Wah setelah baca selintas bahwa yang dibahas masalah MSDM, saya jadi tertarik, karena bidang ini sejak saya lulus MM angkatan pertama, sebagai bagian dari pekerjaan yang saya geluti hingga sekarang. Walaupun sebenarnya saat kuliah, karena yang ngajar, bikin ngantuk, MSDM saat itu adalah pelajaran yang kurang favourite. ...... Jadi adik2 Mahasiswa, pesdan saya belajar MSDM sungguh2, karena sangat penting. Demo2 pekerja, termasuk PHK besar2an di PTDI, adalah karena masalah MSDM nya tidak jalan, dan Direksinya tidak mengerti MSDM secara baik. Termasuk Menteri DepNaker nya kalau tetap ngotot UU Naker yang bermasalah, semua karena kurang kuasai MSDM. Semua yang berhubungan dengan SDM, harus di pikir, & diselesaikan secara menyeluruh, kepala dinggin, dan memmikirkan berbagai aspek. Karena masalahnya sangat kompleks.
Bila sekedar hanya mengacu pada UU Ketenaga Kerjaan:
Pekerja hanya boleh / diijinkan bekerja: Kerja Siang hari = 40 jam tanpa lembur per minggu. Kerja malam = 35 jam per minggu.
Lembur maksimal yang diijinkan = 20 jam per minggu. Bila lebih ==> melangar.
Siapa yang dianggap pekerja atau siapa yang terkena aturan ini ? Semua yang bukan level Penentu kebijakan.
Nah sampai di sini baru berkembang = Karena ada perusahaan yang menganggap Supervisor di perusahaan, sudah sebagai penentu kebijakan di levelnya, sehingga level supervisor, sudah tidak ada kebijakan lembur. Ada yang level junior manajer, dan ada yang mulai pada level Manajer (kalau ini wajar lah).
Intinya:
Kalau dalam struktur gaji jabataannya, dia tidak ada tunjangan lembur, maka berarti (seharusnya), dia juga tidak dikenakan kewajiban masalah absensi. Karena pada dirinya (jabatannya), yang lebih dipentingkan pada dirinya adalah: Penyelesaian Pekerjaannya (yang dapat dilakukan di mana saja, tidak tergantung, harus di kantor). Nah berarti pada posisi inilah tidak berlaku lembur. Dan sebagai kompensasi dari lembur2 yang mungkin dilakukan olehnya (biasanya malah lebih banyak) adalah Tunjangan Lembur, yang berlaku lumpsum (tidak dihitung satuan).
Kebijakan ini sejalan dengan teori Maslow, orang yang biasanya ribut masalah lembur (apapun alasannya, baik yang mengungkap pemerasan tenaga yang tidak manusiawi dsb), biasanya pada level dasar dari Maslow (maksimal pada level ke 2 dari Maslow). Level ke 3, biasanya sudah tidak ribut masalah lembur, kepuasan lain lebih penting dari pada sekedar uang lembur jam2an. Semua sah2 saja, dan itu semua manusiawi sekali (sesuai dengan penelitian Maslow, terhadap kebutuhan dasar manusia).
Nah kalau posisi kita di atas apalagi sebagai Direksi dan Pemilik, kadang2 beberapa haripun kita tidak tidur. Karena orientasinya bukan lagi uang lembur, tetapi bagaimana perusahaannya dapat tetap berjalan, karena menyangkut hidup karyawan2nya / anakbuahnya.
Segitu dulu, nanti kalau ada topik yang lain dan menyentuh, saya akan ikut lagi.
Sebagai sebuah renungan:
Beberapa ekor semut di atas tubuh Gadjah yang mati, dan seekor kelinci yang berada 4 meter dari tubuh Gadjah yang mati tersebut, akan menyebutkan ciri2 Gadjah dalam berbagai perbedaan, baik bentuk bau, dan suasananya.
Walaupun tidak punya niat untuk saling menjatuhkan, tetapi karena memang pengalaman yang berbeda, mengakibatkan sudut pandangnya juga berbeda.
Dan kalau kelinci yang jauh dari Gajah, mempunyai gambaran paling berbeda dari semut2 yang ada di atas tubuh gadjah, bukan berarti karena kelinci lebih mulia dari semut. Tetapi, karena posisi kelinci lebih jauh dari gadjah, sehingga bisa melihat Tubuh Gadjah secara lebih utuh. Walaupun untuk masalah 'bau' nya gadjah, mungkin para semut lebih detail dan mendekati, karena mereka yang langsung bersinggungan.
Dan kalau kelinci yang jauh dari Gajah, mempunyai gambaran paling berbeda dari semut2 yang ada di atas tubuh gadjah, bukan berarti karena kelinci lebih mulia dari semut. Tetapi, karena posisi kelinci lebih jauh dari gadjah, sehingga bisa melihat Tubuh Gadjah secara lebih utuh. Walaupun untuk masalah 'bau' nya gadjah, mungkin para semut lebih detail dan mendekati, karena mereka yang langsung bersinggungan.
Pesan saya:
Jalankan saja peran anda, sesuai Qodar yang telah berikan pada and, apakah sebagai pekerja, supervisor, Junior Manajer, Manajer, Direktur dan sebagainya.
Wassalaaaam, AA
Ahmad Eka Prasetia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Btw, Saya sama sekali tidak keberatan kalau email saya sebelumnya jadi
pemicu. Yang disayangkan apabila kita hanya membahas berdasarkan email
itu saja karena :
1. sifatnya informal bukan dari institusi
2. Paket remunerasinya tidak kita ketahui, apa ada lembur atau tidak,
ada tunjangan lainnya untuk kompensasi lembur atau tidak
3. Pekerjaan yang ditawarkan, apakah itu rutin atau sesekali saja
seperti halnya bagian accounting yang pulang malam pada akhir bulan
karena mengejar tenggat closing.
4. Corporate culture nya bagaimana, kebijakan perusahaannya terhadap
lembur seperti apa kita tidak tahu pasti
Sehingga apabila kita bahas, banyak asumsi-asumsi yang saya khawatir
akan berimbas kepada pembentukan opini bahwa semua pengusaha/perusahaan
membenarkan bekerja lembur atau memeras pikiran atau tenaga pekerjanya.
Padahal tidak bisa kita katakan seperti itu juga. Karena banyak
perusahaan juga yang lebih mementingkan pekerjanya untuk bekerja secara
seimbang, memperhatikan keluarganya, memberikan tunjangan-tunjangan dll.
Memberikan waktu bersama keluarga dengan mengadakan event2 yang
melibatkan anggota keluarga pekerja, dsb.
Saya rasa diskusi akan lebih menarik lagi bila kita mengarahkan juga
kepada perilaku pekerjanya juga, yang lebih jauh dapat dijadikan input
bagi rekan-rekan sebagai professional di bidangnya. Saya yakin dengan
kapasitas dan kapabilitas rekan2, rekan2 bisa mengatur,
mengorganisasikan waktu dan pekerjaan sehingga bisa sukses dalam
pekerjaan tanpa harus mengorbankan keluarga. Karena yang memiliki
kendali terhadap stress tidaknya seseorang ya orang itu sendiri, apakah
dia memilih untuk bekerja stress atau bekerja efektif dan efisien?
Saya rasa kita setuju kalau berdasarkan best practice, corporate yang
baik harus memberikan beban seimbang kepada pekerjanya, selain
memanfaatkan potensi yang dimiliki pekerjanya, mereka juga harus
diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri, meluangkan waktu buat
keluarga bahkan memberikan jaminan kepada keluarga pekerja.
Dan saya berharap kepada rekan2 alumni MM untuk menjadi change agent di
masing2 institusinya untuk menerapkan best practice tersebut, kalau
memang tidak bisa karena suatu hal, mencoba jalani dan cintailah
pekerjaanmu, kalau tidak bisa, cari yang lain, come on you're all mm
graduates, I believe many big corporate will beg you to join them.
Regards
Ahmad Eka Prasetia
MM Exe II-Jakarta
-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, May 17, 2005 8:59 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [mm-ugm] Work and Life Balance (was FW: Lowongan)
Yup betul pak Herman.
Topik yang saya munculkan adalah untuk membahas business practise
tersebut
in general, tidak membahas hanya lowongan yang saya ambil contohnya.
Saya mohon maaf jika pak Ahmad Eka ternyata keberatan lowongan tersebut
saya jadikan pemicu, tidak ada maksud tertentu.
Tadinya saya pikir karena sudah masuk ranah publik (milis) jadi tidak
masalah.
Secara pribadi sebenarnya mengingatkan diri saya bahwa hidup harus lah
seimbang.
Kalau tidak salah mengutip ajaran agama, makan pun harus seimbang, 1/3
perut diisi makanan, 1/3 untuk air, 1/3 untuk udara.
Saya setuju bahwa banyak hal kasuistik yang mempengaruhi kenapa
seseorang
bekerja hingga malam hari, seperti yang diungkapkan pak Ahmad Eka dan
mungkin masih banyak lagi sebab2nya.
Juga, sebuah pekerjaan sangat mungkin dan normal jika workload-nya
bervariasi.
Namun, satu hal yang saya cermati, bila sebuah pekerjaan rutin
dikerjakan
selama 10 jam sehari dan kadang/sering 12 jam sehari itu jelas tidak
normal.
Selain itu, tidak semua perusahaan mengganjar overtime karyawan dengan
uang
lembur.
Bahkan jika pekerja tersebut bekerja sabtu dan minggu. Dan itu fakta.
Untuk itu lah saya mengajak diskusi, karena sebenarnya fenomena ini bisa
dilihat dari banyak sisi/disiplin ilmu.
Rentetan yang sebab dan akibat dari business practise ini cukup banyak.
Namun tidak berarti jika ingin beragumentasi harus mengutip penelitian
ilmiah, jurnal, dsb, saya rasa common sense dan logical reasoning cukup.
Toh hal ini bukan untuk tulisan ilmiah, hanya wacana diskusi.
Terima kasih atas tanggapannya.
Hary
32inter
Herman HP <[EMAIL PROTECTED]>@yahoogroups.com on 05/16/2005 02:40:53 PM
Please respond to [email protected]
Sent by: [email protected]
To: [email protected]
cc: (bcc: Hary Wibowo/IDSUB01/Power/ALSTOM)
Subject: RE: [mm-ugm] Work and Life Balance (was FW: Lowongan)
Numpang ikutan dong...
Mencermati komentar dari beberapa rekan milis yg lain, saya melihat
bahwa
"topik" yang dibahas intinya adalah "tuntutan kerja melebihi waktu
normal/lembur". Dan kebetulan "topik" ini mengemuka dipicu dari forward
lowongan dari salah seorang anggota milis. Jadi pokok bahasannya "tidak"
difokuskan pada perusahaan tsb, ttp lebih kepada kondisi riil yg sering
kita temukan dlm dunia kerja. Dan pokok bahasan tsb bukan juga pada rasa
sreg dan tdk sreg utk melamar di perusahaan ybs. Ini lebih pada diskusi
saja, melatih utk berargumentasi. Masalah apakah milis ini "layak atau
tdk,
tepat atau tdk", kita kembalikan kpd rekan milis sekalian.
Menurut pendapat saya, salah satu fungsi milis ini adalah utk bertukar
informasi, termasuk jg informasi ttg lowongan kerja dan juga tempat utk
berdiskusi. Selama diskusi tsb berjalan sehat dan memperhatikan
norma-norma
yg ada, saya kira tdk masalah. Toh jika para rekan milis menganggap
topik
diskusi tsb tdk tepat, tdk menarik, dls, tentunya tidak ada yg akan
menanggapi. Otomatis diskusi atau posting utk topik tsb akan berhenti dg
sendirinya.
Demikian.
Wassalam,
man's
batch 27
Suherman
Sow a thought and you will reap an act
Sow an act and you will reap a habit
Sow a habit and you will reap a character
Sow a character and you will reap a destiny
Ahmad Eka Prasetia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Anda benar, memang email itu ditujukan kepada saya secara informal untuk
mencarikan mungkin teman atau saudara saya yang berminat. Tapi saya
malah
fw ke milis ini J
Saya rasa bukan pada tempatnya membahas isu semacam ini disini karena
isu
seperti ini seharusnya dibahas terhadap satu situasi yang memang riil,
disertai dengan fakta yang jelas, dsb. Saya rasa untuk bekerja 8 jam
sehari, 9 jam sehari atau 13 jam sehari itu semua pilihan kita. Apakah
kita
mau melakukannya atau tidak. Karena kalau bukan kita, siapa yang
mengendalikan ketukan kerjaan kita. Kita memilih menyelesaikan pekerjaan
secara efektif dan efisien sehingga tidak usah lembur terlalu malam atau
kita memang mencari lembur untuk penghasilan tambahan? Kalau ada
sebagian
teman-teman yang merasa kurang sreg dengan bekerja 8 - 10 jam sehari
misalnya, ya tidak usah melamar lah (pada kenyataan sampai saat kurang
lebih 10 orang telah melamar posisi tersebut) masih banyak pekerjaan
yang
tidak perlu bekerja sampai malam, buka usaha sendiri misalnya.
Jadi kalau ditanya sisi HRDnya benar apa tidak? Saya tidak punya datanya
tuh, tidak punya kontrak kerjanya, tidak punya ketentuan remunerasinya
dsb.
Job spec atau job descnya gimana? Ya kembali lagi, kenyataannya seperti
apa
pekerjaan yang diberikan.
Orang kerja sampai malam itu ada beberapa type lho :
1. Orang yang tidak produktif : siangnya kerjaannya biasa aja,
internetan, santai, bolak balik ke smoking room, malemnya sengaja
pulang malem untuk menunggu macet reda (plus dapet lemburan)
2. Orang yang produktif : yang memang pulang malam karena menjaga
produktivitasnya, misal sengaja pulang agak malam untuk melakukan
evaluasi kinerja hari ini serta membuat job planning hari
berikutnya.
Atau memanfaatkan waktu untuk melakukan improvement pekerjaannya
yang
tidak sempat dilakukan pada jam kerja normal (lembur bukan untuk
pekerjaan regular)
3. Orang yang Workaholic : kalau ini jangan ditanya, saking cinta
atau
menikmati pekerjaan dia rela pulang malam, walaupun dia dibayar
lebih
atau tidak ya dia enjoy saja.
Itu dari sisi pekerja, dari sisi perusahaan bagaimana? Terus terang
perusahaan lebih senang beroperasi sesuai jam kerja berlaku daripada
tidak.
Bayangkan kalau misalnya setiap hari ada 100 pekerja dalam satu ruangan,
biaya operasional untuk listrik dan AC anggap saja perhatinya 1 juta,
akan lebih terkontrol budget perusahaan itu apabila jam kerjanya fixed
jadi
perusahaan tersebut dapat melakukan forecast tingkat biaya listrik,
telepon
dll per bulannya. Bayangkan kalau harus ada yang lembur sampai malam,
misal
sampai 3 atau 4 jam dari waktu normal, dimana pada waktu itu di ruangan
yang sama hanya ada 8 - 10 orang, menggunakan AC, lampu, listrik
komputer
dll, tentunya biayanya akan semakin besar bukan? Tidak terkontrol lagi.
Apalagi kualitas pekerjaan dan tingkat produktivitas pekerjaan pada jam-
jam demikian sudah tidak bisa diandalkan lagi. Jadi bagi perusahaan,
lebih
banyak mudharatnya mempekerjakan karyawan di luar jam kerja daripada
mempekerjakannya di jam kerja normal.
Hanya itu, moral hazard yang biasa dilakukan sebagian karyawan, mereka
lebih menikmati lembur daripada berkumpul di rumah dengan keluarga
apapun
alasannya. Walaupun perusahaannya telah meng encourage karyawan untuk
tidak
sering2 bekerja lembur dengan melakukan pembatasan. Dan itu kisah nyata
yang terjadi di tempat saya.
Jadi kesimpulannya? Ya semua kita kembalikan kepada masing-masing pihak.
Tapi akan lebih mudah kita bahas dan diskusikan bila didukung data dan
fakta yang komprehensif
Thank you
Ahmad Eka Prasetia
MM Exe II - Jakarta
Do you Yahoo!?
Make Yahoo! your home page
Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan
penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***
Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/
To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
Service.
Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan
penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***
Yahoo! Groups Links
Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
Yahoo! Mobile
- Download the latest ringtones, games, and more!
Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***
Yahoo! Groups Links
http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/
[EMAIL PROTECTED]
