Terima kasih atas tanggapannya Mbak Iis.

Maklum waktu terbatas, jadi belum sempat menjabarkan lebih detil dari
istilah yg teknis yg awalnya pun saya juga susah memahaminya :-P

Tapi Mbak Iis bisa search di Google terkait istilah teknis tersebut,
cukup banyak penjelasan yg user-friendly terkait topik tsb, terutama di
website wikipedia.

Saya pribadi setuju sekali dgn pendapat Mbak Iis, media massa kita sudah
di titik kritis...jurnalismenya tdk berdasarkan nurani dan humanistik,
tdk peduli dgn aspek pembelajaran. Yg penting aspek komersilnya. Semakin
heboh, semakin menjual, itu yg mereka cari. Makanya beritanya cenderung
bias.

Sekali lagi, terima kasih banyak atas tanggapannya.

Wassalam,




Nugon


--- In [email protected], iswarti utami <arafa...@...> wrote:
>
> Wa'alaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh,
>
> Terimakasih sebelumnya atas sharing pemikiran dan masukan untuk negeri
ini dan kemaslahatan forum ini. Bahasan yang cerdas dan lugas sampe
sampe saya gak ngerti karena terlalu banyak istilah ilmiah yang
diadopsi, tapi alhamdulillah setelahnya ada deskripsi singkat yang bisa
membuat sedikit bayangan di otak.
>
> Kalau perspektif bang Nugon lebih ke solusi taktis dan strategis, maka
kalau dari saya menyikapi kasus ini lebih melihat dari sisi media yang
menjadi sumber informasi yang terkesan lebay dan kejar rating.
Seakan-akan stasiun itulah yang paling bagus kualitas pemberitaannya
sampai-sampai semua adegan aib negeri kita ini dibeberkan sebegitunya,
sehingga tidak bisa dibedakan lagi antara aib, oplah dan rating,
mengerikan sekali kebebasan pers saat ini....TERLALU KEBABLASAN.
>
> Sedikit dari saya, jika ada yang salah mohon koreksi dan masukannya.
>
> Salam,
>
> -IIS-
>


Kirim email ke