Nofrijon Sofyan writes:

Babeda pandapek adolah rahmat, dan itu ambo bukan indak manyukoi
perbedaan pandapek, cuma ambo indak suko jo caro kasa urang-urang nan
mangaku tau jo Islam, tapi sabananyo maancuan Islam tu dari dalam
(sanak juo mangecek an itu), apolai jo urang nan mancimeehan Islam.
Babeda pandapek itu, sakali lai adolah rahmat, tapi mancimeehan agamo,
itu soal lain.

Iko agak kalua dari topik tapi rasonyo paralu dipajaleh karano cukuik mandasar. Lah mahsyur di awak ungkapan "perselisihan di antara umatku adalah rahmat" (ikhtilaafu ummatii rahmat) nan acok disabuikan sabagai hadits.

Manga kok paralu bana dipajaleh? Saboknyo adolah babahayo bana kok awak
mangecek bahaso sasuatu dari Rasulullah padahal indak sah dari beliau.

Dari Salamah, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda (yang artinya):

"Barangsiapa mengatasnamakan aku dengan mengatakan sesuatu yang tidak aku
katakan, maka hendaknya ia menempati tempatnya di neraka." (HR. al-Bukhari)

Serta banyak hadits lain dengan makna serupa. Semoga Allah melindungi kita.

Berikut ko ambo kutipkan penjelasan dari Syaikh al-Albani rahimahullah dalam
kitabnyo nan dikenal dengan judul Silsilatul adh-Dha'ifah wal Maudhu'ah
(Silsilah Hadits Dha'if dan Maudhu' Jilid 1, GIP, 1995 pada hal. 68-71).

--------------
Hadits No. 57

"Perselisihan di antara umatku adalah rahmat."

Hadits ini tidak ada sumbernya. para pakar hadits telah berusaha mendapatkan
sumbernya dengan meneliti dan menelusuri sanadnya namun tidak menemukannya.
As-Subki mengatakan, "Hadits tersebut tidak dikenal di kalangan pakar hadits
dan saya pun tidak menjumpai sanadnya yang shahih, dha'if, ataupun maudhu'/
Pernyataan itu ditegaskan dan disepakati Syaikh Zakaria al-Anshari dalam
mengomentari tafsir al-Baidhawi II/92. Di situ ia mengatakan, "Dari segi
maknanya terasa sangat aneh dan menyalahi apa yang diketahui para ulama
peneliti." Ibnu Hazm dalam kitab al-Ahkam fi Ushulil Ahkam V/64 menyatakan,
"Ini bukan hadits." Barangkali ini termasuk sederetan ucapan yang paling
merusak dan membawa bencana. Bila perselisihan dan pertentangan itu
merupakan rahmat, pastilah kesepakatan dan kerukunan itu merupakan kutukan.
Ini tidak mungkin diucapkan apalagi diyakini oleh kaum muslim yang berpikir
tenang dan teliti. Masalahnya, hanya dua alternatif, yakni bersepakat atau
berselisih, yang berarti pula rahmat atau kutukan (kemurkaan)."

"Ulama kita dewasa ini kendatipun mengetahui dengan pasti bahwa perselisihan
dan perbedaan tidak mungkin dapat disatukan kecuali dengan mengembalikan
kepada sumber dalilnya, menolak yang menyalahi dalil dan menerima yan sesuai
dengannya, namun tidak mereka lakukan. Dengan demikian, mereka telah
menyandarkan perselisihan dan pertentangan ada dalam syariat. Barangkali ini
saja sudah cukup menjadi bukti bahwa itu bukan datang dari Allah, kalau saja
mereka itu mau benar-benar mengkaji dan mempelajari al-Qur'an serta
mencamkan firman Allah dalam surat an-Nisa' ayat 82, yang artinya:

"...Kalau sekiranya al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka
mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (an-Nisa':82)

Ayat tersebut menerangkan dengan tegas bahwa perselisihan dan perbedaan
bukanlah dari Allah. Kalau demikian, bagaimana mungkin perselisihan itu
merupakan ajaran atau syariat yang wajib diikuti apalagi merupakan suatu
rahmat yang diturunkan Allah? La haula wa la quwwata illa billah!

Karena adanya ucapan itulah, banyak umat Islam setelah masa para imam --
khususnya dewasa ini -- terus berselisih dan berbeda pendapat dalam banyak
hal yang menyangkut segi akidah dan amaliah. Kalau saja mereka mau mengenali
dan mencari tahu bahwa perselisihan itu buruk dan dikecam Al-Qur'an dan
Sunnah, pastilah mereka akan segera kembali ke persatuan dan kesatuan.

Ringkasnya, perselisihan dan pertentangan itu dikecam oleh syariat dan yang
wajib adalah berusaha semaksimal mungkin untuk meniadakan dan menjauhkannya
dari umat Islam sebab hal itu menjadi penyebab utama melemahnya umat Islam
seperti yang difirmankan Allah:

"Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu
berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang
kekuatanmu...." (al-Anfal: 46)

Adapun merasa rela terhadap perselisihan dan menamakannya sebagai rahmat
jelas sekali menyalahi ayat al-Qur'an dan hadits-hadits sahih. Dan nyatanya
ia tidak mempunyai dasar kecuali ucapan di atas yang tidak bersumber dari
Rasulullah.

Barangkali muncul pertanyaan: para shahabat Rasulullah telah berselisih
pendapat, padahal mereka adalah seutama-utamanya manusia. Lalu apakah mereka
juga termasuk yang dikecam al-Qur'an dan Sunnah? Pertanyaan semacam itu
dijawab oleh Ibnu Hazm: Tidak! Sama sekali, tidak! Mereka tidak termasuk
yang dikecam AL-Qur'an dan SUnnah, sebab mereka masing-masing benar-benar
mencari mardhatillah dan demi untuk-Nya semata. Di antara mereka ada yang
mendapat satu pahala karena niat yang baik dan kehendak demi kebaikan.
Sungguh telah ditiadakan dosa mereka karena kesalahan yang telah mereka
lakukan. Mengapa? Karena mereka tidak sengaja dan tidak bermaksud
(berselisih) dan tidak pula meremehkan dalam mencari (kebenaran). Bagi
mereka yang mendapat kebenaran baginya dua pahala. Begitulah umat Islam
hingga hari kiamat nanti.

Adapun kecaman dan ancaman yang ada dalam al-Qur'an dan Sunnah ditujukan
bagi mereka yang dengan sengaja meninggalkan al-Qur'an dan Sunnahsetelah
keduanya sampai di telinga mereka dan adanya dalil-dalil yang nyata di
hadapan mereka yang menyandarkan pada si Fulan dan si Fulan, bertaklid
dengan sengaja demi satu ikhtilaf, mengajak pada fanatisme sempit ala
jahiliah demi menyuburkan firqah. Mereka sengaja menolak al-Qur'an dan
Sunnah Nabawiyah. Kecaman dan ancaman tadi khusus untuk mereka yang bila
al-Qur'an dan Sunnah sesuai dengan hawa nafsu dan keinginannya lalu mereka
ikuti; tetapi bila tidak sesuai, mereka kembali pada ashabiyah jahiliyahnya.

Karena itu, berhati-hati dan waspadalah terhadap semua itu bila anda
mengharap keselamatan dan kesuksesan pada hari yang tiada guna harta dan
keturunan kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.
(Lihat al-Ihkam fi Ushulil-Ahkam, V/67-68)."
------------

Semoga bermanfaat. Mohon maaf kok ado salah. Segala kebaikan hanyalah dari
Allah sedangkan kesalahan datang dari diri saya sendiri dan syaithan.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1980 M/1400 H)



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke