Itu jawaban teoritis banget bung Ilham.. Bagiku penyebabnya adalah bukan pada kualitas bacaan atau kualitas gambar, tapi ketersediaan. Komik kita dibaca orang juga, tapi untuk menikmatinya berseri-seri butuh waktu cukup lama. Misalnya neh, dulu ketika aku suka baca Si Tolol-nya Djair, sekali tiga bulan aku baru bisa dapat seri terbaru..itu kan lama sekali.. Coba kalau komik jepang, setiap pekan atau setiap bulan selalu ada seri terbaru..pertanyaannya mampukah komikus Indonesia se-produktif komikus jepang? Kalau mampu, saya rasa komik Indonesia pasti bakal jadi incaran. Seperti komik lucu Petruk Gareng (kecil mungil, tipis dan nggak bagus-bagus amat) karya Tatang S, tetapi selalu menarik dan dicari orang untuk dibaca, karena emang waktu itu Tatang sangat produktif membuatnya sehingga banyak edisi yang tersedia. Nah Dodo mungkin bisa memulai membuat tokoh super hero "DOKAR" dalam sepuluh edisi sekaligus, sebulan kemudian terbitin lagi sepuluh edisi..saya yakin deh..Komik DOKAR bisa laku keras ngalahi komik Jepang.. OK segitu dulu..(Asumsi ini saya dapatkan ketika saya mencintai komik dan pernah usaha beli dan sewakan komik ke banyak)
salam dari Batam Mairi Nandarson --- ilham moehammad <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > plok...plok...plok...wah kali ake setuju ama ente > do...saluuut..saluuut.... :) > > --- dodo karundeng <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > bicara dominasi komik asing terutama "manga" itu > sih > > dah basi, Res! > > lah pembacanya menurut penerbitnya (macam Elex) > > memang lebih suka manga. > > Gimana tuh? sementara komikus kita susah untuk > > memperlihatkan kualitas, > > entah soal cerita dll. Kalau orang kreatif bilang > > solusinya cuma di ATM aja. > > Alias Amati, Tiru lalu Modifikasi. Nah seniman > komik > > kita aja yang geblek, > > maunya cuma jadi bebek doang, bahkan yang belajar > di > > sekolah Seni Rupa. > > Modifikasinya kagak. Jatidirinya nggak tumbuh. > > > > salam, > > dk > > > > >From: "Andi Resnadi" <[EMAIL PROTECTED]> > > > > >Dominasi komik asing terutama dari jepang memang > > manjadi salah satu > > >mainstream di dunia komik kita. Komik jepang > sampai > > saat ini masih > > >menjadi trendsetter dunia perkomikan kita > buktinya > > banyak sekali komikus > > >muda kita dengan gaya manga dan larisnya kursus > dan > > buku2 tentang "How > > >to draw manga". Ibaratnya dunia musik bila kita > > ingin masuk major label > > >para penerbit bergaya produser rekaman yang > > menginginkan gaya komik kita > > >mengikuti tren gaya manga seperti jaman sekarang > > kalo band ingin masuk > > >major label produser minta format lagu mirip > > peterpan, radja dan dewa. > > >Tidak ada salahnya juga kalo kita ingin bergaya > > manga atau mengikuti > > >tren komik selama ini yang penting tentunya komik > > kita walaupun bergaya > > >apapun tidak lepas dari akar budaya masyarakat > > kita. > > >Sebuah pertanyaan yang menarik kalo saya > simpulkan > > dari beberapa surat > > >teman2 semua adalah bagaimana komik local bisa > > menjadi sebuah > > >trendsetter dalam dunia perkomikan Indonesia > > khususnya maupun > > >internasional dalam skup yang lebih global. > Sebuah > > aliran gaya komik > > >local yang memberontak pada gaya komik tren > > sekarang baik jepang maupun > > >barat adalah suatu keharusan dalam membentuk > sebuah > > aliran baru yang > > >khas Indonesia. Hal ini bisa digali dari sejarah > > komik kita sendiri > > >dengan mempelajari gaya komikus maestro kita atau > > dengan menciptakan > > >sebuah gaya baru, yang terpenting adalah ada satu > > kesatuan tekad dari > > >seluruh komikus local untuk menyatukan visi yang > > tertuang dalam gaya > > >khas komik Indonesia. Saya sendiri mengusulkan > > komik Indonesia dinamakan > > >dengan Indisch Comic atau komik Indis. Kenapa > > Indis? Kalo anda lihat > > >bangunan belanda kuno itu sebenarnya perpaduan > gaya > > eropa dgn budaya > > >atau lingkungan Indonesia...gaya tersebut disebut > > indis karena merupakan > > >perpaduan antara eropa dan budaya kita. Itu > sebagai > > analogi saja, jadi > > >dalam dunia komik kita terbuka pada budaya komik > > negara lain namun tidak > > >melepaskan akar tradisi kita... > > >Analisis konsumen juga penting dalam pencarian > ide > > untuk membuat format > > >komik yang akan kita jadikan trendsetter > > nantinya..namun yang lebih > > >penting adalah pembentukan komunitas komik di > > seluruh Indonesia yang > > >melibatkan siapa saja sehingga secara psikologis > > mereka akan bangga > > >dengan hasil karya kita ataupun teman2 kita. Kita > > bisa mencontoh pada > > >keberhasilan band2 underground yang kuat di > > komunitas sehingga mampu > > >membuat mainstream musik lain yang pada akhirnya > > banyak dilirik mayor > > >label. > > >Masih banyak yang ingin saya utarakan namun > > kayaknya sekian dulu > > >aja...komentar temen2 sangat saya harapkan. > > > > > > > > >Ares > > >Divisi Riset Program Animasi RCTI > > > > > _________________________________________________________________ > > Express yourself instantly with MSN Messenger! > > Download today it's FREE! > > > http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/ > > > > > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam > protection around > http://mail.yahoo.com > __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/pakarti/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

