setuju ama komentar mairi nandarson.
kadang problemnya di ketersediaan. ketika masih kecil dulu, komik produk lokal yang ada di toko buku sangat banyak. saya masih ingat, sampai ada beberapa majalah rutin menyertakan sisipan/suplemen/bonus komik. dari situ saya kenal sama komik karya jan mintaraga, teguh santosa, dll. keren banget.
ketika minat baca komik saya makin menggila, bapak saya membelikan seri mahabarata dan baratayudha karya ra kosasih. wih, saya sampai terkagum-kagum. mulai meniru, lalu bikin komik untuk konsumsi pribadi.
 
sampai suatu saat, saya jalan-jalan di toko buku di sby dan nemu tintin, lucky luke, arad and maya, dll. melek deh. dunia komik di sekitar kita luar biasa. banyak pilihan.
 
sekarang? komik jepang memang jadi raja. tapi kalau kita jalan2 di gramedia atau gunung agung, alternatif lain sebenernya tetep banyak. betul kata si heng, mizan cukup rajin nerbitin komik. memang sih, nuansa timur tengah tetep dominan. dan saya yakin, bagi sebagian orang, tokoh bersorban belum cukup menarik (lihat saja film aladin, yg gak bisa melawan lion king, beauty and the beast, dll).
 
nah, tugas kita, ayo ramai-ramai menggempur dominasi komik impor. kembalikan legenda komik lokal. sbg awal, gak soal kalau akhirnya harus mengikuti selera produser ; manga style. tapi perlahan dan pasti, gaya lokal bisa kembali dimunculkan. agar ada tokoh si buta dari goa hantu versi anyar (komiknya ada lagi lho...), jaka sembung, dst.
 
bicara eksistensi pakarti, bukankah ini lahan berart6i yang bisa digunakan sebagai embrio?
 
-- hendro
bukan siapa-siapa 
 
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, March 14, 2006 9:21 PM
Subject: RE: [pakarti] trendsetter komik indonesia

Itu jawaban teoritis banget bung Ilham..
Bagiku penyebabnya adalah bukan pada kualitas bacaan
atau kualitas gambar, tapi ketersediaan.
Komik kita dibaca orang juga, tapi untuk menikmatinya
berseri-seri butuh waktu cukup lama. Misalnya neh,
dulu ketika aku suka baca Si Tolol-nya Djair, sekali
tiga bulan aku baru bisa dapat seri terbaru..itu kan
lama sekali..
Coba kalau komik jepang, setiap pekan atau setiap
bulan selalu ada seri terbaru..pertanyaannya mampukah
komikus Indonesia se-produktif komikus jepang? Kalau
mampu, saya rasa komik Indonesia pasti bakal jadi
incaran.
Seperti komik lucu Petruk Gareng (kecil mungil, tipis
dan nggak bagus-bagus amat) karya Tatang S, tetapi
selalu menarik dan dicari orang untuk dibaca, karena
emang waktu itu Tatang sangat produktif membuatnya
sehingga banyak edisi yang tersedia.
Nah Dodo mungkin bisa memulai membuat tokoh super hero
"DOKAR" dalam sepuluh edisi sekaligus, sebulan
kemudian terbitin lagi sepuluh edisi..saya yakin
deh..Komik DOKAR bisa laku keras ngalahi komik
Jepang..
OK segitu dulu..(Asumsi ini saya dapatkan ketika saya
mencintai komik dan pernah usaha beli dan sewakan
komik ke banyak)

salam dari Batam

Mairi Nandarson


SPONSORED LINKS
Comic strip art Comic strip Comic strip live
Cartoonist


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke