakal jadi BT jika terpaksa harus coding tapi kita hanya komputer lemot baru di nyalakan jamnya udah habis. atau fenomena melas,kita baru coding anak kita ngajakin bermain yang sudah menikah pasti tahu rasanya. tahu lagi rasanya kalo di ajakin istri he..he.... pasti tidak bisa nolak :p > Kalau kita koding sampe malem demi ngejar $$$$$ he he he itu namanya napsu > programming atau napsu yg lain ? he he he.... wah kalo yang ini syukur banget apalagi tapi jika kita bugfixing trus di hitung lembur. setahuku perusahaan seperti ini jarang dech. > Semisal kita masuk ke golongan yang napsu, apa kita termasuk 'layak' digaji > gede ? hehehehe..... he..he.. sepertinya kamu salah ambil jurusan. coba banting stir aja ternak duit, (jd pengusaha kemudian kamu menghidupi lebih dari satu orang teknisi / tenaga ahli). Teknisi atau tenaga ahli sema seperti jongosnya cuman lebih keren namanya aja. Kayak aku gini, perbedaanya adalah pada barang yang di pegang yang bagian jobnya berfungsi sebagai orang yang menyelesaikan perkerjaan. Hitungan kinerjanya bukan dari nafsu atau jam kerja yang banyak. akan tetapi seberapa banyak hal yang kamu bisa proses dan dapat di selesaikan dalam hitungan sekian waktu. Bayangkan saja Jika kamu pengusaha. Kamu punya teknisi, kerjanya gak becus sering buat error lalu overtime. deadline molor tidak segera deliver apa kamu akan gaji dia tinggi walaupun itu orang teknisi pinter yang sangat bernafsu :p Jadi tidak cuman butuh pinter bos... The price is How many and How much You can do Your job in a less minute? Kalo kamu menghidupi punya orang dengan skill seperto ini pasti senang, karena dia adalah mesin uang ;) dan kamu dapat tidur dengan tenang. Berapa layak dia kamu gaji. semoga jabaran panjang kali lebar ini bisa menutup rasa penasaranmu. > Maap nih, saya cuma penasaran aja...bantuin jawab ya... :D > > > - setiaji - > Untuk Tanggapan "Kerja bukan cuma ibadah, ibadah hanya bonus saja,.." aku sangat tidak setuju. Kerja sebagai ibadah itu adalah kepuasan pekerja dan pemberi kerja. Kepuasan bathin karena berkerja dengan baik dan bertanggung jawab. Kepuasan karena mengaji orang sesuai dengan skill dan tanggung jawabnya. Berikut ini aku share pengalaman pribadiku, karena aku sudah merasakan rasanya. Aku saat ini menyewa kontraktor untuk suatu perkerjaan, orangnya tidak jujur (tidak mengatakan sebenarnya dan mengurangi informasi yang seharusnya). Cara ambil untungnya adalah dengan berbohong dan mengurangi bahan bangunan. Ketika saya tahu hal seperti ini. Sampai-sampai saya sempat berfikir, apakah ini orang berkerja tidak berniat untuk ibadah? Akhirnya saya dapat memahami dasar dari hadist yg intinya: ".. bahwa tidak boleh mengurangi timbangan... " Kita menawarkan dagangan dengan harga mahal itu halal, Pembeli menawar dagangan itu juga halal. akan tetapi jika kita mengurangi hak/fasilitas/jumlah barang yang seharusnya kita diberikan itu hukumnya haram baik si pembeli tahu maupun tidak tahu. he..he...jadi menurutku kerjan sama dengan berarti ibadah, jika dari kedua sisi sama-sama merasa diuntungkan, tidak ada yang berbuat curang. maaf jika terlalu panjang... semoga tidak boring. Terima Kasih. -- .: Bram Andrian :.
