Assalamulaikum WW kapan Indonesia dan bagian mana Indonesia yang mungkin menerapkan paling nggak memulainya. Satu kalimat kunci yang saya tangkap dari postingan pak Ridwan adalah: "These companies, which emerged with little government assistance, have helped propel the economy". Jampak jelas sekali seharusnya pemerintah, apalagi ABRI, seharusnya jangan terlibat langsung dalam peningkatan ekonomi, tapi sebagai fasilitator. Kecuali mungkin dimasa krisis ekonomi.
Pemerintah diharapkan hanya sebagai pimicu awal kompetisi para UKM untuk berpacu mem-propel the economy. Jadi pihak pemerintah jangan beranggapkan terus bahwa orang yang datang kekantornya adalah mencari proyek, sehingga waktu si pendatang tidak dihargai, dan malah enggan sekali untuk diterima. USA kini sudah seharusnya disingkirkan. Di pihak lain para UKM seharusnya bersinergi dalam menghadapi economic barrier. Termasuk dalam menghadapi regulator, yang kadang menganggap dirinya adalah penentu segalanya, sehingga sering menunggu orang datang untuk memeberikan bagian untuknya. Seharusnya mereka adalah pelayan masyarakat. Kalau seandainya UKM bisa bersatu apalagi bersinergi, aturan pemerintah saja dapat dipengaruhi, atau dirobah sekalipun. Disamping itu perlunya bersinergi adalah untuk menghadapi pasar bebas yang mau tak mau akan dibawa oleh galodo gadang (globalisasi). Dalam pasar terbuka yang edan ini, diperlukan ketangguan untuk menghadapinya. Kalau satu-satu si UKM itu berteriak, akan hilang saja suaranya diangah balai. Ayo bangun komunikasi antar UKM dan antara UKM dengan aparat pemerintah, dan kalau perlu dipaksakan supaya antar aparat pemerintah satu sama lain mempunyai moda komunikasi yang lancar dan canggih. Salah satu keterpurukan kita adalah miscummunication alias hambatan komunikasi ini. bagaimana rantaunet, jiuka setiap UKM itu jadi anggota rantaunet, nisacaya banyak peluang yang dapat terbuka dalam "propel the economy growth". Baa pak Bupatis .....................? Wass. WW St. Capitano >-----Original Message----- >From: [EMAIL PROTECTED] >[mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Ridwan M. >Risan > > >Angku Darul, >Mendukung postingannya berikut saya ambil dari McKinsey. > >Wassalam, >Sampono Sutan (55+) > >China and India - The race to growth >China and India are both developing quickly but with vastly >different approaches. China's growth has been driven by >manufacturing, and the country's planned economy has tapped into >domestic savings and foreign investment to build an impressive >infrastructure. India, by contrast, owes much of its progress to >private businesses. Without much assistance from the government, >they serve companies in the West's knowledge-based industries, >such as software, IT services, and pharmaceuticals. The difference >between the two models prompts debate about whether one country >has a better approach to economic development than the other and >which will eventually emerge as the stronger. > >India began its economic transformation almost a decade after >China did but has recently grabbed just as much attention, >prompted largely by the number of jobs transferred to it from the >West. At the same time, the country is rapidly creating >world-class businesses in knowledge-based industries such as >software, IT services, and pharmaceuticals. These companies, which >emerged with little government assistance, have helped propel the >economy: GDP growth stood at 8.3 percent in 2003, up from 4.3 >percent in 2002. But India's level of foreign direct >investment-$4.7 billion in 2003, up from $3 billion in 2002-is a >fraction of China's. > > >> IT pros pursue dreams in India >> >> By Prerna K. Mishra, HT Correspondent, >> October 05, 2004 >> > ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

