Assalamu 'alaikum wr wb.,
Sanak Ismet Yth.

Topik ini saya angkat dengan tujuan untuk memberikan keperdulian atas
perkembangan Otonomi setelah berjalan 5 tahun sejak dimulai tahun 1999.
Seperti laporan yang saya angkat, upaya mempercepat pembangunan Daerah
dengan mengundang modal dari luar dapat dikatakan jauh dari harapan.
Beberapa Perda baru membuat penanam modal menjauh karena biaya produksi
meningkat. Kemudian kenyataan yang dilaporkan oleh pak Emil, DPRD
memperjuangkan kepentingan sendiri untuk meningkatkan pendapatan sendiri dan
dan berjalan-jalan dengan nama "study tour"

Kedua fakta diatas yang saya angkat dan perlu kita kritiki  karena wewenang
yang diberikan oleh undang-undang tidak dimanfaatkan secara lebih kreatif.
Keadaan tersebut bukanlah merupakan hal yang hanya terjadi di Sumbar, tetapi
banyak terjadi didaerah lainnya. Seorang rekan diskusi menambahkan dengan
fakta dan kesan yang diambil oleh response DPRD Sumbar dengan pernyataan; O
........ iyo dulu pernah basumbang saran ka rombangan DPRD Sumbar di Jakarta
............ dapek jawabanno: "kirim sajolah pitih pulang, bia kami atur
dikampuang"   ............. jadi dari gadang sampai ketek, dikampuang tu nan
banamo bantuan adolah wesel titik.

Kebebasan saya berfikir dalam sebuah diskusi, menghubungkan fakta dan
informasi yang diperoleh, membuat suatu pernyataan: "Jadi kebiasaan perantau
mengirim wesel ini membunuh kreativitas orang dikampung. Seperti kata
pepatah "jangan berikan ikannya tetapi berikan kailnya" sudah berlaku dengan
keadaan kita. Setelah krativitas mati, sekarang dengan sedikit kemampuan
yang dimililki timbul keangkuhan untuk merasa tahu segalanya. Apabila memang
ini yang terjadi, maka ada dua masalah yang harus diperbaiki. Pertama
bagaimana mengembalikan agar kreativitas itu tumbuh kembali, kedua bagaimana
menyadarkan banyak orang bahwa kita tidak mungkin membangun sendiri, perlu
kerjasama."

Dalam keseimbangan supply dan demand, setiap supply yang berlebihan dari
demand akan menekan nilai. Apabila memang orang didaerah telah dapat
memenuhi keseimbangan sebelumnya, kiriman dapat membuat kondisi orang
kelebihan purchase power. Ini bisa membuat orang membelanjakan untuk
keperluan yang produktif, atau untuk belanja konsumtif lainnya, atau malah
tindakan "merugikan" karena menurunkan usaha sebelumnya karena selalu
mendapatkan kiriman rutin. Apabila memang data kiriman rutin dari perantau
adalah Rp 60-70 milyar setahun, angka ini tidak seharusnya dibagi rata
keseluruh penduduk yang 4 juta orang. Melainkan kepada jumlah orang yang
memang menerima dana ini secara rutin, jadi tentunya cukup besar nilainya,
tidak hanya Rp 15,000 apalagi Rp 15 pertahun.

Sudah menjadi kebiasaan kita sebagai perantau untuk membantu sanak saudara
di kampung. Ada yang dilakukan dengan menampung keponakan untuk bisa sekolah
dan bekerja di tempat baru, ada yang memberikan bantuan dengan memberikan
kiriman, apakah dalam bentuk cash atau kiriman lainnya. Ada juga yang
memberikan bantuan dengan membuatkan usaha baru dikampung. Kiriman lebih
mudah dilaksanakan, tetapi kiriman yang disertai dengan bantuan upaya untuk
bisa mengembangkan usaha dengan nilai tambah baru akan lebih besar artinya
untuk pembangunan daerah.

Banyak kita amati bahwa untuk meningkatkan ekonomi tidak cukup hanya
memperbesar kemampuan produksi. Misalnya meningkatkan produksi padi, tidak
serta merta meningkatkan ekonomi petani. Bila produksi membuat supply over
demand, maka harga akan anjlok dan petani tetap tidak menikmati keuntungan.
Hal ini yang perlu saya koreksi bahwa masalah Sumbar tidak hanya bisa
diselesaikan oleh orang di Sumbar saja tetapi perlu untuk mempercepat
kemungkinan bersynergy dengan perantau diluar Sumbar, misalnya pada
kemampuan orang di kota besar untuk membantu pemasaran dan penjualan.

Hal ini saya kira yang dikatakan bahwa para perantau dapat memberikan
bantuan dalam bentuk lain selain cash atau wessel. Dari diskusi ini, saya
mendapatkan banyak masukan dan usulan dari perantau yang dapat mempercepat
kemajuan ekonomi di kampuang. Seperti upaya yang ditawarkan perantau Minang
di Jakarta dan asosiasi Minang di Singapore. Data dan informasi seperti ini
yang dapat memperkaya pengetahuan kita sehingga kita bisa melakukan segala
sesuatunya dengan lebih baik.

Wassalam,
Ridwan


----- Original Message -----
From: "M. Ismet Ismail" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, August 20, 2004 1:55 PM
Subject: Fw: [EMAIL PROTECTED] Otonomi Daerah dan Kepedulian Kita?


Supaya tahu saja bahwa menurut data Humas Pemda Sumbar uang yang dikirim
lewat wesel ke Sumbar itu hanya berkisar 60 - 70 milyar rupiah per tahun,
suatu angka yang relatif kecil. Jika jumlah penduduk di Sumbar sekitar
4.000.000 berarti yang dikirim dari wesel itu hanya sekitar Rp. 15 per
tahun. Kok bisa-bisa nya mengatakan bahwa wesel yang dikirim ke kampung itu
menjadi penyebab matinya kreatifitas orang-orang yang berada di Sumbar.
Suatu pernyataan yang sangat naif. Maagiah saketek tapi maraso alah gadang
bana bantuan itu.

Itulah makonyo urang yang ado di Sumbar mangecekkan bahwa urusan di Sumbar
tatntulah mareka itu yang labiah tahu, karano satiok harinyo bagalimang jo
masalah-masalah yang ado di Sumbar.

Sebaiknya kalau sadang berbicara apolagi sedang membicarakan orang lain
hendaknya didukung oleh data-data yang akurat.

Wassalam

MII



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke