Wah...Lama tak "berkunjung" ke Milis MITEK bgitu buka milis wah rame banget. 
Baca treadnya Penasaran aja, semakin penasaran jadinya aku. Asik nih ngobrolnya.
Ada juga ya istilah Nafsu program, ternyata tidak aja nafsu makan atau nafsu 
syahwat aja he..he.he.he..he...Pis Ji, Istilah baru ya Mas Setiaji. Responnya 
jg muacem2. Wah teman2 ini sebenarnya sudah layak jadi BOS semua. 


>Seseorang yang napsu di programming, apa harus bisa koding di luar jam kerja? 
>Kalau kita cuma koding di jam kerja (9:00 - 17:00), di luar itu sudah
ngga megang 
>komputer lagi, apa kita termasuk yang ngga napsu di
programming ?


Comment : ya jangan diistilahkan nafsulah Bos...kalau programmer kantor ya 
mungkin dia memang harus lembur karena deadline, tp kalopun ga lembur ya memang 
jam pulang sudah tiba. Ga bisa nyalahin yg pulang  tepat waktu. Daripada 
dimarahi istri. Tp sesekali pulang telat jg gpp. Kalao sbg programmer 
freelance, ya sesuai dengan kemauan dan kemampuan dirinya. Ingat, jam kerja 
programmer kantor dan freelance berbeda. Kalao memang programmer freelance 
kerja diluar jam jam kantor itu wajar bahkan mungkin melebihi (kalo padet 
proyek) kalo sepi ya dinikmati saja utk santai.So, bukan nafsu atau tidak. 

>Kalau kita koding sampe malem demi ngejar $$$$$ he he he itu namanya napsu 
>programming atau napsu yg lain ? he he he....

Sementara ini kalo beli nasi pecel masih pakai Rp Rp Rp Rp...Mungkin kalau 
diperhalus tidak dengan kata napsu gimana Ji ? Kalao kasusnya Misalkan Koding 
karena pekerjaannya saat itu mendekati deadline atau overload dan memang perlu 
lembur ya mungkin bukan nafsu kali ya. Ritme dan culture kerja mungkin masing2 
orang berbeda. Tp yg pentin saling menghormati saja aku kira. 

>Semisal kita masuk ke golongan yang napsu, apa kita termasuk 'layak' digaji 
>gede ? 
>hehehehe.... .
aku comment yg hehehehe dulu : hahahahah juga Ji :D
Wah, dilihat dulu kasusnya. Kalau lembur terus 6 atau 5 hari dalam seminggu, 
sampai larut pagi, sebulan penuh tak henti-henti sampai bertahun-tahun perlu 
dipertanyakan itu ?? Terlalu ekstrem. Ada 2 kemungkinan dia workhardkolic atau 
emang tulalit sampai program ga kelar2 utk nutupi ga bisanya itu dia lembur 
terus. Pantas digaji gedhe atau tidak ya urusan dapur perusahaan. 
Yang tidak pas kebanyakan perusahaan bgini : program diselesaikan tanpa lembur 
dan selesai dlm waktu singkat, BOS menilai bukan kita yg canggih tp wong memang 
programnya mudah kok. (Berarti anda ada pada tempat kerja dan waktu yang tidak 
tepat) . Jadi pandai-pandailah mengkomunikasikan, nah ini jarang seorang 
programmer yang bisa menyampaikan dengan renyah ke BOS , supaya persepsinya 
tidak keliru. Kalo programmer itu justru semakin singkat ngoding semakin 
senior, pasti dia sudah memiliki jam terbang tinggi dan memiliki problem 
solving yang bagus. Kalo budaya di freelance , pokoknya sikat bleh, semakin 
roda berputar lebih cepat dan tepat itu lebih baik. Tinggal ngatur 
persnelingnya saja sesuai medan, asal jangan sampai melebihi kecepatan 
maksimal  yang malah membuat  mesin jadi ngadat ditabrak sana sini. Kacau 
nanti. 
saya kira antara teman2 yg bekerja sbg PNS, di swasta atau wirausaha sendiri 
alangkah indahnya saling bekerjasama. Masing2 memang harus mengisi fungsinya 
ditempat masing2. Banyak teman2 MITEK jadi PNS yg tidak sedikit akhirnya 
bekerjasama dengan freelance utk projectnya, bgitu jg yg teman2 di swasta 
karena kterbatasan waktu eman2 kalo di luar dpt job akhirnya kontak yg 
freelance. Dengan bgitu anda sudah menolong adik2 pengangguran yg dipekerjakan 
oleh freelance. 

Matur nuwun

-Hendrik-

http://hendrikc.blogspot.com
Coding @ Brantas River side
--- Pada Sen, 12/10/09, adams <[email protected]> menulis:

Dari: adams <[email protected]>
Judul: Re: [ MiteK-L ] Penasaran aja..
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 12 Oktober, 2009, 9:49 AM

Gimana dengan kerja model amphibi? jadi karyawan iya, jadi wirausahan 
iya.... Ngoding iya.. nernak iya... :D. Yah nernak ternyata bisa jadi 
obat refreshing kala ngoding udah bikin kepala panas. Aku suka note dari 
P. Erizeli di FB-nya http://www.facebook.com/erizeli.bandaro
Bisa tak nukilkan disini, judulnya wiraswasta:

WIRASWASTA

Berita Kompas hari ini menyebutkan bahwa ada 900,000 sarjana yang 
menganggur. Memang hampir sebagian besar para orang tua yang 
menyekolahkan anaknya , mengharapkan agar kelak anaknya dapat menjadi 
pegawai. Yang pegawai negeri diharapkan jadi pejabat. Yang pegawai 
swasta diharapkan kelak jadi manager atau direktur. Seakan dunia bekerja 
adalah dunia yang menjanjikan masa depan cemerlang. Mungkin karena 
sebagian besar kelompok menengah di Indonesia yang berhasil 
menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi berlatar belakang pegawai. 
Para orang tua hanya mengenal dunia “ Work and Reward “ yang serba 
pasti. Bayangan kehidupan wiraswata yang serba tidak pasti bukanlah 
tempat aman dan harus dihindari kecuali kesempatan kerja sudah tidak ada 
lagi. Ini bawaan yang salah dari generasa yang salah.

Para wiraswasta diabad modern ini bukan lagi penyedia kebutuhan pasar 
tapi mereka pencipta kemakmuran dan perubahan. Sikap mental wiraswasta 
yang tangguh menghadapi kompetisi, kreatifitas yang tinggi serta 
kemampuan mengikuti perubahan adalah asset bangsa yang tak terhingga 
untuk menggiring jutaan rakyat masuk kekelompok menengah. Untuk 
kemakmuran Indonesia , tidak dibutuhakn 10 juta wirawasta tangguh. Cukup 
enam juta wirawasta tangguh dengan bekal pendidikan yang cukup , sudah 
mampu menggiring jutaan rakyat keperingkat menengah. Cobalah hitung, 
bila 6 juta pengusaha ( 3 persen dari jumlahn penduduk ) professional 
itu dapat menarik angkatan kerja sebesar 5 orang per satu unit usaha 
maka jumlah angkatan kerja yang dapat ditampung sebesar 30 juta orang. 
Andai masing masing pekerja itu mempunyai tanggungan 3 orang maka jumlah 
yang dapat hidup dari kehadiran wiraswata unggul itu menjadi 90 juta 
orang atau sama dengan separuh penduduk Indonesia. Pengusaha dengan 
jumlah karyawan sebanyak 5 orang bukanlah perusahaan besar tapi 
perusahaan tergolong menengah kecil. Artinya untuk menciptakan 
kemakmuran kita tidak butuh konglomerat , kita hanya butuh 4 juta 
pengusaha professional berskala kecil tapi tangguh.

Tentu bukan masalah besar bila ada kemauan besar untuk merubah budaya 
jongos menjadi juragan Masalahnya sekarang adalah budaya untuk memilih 
cara aman dan mudah adalah keseharian kita. Budaya berani menghadapi 
ketidak pastian dan bertarung dalam kompetisi meraih peluang sesuatu 
yang langka. Mungkin karena ratusan tahun terjajah dan biasa diperintah 
hingga sangat sulit untuk merubahnya. Padahal dengan system 
demokratisasi anggaran melalui mekanisme deficit sudah sangat jelas 
menegaskan bahwa peran pemerintah/negara tidak lagi sebagai undertaker 
/provider untuk memenuhi semua kebutuhan rakyat. Pemerintah dalam 
konteks demokratisasi hanyalah sebagai regulator dan motivator untuk 
terbentuknya kemakmuran ditengah masyarakat.

Ketika pertumbuhan ekonomi melambat dan angkatan kerja terus meninggkat 
maka kumpulan para sarjana itu bukannya menjadi asset bangsa melainkan 
jadi beban negara yang minus kontribusinya. Mereka terpaksa masuk daftar 
pengangguran dan menjadi masalah social bagi Negara. Maka kitapun marah 
kepada pemerintah karena gagal menyediakan lapangan kerja untuk para 
putra kita yang lulus universitas. Seakan pemerintah kita tempatkan 
sebagai provider untuk ticket meraih masa depan. Padahal pemerintah 
sendiri adalah bagian yang terpasung dari kehadiran rakyat yang selalu 
meminta. Dimanapun , negara itu tidak pernah akan besar bila rakyat 
tidak mampu menjadi pahlawan, baik bagi dirinya sendiri maupun pahlawan 
bagi bangsanya. Itu hanya dimungkinkan dapat ditempuh melalui wiraswasta.

Di China sekarang tercatat jumlah wiraswata mencapai 80 juta orang. 
Sebagian besar mereka tergolong usaha kecil menengah. Sejumlah mereka 
tersebut rata rata menampung 10 orang tenaga kerja per unit usaha atau 
secara total sumbangan pengusaha menengah kecil tersebut terhadap 
penyedia lapangan kerja sebesar 800 juta. Artinya mereka mampu menampung 
seluruh angkatan kerja di china. Hampir 1 milliar penduduk china masuk 
dalam kelompok menengah dengan penghasilan USD 24,000 per tahun. Jumlah 
ini akan terus bertambah dengan semakin gencarnya kampanye pemerintah 
untuk melawan kehadiran pengusaha asing di china agar rakyat china dapat 
menjadi tuan dinegerinya sendiri disegala bidang. Tapi lihatlah daftar 
orang terkaya didunia. Dari 100 orang terkaya didunia tidak ada satupun 
berasal dari China namun peringkat pertama didunia jumlah populasi 
kelompok menengah adalah china.

Padahal kekayaan alam yang dimiliki Indonesia dan letak yang strategis 
diapit oleh dua benua serta berhadapan langsung dengan pacifik yang 
merupakan zona paling pesat pertumbuhan ekonominya adalah potensi yang 
tiada habisnya untuk unggul memanfaatkan peluang usaha disegala bidang. 
Tapi, kita tidak pernah melihat potensi kita kecuali terus berharap 
kemudahan dapat datang tanpa harus mengambil resiko


------------------------------------

================> HAPUS IKLAN DIATAS DAN FOOTER INI JIKA ME-REPLY 
<================
Posting   : [email protected]
Archive   : http://www.mail-archive.com/[email protected]/
        www.mitek.unibraw.ac.id || himamitek.brawijaya.ac.id
************************************************************************************Yahoo!
 Groups Links






      Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke 
Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke