Yup betul pak Herman.
Topik yang saya munculkan adalah untuk membahas business practise tersebut
in general, tidak membahas hanya lowongan yang saya ambil contohnya.
Saya mohon maaf jika pak Ahmad Eka ternyata keberatan lowongan tersebut
saya jadikan pemicu, tidak ada maksud tertentu.
Tadinya saya pikir karena sudah masuk ranah publik (milis) jadi tidak
masalah.

Secara pribadi sebenarnya mengingatkan diri saya bahwa hidup harus lah
seimbang.
Kalau tidak salah mengutip ajaran agama, makan pun harus seimbang, 1/3
perut diisi makanan, 1/3 untuk air, 1/3 untuk udara.

Saya setuju bahwa banyak hal kasuistik yang mempengaruhi kenapa seseorang
bekerja hingga malam hari, seperti yang diungkapkan pak Ahmad Eka dan
mungkin masih banyak lagi sebab2nya.
Juga, sebuah pekerjaan sangat mungkin dan normal jika workload-nya
bervariasi.
Namun, satu hal yang saya cermati, bila sebuah pekerjaan rutin dikerjakan
selama 10 jam sehari dan kadang/sering 12 jam sehari itu jelas tidak
normal.
Selain itu, tidak semua perusahaan mengganjar overtime karyawan dengan uang
lembur.
Bahkan jika pekerja tersebut bekerja sabtu dan minggu. Dan itu fakta.

Untuk itu lah saya mengajak diskusi, karena sebenarnya fenomena ini bisa
dilihat dari banyak sisi/disiplin ilmu.
Rentetan yang sebab dan akibat dari business practise ini cukup banyak.
Namun tidak berarti jika ingin beragumentasi harus mengutip penelitian
ilmiah, jurnal, dsb, saya rasa common sense dan logical reasoning cukup.
Toh hal ini bukan untuk tulisan ilmiah, hanya wacana diskusi.
Terima kasih atas tanggapannya.

Hary
32inter





Herman HP <[EMAIL PROTECTED]>@yahoogroups.com on 05/16/2005 02:40:53 PM

Please respond to [email protected]

Sent by:    [email protected]


To:    [email protected]
cc:     (bcc: Hary Wibowo/IDSUB01/Power/ALSTOM)

Subject:    RE: [mm-ugm] Work and Life Balance (was FW: Lowongan)

Numpang ikutan dong...

Mencermati komentar dari beberapa rekan milis yg lain, saya melihat bahwa
"topik" yang dibahas intinya adalah "tuntutan kerja melebihi waktu
normal/lembur". Dan kebetulan "topik" ini mengemuka dipicu dari forward
lowongan dari salah seorang anggota milis. Jadi pokok bahasannya "tidak"
difokuskan pada perusahaan tsb, ttp lebih kepada kondisi riil yg sering
kita temukan dlm dunia kerja. Dan pokok bahasan tsb bukan juga pada rasa
sreg dan tdk sreg utk melamar di perusahaan ybs. Ini lebih pada diskusi
saja, melatih utk berargumentasi. Masalah apakah milis ini "layak atau tdk,
tepat atau tdk", kita kembalikan kpd rekan milis sekalian.

Menurut pendapat saya, salah satu fungsi milis ini adalah utk bertukar
informasi, termasuk jg informasi ttg lowongan kerja dan juga tempat utk
berdiskusi. Selama diskusi tsb berjalan sehat dan memperhatikan norma-norma
yg ada, saya kira tdk masalah. Toh jika para rekan milis menganggap topik
diskusi tsb tdk tepat, tdk menarik, dls, tentunya tidak ada yg akan
menanggapi. Otomatis diskusi atau posting utk topik tsb akan berhenti dg
sendirinya.

Demikian.
Wassalam,

man's
batch 27
Suherman

Sow a thought and you will reap an act
Sow an act and you will reap a habit
Sow a habit and you will reap a character
Sow a character and you will reap a destiny



Ahmad Eka Prasetia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:



Anda benar, memang email itu ditujukan kepada saya secara informal untuk
mencarikan mungkin teman atau saudara saya yang berminat. Tapi saya malah
fw ke milis ini J
Saya rasa bukan pada tempatnya membahas isu semacam ini disini karena isu
seperti ini seharusnya dibahas terhadap satu situasi yang memang riil,
disertai dengan fakta yang jelas, dsb. Saya rasa untuk bekerja 8 jam
sehari, 9 jam sehari atau 13 jam sehari itu semua pilihan kita. Apakah kita
mau melakukannya atau tidak. Karena kalau bukan kita, siapa yang
mengendalikan ketukan kerjaan kita. Kita memilih menyelesaikan pekerjaan
secara efektif dan efisien sehingga tidak usah lembur terlalu malam atau
kita memang mencari lembur untuk penghasilan tambahan? Kalau ada sebagian
teman-teman yang merasa kurang sreg dengan bekerja 8 â 10 jam sehari
misalnya, ya tidak usah melamar lah (pada kenyataan sampai saat kurang
lebih 10 orang telah melamar posisi tersebut) masih banyak pekerjaan yang
tidak perlu bekerja sampai malam, buka usaha sendiri misalnya.
Jadi kalau ditanya sisi HRDnya benar apa tidak? Saya tidak punya datanya
tuh, tidak punya kontrak kerjanya, tidak punya ketentuan remunerasinya dsb.
Job spec atau job descnya gimana? Ya kembali lagi, kenyataannya seperti apa
pekerjaan yang diberikan.

Orang kerja sampai malam itu ada beberapa type lho :
   1. Orang yang tidak produktif : siangnya kerjaannya biasa aja,
      internetan, santai, bolak balik ke smoking room, malemnya sengaja
      pulang malem untuk menunggu macet reda (plus dapet lemburan)
   2. Orang yang produktif : yang memang pulang malam karena menjaga
      produktivitasnya, misal sengaja pulang agak malam untuk melakukan
      evaluasi kinerja hari ini serta membuat job planning hari berikutnya.
      Atau memanfaatkan waktu untuk melakukan improvement pekerjaannya yang
      tidak sempat dilakukan pada jam kerja normal (lembur bukan untuk
      pekerjaan regular)
   3. Orang yang Workaholic : kalau ini jangan ditanya, saking cinta atau
      menikmati pekerjaan dia rela pulang malam, walaupun dia dibayar lebih
      atau tidak ya dia enjoy saja.

Itu dari sisi pekerja, dari sisi perusahaan bagaimana? Terus terang
perusahaan lebih senang beroperasi sesuai jam kerja berlaku daripada tidak.
Bayangkan kalau misalnya setiap hari ada 100 pekerja dalam satu ruangan,
biaya operasional untuk listrik dan AC   anggap saja perhatinya 1 juta,
akan lebih terkontrol budget perusahaan itu apabila jam kerjanya fixed jadi
perusahaan tersebut dapat melakukan forecast tingkat biaya listrik, telepon
dll per bulannya. Bayangkan kalau harus ada yang lembur sampai malam, misal
sampai 3 atau 4 jam dari waktu normal, dimana pada waktu itu di ruangan
yang sama hanya ada 8 â 10 orang, menggunakan AC, lampu, listrik komputer
dll, tentunya biayanya akan semakin besar bukan? Tidak terkontrol lagi.
Apalagi kualitas pekerjaan dan tingkat produktivitas pekerjaan pada jam-
jam demikian sudah tidak bisa diandalkan lagi.  Jadi bagi perusahaan, lebih
banyak mudharatnya mempekerjakan karyawan di luar jam kerja daripada
mempekerjakannya di jam kerja normal.

Hanya itu, moral hazard yang biasa dilakukan sebagian karyawan, mereka
lebih menikmati lembur daripada berkumpul di rumah dengan keluarga apapun
alasannya. Walaupun perusahaannya telah meng encourage karyawan untuk tidak
sering2 bekerja lembur dengan melakukan pembatasan. Dan itu kisah nyata
yang terjadi di tempat saya.

Jadi kesimpulannya? Ya semua kita kembalikan kepada masing-masing pihak.
Tapi akan lebih mudah kita bahas dan diskusikan bila didukung data dan
fakta yang komprehensif

Thank you

Ahmad Eka Prasetia
MM Exe II - Jakarta


Do you Yahoo!?
Make Yahoo! your home page

Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan
penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***


Yahoo! Groups Links
      To visit your group on the web, go to:
      http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/

      To unsubscribe from this group, send an email to:
      [EMAIL PROTECTED]

      Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/Tcy2bD/SOnJAA/cosFAA/ExDolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan 
penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION *** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke