Gimana dengan kerja model amphibi? jadi karyawan iya, jadi wirausahan 
iya.... Ngoding iya.. nernak iya... :D. Yah nernak ternyata bisa jadi 
obat refreshing kala ngoding udah bikin kepala panas. Aku suka note dari 
P. Erizeli di FB-nya http://www.facebook.com/erizeli.bandaro
Bisa tak nukilkan disini, judulnya wiraswasta:

WIRASWASTA

Berita Kompas hari ini menyebutkan bahwa ada 900,000 sarjana yang 
menganggur. Memang hampir sebagian besar para orang tua yang 
menyekolahkan anaknya , mengharapkan agar kelak anaknya dapat menjadi 
pegawai. Yang pegawai negeri diharapkan jadi pejabat. Yang pegawai 
swasta diharapkan kelak jadi manager atau direktur. Seakan dunia bekerja 
adalah dunia yang menjanjikan masa depan cemerlang. Mungkin karena 
sebagian besar kelompok menengah di Indonesia yang berhasil 
menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi berlatar belakang pegawai. 
Para orang tua hanya mengenal dunia “ Work and Reward “ yang serba 
pasti. Bayangan kehidupan wiraswata yang serba tidak pasti bukanlah 
tempat aman dan harus dihindari kecuali kesempatan kerja sudah tidak ada 
lagi. Ini bawaan yang salah dari generasa yang salah.

Para wiraswasta diabad modern ini bukan lagi penyedia kebutuhan pasar 
tapi mereka pencipta kemakmuran dan perubahan. Sikap mental wiraswasta 
yang tangguh menghadapi kompetisi, kreatifitas yang tinggi serta 
kemampuan mengikuti perubahan adalah asset bangsa yang tak terhingga 
untuk menggiring jutaan rakyat masuk kekelompok menengah. Untuk 
kemakmuran Indonesia , tidak dibutuhakn 10 juta wirawasta tangguh. Cukup 
enam juta wirawasta tangguh dengan bekal pendidikan yang cukup , sudah 
mampu menggiring jutaan rakyat keperingkat menengah. Cobalah hitung, 
bila 6 juta pengusaha ( 3 persen dari jumlahn penduduk ) professional 
itu dapat menarik angkatan kerja sebesar 5 orang per satu unit usaha 
maka jumlah angkatan kerja yang dapat ditampung sebesar 30 juta orang. 
Andai masing masing pekerja itu mempunyai tanggungan 3 orang maka jumlah 
yang dapat hidup dari kehadiran wiraswata unggul itu menjadi 90 juta 
orang atau sama dengan separuh penduduk Indonesia. Pengusaha dengan 
jumlah karyawan sebanyak 5 orang bukanlah perusahaan besar tapi 
perusahaan tergolong menengah kecil. Artinya untuk menciptakan 
kemakmuran kita tidak butuh konglomerat , kita hanya butuh 4 juta 
pengusaha professional berskala kecil tapi tangguh.

Tentu bukan masalah besar bila ada kemauan besar untuk merubah budaya 
jongos menjadi juragan Masalahnya sekarang adalah budaya untuk memilih 
cara aman dan mudah adalah keseharian kita. Budaya berani menghadapi 
ketidak pastian dan bertarung dalam kompetisi meraih peluang sesuatu 
yang langka. Mungkin karena ratusan tahun terjajah dan biasa diperintah 
hingga sangat sulit untuk merubahnya. Padahal dengan system 
demokratisasi anggaran melalui mekanisme deficit sudah sangat jelas 
menegaskan bahwa peran pemerintah/negara tidak lagi sebagai undertaker 
/provider untuk memenuhi semua kebutuhan rakyat. Pemerintah dalam 
konteks demokratisasi hanyalah sebagai regulator dan motivator untuk 
terbentuknya kemakmuran ditengah masyarakat.

Ketika pertumbuhan ekonomi melambat dan angkatan kerja terus meninggkat 
maka kumpulan para sarjana itu bukannya menjadi asset bangsa melainkan 
jadi beban negara yang minus kontribusinya. Mereka terpaksa masuk daftar 
pengangguran dan menjadi masalah social bagi Negara. Maka kitapun marah 
kepada pemerintah karena gagal menyediakan lapangan kerja untuk para 
putra kita yang lulus universitas. Seakan pemerintah kita tempatkan 
sebagai provider untuk ticket meraih masa depan. Padahal pemerintah 
sendiri adalah bagian yang terpasung dari kehadiran rakyat yang selalu 
meminta. Dimanapun , negara itu tidak pernah akan besar bila rakyat 
tidak mampu menjadi pahlawan, baik bagi dirinya sendiri maupun pahlawan 
bagi bangsanya. Itu hanya dimungkinkan dapat ditempuh melalui wiraswasta.

Di China sekarang tercatat jumlah wiraswata mencapai 80 juta orang. 
Sebagian besar mereka tergolong usaha kecil menengah. Sejumlah mereka 
tersebut rata rata menampung 10 orang tenaga kerja per unit usaha atau 
secara total sumbangan pengusaha menengah kecil tersebut terhadap 
penyedia lapangan kerja sebesar 800 juta. Artinya mereka mampu menampung 
seluruh angkatan kerja di china. Hampir 1 milliar penduduk china masuk 
dalam kelompok menengah dengan penghasilan USD 24,000 per tahun. Jumlah 
ini akan terus bertambah dengan semakin gencarnya kampanye pemerintah 
untuk melawan kehadiran pengusaha asing di china agar rakyat china dapat 
menjadi tuan dinegerinya sendiri disegala bidang. Tapi lihatlah daftar 
orang terkaya didunia. Dari 100 orang terkaya didunia tidak ada satupun 
berasal dari China namun peringkat pertama didunia jumlah populasi 
kelompok menengah adalah china.

Padahal kekayaan alam yang dimiliki Indonesia dan letak yang strategis 
diapit oleh dua benua serta berhadapan langsung dengan pacifik yang 
merupakan zona paling pesat pertumbuhan ekonominya adalah potensi yang 
tiada habisnya untuk unggul memanfaatkan peluang usaha disegala bidang. 
Tapi, kita tidak pernah melihat potensi kita kecuali terus berharap 
kemudahan dapat datang tanpa harus mengambil resiko


------------------------------------

================> HAPUS IKLAN DIATAS DAN FOOTER INI JIKA ME-REPLY 
<================
Posting   : [email protected]
Archive   : http://www.mail-archive.com/[email protected]/
                www.mitek.unibraw.ac.id || himamitek.brawijaya.ac.id
************************************************************************************Yahoo!
 Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mitek/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mitek/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke