As Salamu 'alaikum wr. wb.,
As Salamu 'alaa manit-taba'al Hudaa.

Rekan-rekan sekalian,

Kisruh Three Parties telah menyedot banyak energi, perhatian, waktu kita semua. 

Sengaja saya sebut Three Parties, karena memang sebenarnya bukan hanya KPK dan 
Polisi saja yg terlibat dan melakukan konflik, Kejaksaan pun juga punya andil 
atau saham dalam kekisruhan tsb. Bila disebutkan Cicak vs Buaya, lantas 
Kejaksaan jadi apa? Dipanggil/disebut sebagai apa? Pertanyaan ini tdk penting 
dan tdk perlu dijawab. Setidaknya itu menurut saya pribadi.

Sangat tidak bijak bila kita menjadi orang-orang yg apatis, cuek, terkesan tdk 
peduli atau EGP dgn kekisruhan tsb. Bagaimana pun kekisruhan tsb akan berdampak 
thd negara kita, bangsa kita, masyaakat kita, lingkungan kita, rumah tangga
 kita, bahkan ke kita sendiri. Baik langsung, mau pun tidak langsung.

Tapi kurang bijak pula bila hidup kita pd saat ini seolah-olah hanya demi 
'melayani' drama kekisruhan tsb. Seolah-olah tidak topik dan kegiatan lain yg 
penting, selain kasus Three Parties tsb. Sampai teman di komplek rumah berkata, 
"Dah jangan ngomongin KPK mulu, urusan dah urusan kita, kita juga punya hajat. 
Bukan cuma KPK yg punya hajatan."

Saya tertarik dgn beberapa komentar dan masukan di beberapa media dan 
komunitas, terutama dari Rumah Ilmu, Tarbawi, dan Majelis Rasulullah, plus juga 
dari Mualaf Indonesia. Karena itu saya memutuskan mencoba memberikan pendapat 
saya thd kasus ini.

Saya tertarik sekali dgn komentar di milis Rumah Ilmu, yaitu Apa hikmahnya yg 
kita dapatkan dari kasus ini? Saya coba memberikan kira-kira Lesson-learned apa 
yg bisa kita petik dari kasus tsb, dgn
 berdasar ilmu dan pemahaman serta pengalaman yg saya punya, sebagai IT 
Trainer, terutama terkait konsep IT dan juga sedikit ke Manajemen atau 
soft-skill lainnya. Sehingga ada warna dan perspektif lain yg lebih mencerahkan.

Semoga bermanfaat.Mohon koreksi dan masukannya, sehingga ilmu dan pemahaman 
kita sama-sama bertambah, sehingga bertambah bijak.

Berikut ini Lesson-Learned yg mungkin bisa kita petik:

1. Responsibility Assignment Matrix (RAM) - RACI Model dan yg sejenisnya.

Sudah mafhum bahwa aparat penegak hukum pada dasarnya adalah kepolisian dan 
kejaksaan. Namun karena kinerja yg rendah, terutama dalam penanganan kasus 
koruspi, maka dibentuk superbody, yaitu KPK.

Di sini secara sekilas bisa diketahui akan mengundang konflik, terutama karena 
tumpang-tindihnya wewenang dan tanggung jawab.

Untuk menghindari atau minimal mengurangi terjadinya konflik karena 
tumpang-tindih tsb, maka sebenarnya dalam
 ilmu manajemen, terlebih terkait topik Governance, maka dipetakan wewenang dan 
tanggung jawab tersebut dalam suatu matrik - Responsibility Assignment Matrix. 
Matrik yg paling populer adalah matrik RACI (Responsible, Accountable, 
Consulted, Informed). 

Apa pun jenis matriknya, prinsipnya sederhana, yaitu harus jelas siapa yg 
bertanggung jawab. Harus ada dan hanya ada 1 pihak yg bertanggung jawab. Tidak 
boleh tidak ada atau tidak boleh ada lebih dari 1 penanggung jawab. Kalau sudah 
jelas alurnya, maka sangat mudah dalam proses koordinasi dan 
pertanggung-jawaban. 


Ada pertanyaan, bukankah sudah ada deskripsi uraian wewenang-tanggung jawab, 
bahkan tertulis dalam undang-undang. Mestinya tdk butuh lagi dong?! 

Jawabannya adalah dalam bentuk narasi, orang cenderung kurang peduli atau 
kurang perhatian. Atau cenderung bingung. Dan narasi yg dibuat cenderung kurang 
deskriptif, kurang spesifik. Apalagi bila ada yg berniat membuat pasal karet yg 
tdk jelas dan cenderung bermain 'Taichi Master', melempar-lempar tanggung jawab 
ke pihak lain karena kaburnya pasal tsb (gray area).

Karena itu harus ada bentuk sederhana, mudah dicerna, tetapi tegas bin lugas, 
ringkasan dan visualisasi suatu konsep. Dalam hal ini metode yg dipakai adalah 
Matrik. Dan ini praktek umum dalam ilmu manajemen.

Kita tidak tahu apakah para petinggi negara kita concern dgn issue ini, dan 
sudah (mulai) membuat matrik semisal ini. Semoga mereka cepat membuat matrik 
tsb.

2. Visualisasi Scope - Work Breakdwon Structure dan Mind-Map.

Salah satu sumber konflik Three Parties tsb adalah (dgn tetap berbaik-sangka 
kpd 3 institusi tsb) ketidakjelasan ruang lingkup pekerjaan dan saling tumpang 
tindih. 

Saya curiga...bahwa diluar masalah ada konflik personal, karakter yg 
kurang/tidak baik, kurang/tidak adanya niat itikad baik dari oknum-oknum yg 
tersebar di 3 institusi tsb... sebenarnya jangan-jangan salah satu sumber 
masalahnya adalah karena oknum tsb kurang paham apa yg menjadi pekerjaannya, 
atau apa yg bukan pekerjaannya. Sehingga terjadi konflik. Dan ini rasanya 
masalah klasik di mana-mana.

Maka perlu suatu teknik dan tools utk mengurangi masalah ini. Solusinya adalah 
Visualisasi Scope.

Menyambung poin pertama, penting
 sekali membuat visualisasi suatu konsep, seperti diagram atau peta. Apalagi 
ada ujaran "1 gambar 1000 makna". Karena itu sebenarnya sangat penting membuat 
visualisasi scope pekerjaan yg kita buat.

Dalam Ilmu Project Management, ada teknik sekaligus tools utk membantu memahami 
suatu scope (ruang lingkup), yaitu dengan membuat Work Breakdown Structure 
(WBS). Pendekatannya adalah teknik dekomposisi, pemilahan/pemecahan suatu 
konsep dgn teknik top-down. 

Dalam diagram WBS dapat membantu menjelaskan dgn ruang lingkup pekerjaan secara 
keseluruhan, dan juga jelas apa yg include (masuk ruang lingkup) dan apa yg 
exclude (tdk masuk ruang lingkup).

Bahkan dgn teknik kontemporer Mind-Map, diagram visualisasi konsep yg sangat 
mudah dicerna karena sesuai dgn pola kerja otak manusia (karena itu disebut 
juga Brain-Map) bisa dapat
 lebih membantu. 

3. Escalation Matrix.


Lambannya penanganan kasus korupsi, termasuk juga penanganan kekisruhan ini, 
mungkin menandakan kurang atau tidak adanya Escalation Matrix. Walau bisa jadi 
juga bukan tdk ada Escalation Matrix, melainkan tdk dijalankan dgn baik dan 
benar.

Penting sekali untuk membuat Escalation Matrix dalam penanganan masalah, 
terlebih yg sangat krusial. Saya rasa korupsi termasuk masalah yg krusial di 
negara ini, dan harus ada Escalation Matrix thd masalah ini.

Seperti kapan Presiden harus bergerak dan bertindak secara riil (jangan hanya 
normatif), kapan bisa didelegasikan kpd bawahannya (KPK-Kepolisian-Kejaksaan). 
Atau seperti sejauh apa dan sampai kapan masalah ditangani oleh Three Parties 
tsb, lalu kapan harus dieskalasi ke Presiden, dsb.

Di dunia IT Operation dan Manajemen Operasional, konsep Incident Management, 
Problem Management dan Escalation Matrix merupakan
 keharusan dan telah terbukti keefektifannya. Mengapa Birokrasi Negara ini tdk 
menirunya?

4. Work Journal/Diary.


Saya tdk tahu apakah Birokrat negara ini harus dan/atau biasa rutin membuatkan 
laporan kerja harian. Bila ada, maka mudah utk dilakukan audit, analisa, dan 
pembelajaran thd segala yg terjadi di pemerintahan kita. Juga akan lebih mudah 
utk menangani masalah Korupsi dan juga kekisruhan Three Parties tsb.

Mirip dgn praktek para Kapten Nahkoda suatu Kapal Laut...Praktek ini umum di 
dunia Software House, juga Konsultan, serta dunia pendidikan. Mereka 
mempraktekkan, karena tahu pentingnya dokumentasi kegiatan, terutama utk 
pembelajaran dan troubleshooting.

Istri saya yg pernah menjadi guru di salah satu Playgroup dan TK, mengatakan 
bahwa porsi kerjaan terbesar mereka adalah membuat laporan pekerjaan harian 
terhadap kegiatan mereka mengajar, agar jelas apa yg telah dilakukan dan apa 
hasilnya.

Mungkin cocoknya
 diterapkan pd DPR dulu kali ya, biar mereka tdk suka terlelap di rapat, dan 
juga mereka terbiasa dgn budaya tulis-menulis, sehingga kosa kata mereka 
membaik dan lancar berpidato, jarang salah sebut, dan bisa baca teks pidato 
(maaf...agak menyimpang, ini hanya sedikit curahan hati yg kecewa :-P )

5. Conflict Management.




Salah satu sebab berlarutnya masalah di negara ini, adalah karena kurang 
tepatnya penanganan konflik di negara ini. Sering kali didiamkan, dibiarkan 
liar beredar di media massa, bercampur dgn banyaknya manipulasi info dari 
berbagai tangan....setelah meledak, baru mulai ditangani.

Atau di sisi lain, sering begitu muncul konflik, langsung ditangani dgn 
ototeriter, ketuk palu. Bahasa kerennya adalah pendekatan Win-Lose.

Dalam ilmu manajemen, berdasarkan best practices konflik sebaiknya ditangani 
dgn pendekatan Problem Solving dahulu, yaitu mengkonfrontasi semua argumen dan 
pendapat, dicari yg terbaik dan efektif (bukan yg terkuat dari segi politis). 
Bila tdk bisa, baru turun ke pendekatan yg lain, seperti Kompromi 
(Take-and-Give) dan Smoothing. Arbitrase (Win-Lose) dan Pendiaman (Withdrawal) 
adalah opsi terakhir. 

Pendekatan ini
 sangat bertolak-belakang yg biasa terjadi di antara kita, entah di level 
negara, bangsa, hingga ke masyarakat dan rumah. Biasanya didiamkan atau ketok 
palu, lalu pd saat memanas baru coba smoothing dan kompromi. Setelah kusut 
buanget dan semua tdk puas, baru dicari Problem Solving nya. Hasilnya konflik 
sering merambah ke area personal dan emosional, sehingga sulit berpikir jernih. 
Ini bisa dimaklumi, lantaran sudah kadung kecewa....kekecewaan hasil akumulasi 
perjalanan waktu yg ditemani dgn ketidakpastian penanganan konflik.


6. Change Management (People Side).


Issue Korupsi dan yg lainnya, merupakan salah satu dari masalah yg mentrigger 
Change Management. Change Management hanya efektif bila memahami sisi personal 
yg terkena dampak atau terlibat perubahan tsb.

Di luar kajian psikologi, mental, motivasi....setiap orang secara umum bisa 
berubah bila sudah melewati tahapan berikut: Bangun Awareness, Cek dan 
klasifikasi Desire, lalu berikan Knowledge (biasanya melalui training dan 
edukasi), kemudian cek dan latih Ability, terakhir Reinforce. Ini disebut model 
ADKAR (dikembangkan oleh PROSCI).

Bila key person tdk menjalani model ADKAR dgn baik, maka sulit utk mengharapkan 
mereka jadi agen perubah
 bawahannya dan institusinya. Sulit kali menerapkan perubahan tsb secara 
efektif.

Sepertinya PR besar para petinggi utk mulai meng-ADKAR kan dirinya dahulu, 
lalau anak buahnya di level supervisi, baru kemudian di level operasional, 
sehingga perubahan bisa berjalan dgn baik...tdk sebatas normatif, tdk sebatas 
pidato rutin tiap rapat belaka...yg nyaris tdk ada progressnya.

7. Pembentukan & Pembenahan Karakter.

Karakter terbentuk dari kebiasaan. Kebiasaan terbentuk dari konsumsi teladan 
dan berita.

Bila setiap hari kita disuguhi informasi negatif, yg kurang konstruktif, tdk 
jauh dari intrik, gosip, pola hidup konsumptif, dan sebagainya, bagaimana 
mungkin kita bisa berubah.

Perlu ada program pembentukan dan pembenahan karakter yg terintegrasi, dari 
lingkungan rumah, sekolah,
 masyarakat, hingga level institusi.

Dan ini dimulai dari kampanye model orang dan komunitas yg berintegritas 
tinggi, lurus, bersih secara konsisten dan berkesinambungan. Ceritakan model 
tsb dlm ruang lingkup cerita/dongeng/kisah sehari-hari....dalam bentuk berita 
sehari-hari...dalam bentuk model pembelajaran studi kasus. 

Saya yakin masih ada walau seperti barang tambang, perlu digali sebelum bisa 
dipublikasikan.

Bukan bombardir info selebriti dan para 'tokoh' yg lazim kita temui.... yg 
cenderung kurang konstruktif serta terlalu bombastis, sehingga selalu menyedot 
energi dan waktu kita hanya utk mengikuti berita, tanpa tidak nyata. Bahkan 
cenderung mencuci otak, menghipnotis kita, sehingga kita tanpa sadar diprogram 
utk latah seperti mereka.

Pihak media massa, pendidik dan pengajar, serta para jurnalis dan 
pengarang/sastrawan punya porsi besar dalam hal
 ini.

Lalu perlu ada bimbingan konselling agar orang bisa berubah dan mempunyai 
karakter yg baik. 

Praktisi pendidikan, psikologi dan yg sejenisnya punya andil yg besar.

Konsep Multiple Intelligence, Holistik Learning, Sekolah Alam, Emotional & 
Spiritual Quotient, Neuro-Linguistic Programming dan yg sejenisnya bisa 
diterapkan utk membantu boosting pembentukan karakter yg baik dan unggul. Dan 
tentunya harus embedded nilai moral luhur dan agama di dalamnya.


8. 4 Pilar penyelamat.

Saya teringat suatu hikmah yg luhur yg saya dapat infonya dari Tarbawi dan 
Majelis Rasulullah, dan saya pernah baca di Kalendar Islam tahun lalu (cetakan 
GIP)....yg menyatakan bahwa tegaknya atau selamatnya suatu kaum, karena 4 hal: 
Pemerintah yg Adil, Ilmunya Cendekiawan/Ulama, Dermawannya Hartawan,
 Doanya orang lemah.

Maka setiap kita perlu mengoptimalkan segala potensi yg kita punya di empat hal 
tsb. 

Kita yg punya potensi atau sudah memiliki posisi di pemerintahan, harus gigih 
berjuang menyelamatkan negara ini dari pemerintahan.

Kita yg punya potensi ilmu baik harus mengajar dan mengamalkannya sehingga kaum 
kita menjadi cerdas dan paham mana yg baik dan mana yg buruk, dan mau menjadi 
orang cerdas sejati, yaitu orang ingin hidup bersama dan di dalam kebaikan dan 
kebenaran.

Kita yg potensi harta, harus giat berderma utk memberikan sokongan terhadap 
segala usaha perbaikan.

Kita yg belum punya potensi di 3 area tsb, harus mengoptimalkan potensi yg 
sangat berharga, yaitu doa. Apalagi doa adalah senjata orang beriman. Doa bisa 
menolak Bala. Dan Allah menyukai hambanya yg selalu berdoa. Jika Allah 
mendengar dan menjawab doa kita, segala hal yg
 musykil yg menimpa kita, bisa kita hadapi. Karena Allah bersama kita.

Bila 4 pilar ini optimal, korupsi dan koruptor bisa kita libas, Insya Allah! 
Aamiin.

Maka tumbuhkan jiwa yg optimis, pantang menyerah, berusaha memaksimalkan 
potensi di 4 pilar penyelamat demi menyelamatkan negara kita , bangsa kita, 
masyarakat kita, lingkungan kita, rumah tangga kita, dan diri kita sendiri.

Indonesia adalah "Bahtera kita", bila karam, kita pun tenggelam bersamanya.
Bahtera ini bila ada cacat dan lubangnya, kitalah yg harus menambalnya, 
memperbaikinya.
Agar tetap bisa berlayar bersama mencapai kejayaan dan cita-cita yg kita 
impikan.
Cita-cita
 yg tersebut dlm pembukaan UUD 1945.


Mungkin sekian dulu dari saya, mengingat terbatasnya waktu dan banyaknya 
kesibukan.

Marilah kita berdoa agar Allah selamatkan kita dari makar orang Dzholim dan 
orang yg Dengki terhadap kebaikan dan kemajuan bangsa dan negara ini.

Marilah kita berdoa agar Allah selamatkan kita, rumah tangga kita, lingkungan 
kita, masyarakat kita, bangsa kita dan negara kita dari fitnah berkepanjangan 
seperti ini.

Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin.

Alloohummaa Sholli wa Sallim wa Baarik 'alaa Habiibika Sayyidinaa wa Nabiyyinaa 
Muhammad, wa 'alaa aalihii wa shohbihii wa man tabi'ahum bi Ihsaanin Ilaa 
Yaumid-diin.

Alloohummaa Najjinaa Mimmaa Nakhoof
Alloohummaa Sallimnaa Mimmaa Nakhoof
Yaa Qowiyyu Yaa Matiiin, Ikfi
 Syarod-Dzhoolimiin.
Alloohummaa Laa Sahlaan Illaa Ja'altahuu Sahlaan, Wal Hazana idzaa Syi'-ta 
Ja'altahuu Sahlan.
Robbanaa Laa Takilnaa Ilaa Anfunsinaa Thorfatan 'Ain.

Wa sholalloohu 'alaaa Sayyidinaa Muhammad wa 'alaa aliihii wa shohbihii ajma'in.
Subhaanaa Robbika Robbil 'Izzati 'Ammaa Yashifuun. 
Wa Salaamun 'alal Mursaliin.
Walhamdu lillaahi Robbil 'Aalamiin.

Aamiin. Taqobbal Yaa Kariiim.


Wassalam,




Nugon


Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal


      

Kirim email ke