Bismillahirrahmanirrahim,

Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selanjutnya adalah masalah ilmu. Jika dikatakan bahwa ilmu bebas nilai, saya kurang sependapat. Ilmu sendiri dapat dikelompokkan menjadi:

1. ilmu yang bermanfaat/terpuji
2. ilmu yang tidak bermanfaat/tercela

Ilmu yang tercela misalnya ilmu nujum dan ilmu sihir. Walaupun mungkin kedua ilmu ini dipandang di luar konteks pembahasan namun yang ingin saya ungkapkan adalah tidak semua ilmu itu bermanfaat. Baik buruknya harus dilihat dari sudut pandang syari'at yakni sesuai al-Qur'an dan Sunnah menurut pemahaman salafush shalih.

Masalah ini terutama terasa pada bidang ilmu yang bersifat empiris seperti sosiologi, psikologi, dll. Penafsiran terhadap hasil penelitian sangat tergantung pada sistem nilai yang dianut si peneliti. Nah, di sinilah ilmu menjadi pembawa ideologi tertentu. Sebagai contoh, (setahu saya, mohon koreksi) Freud yang selalu mengaitkan perilaku manusia dengan seks.

Selanjutnya ilmu yang bermanfaat sendiri yang paling utama adalah ilmu syar'i yakni ilmu mengenai Islam. Sesuai dengan hadits dari Mu'awiyah bin Abu Sufyan radhiallahu 'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang maknanya barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Allah memahamkannya dalam ilmu agama. Keutamaan-keutamaan ilmu, majelis ilmu, ahli ilmu, dan penuntut ilmu dalam nash juga ditujukan pada ilmu syari'at. Tidak ada gunanya seorang ilmuwan yang mumpuni dalam fisika namun bodoh dalam ushuluddin.

Kaitannya apa dengan pembahasan kita? Salah satu pertanyaan yang muncul adalah "bagaimana solusi mengejar ketertinggalan kita?" Satu pesan Rasulullah yang sangat terkait adalah:

“Jika kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah’ dan telah sibuk dengan ekor-ekor sapi (sibuk dengan bercocok tanam), sehingga kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan, dan (Dia) tidak akan mengangkat kehinaan dari kalian, sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (Silsilah As Shahihah: 11, Shahih Abu Dawud: 2956)

Bukankah nyata solusi yang diberikan? Kembali ke agama kita (Islam) atau kita akan terus dihinakan. Hal ini berarti selain sibuk mengejar ilmu-ilmu duniawi, kita harus meningkatkan pendidikan ilmu agama karena tidaklah mungkin kita dapat beramal sebelum berilmu. Saya khawatir ilmu akan diangkat dari kita karena habisnya ulama.

Dari Abdullah bin Amru bin Ash radhiallahu 'anhu, ia berkata (yang artinya):
"Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan cara mencabutnya begitu saja dari manusia, akan tetapi Allah akan mengambil ilmu dengan cara mencabut (nyawa) para ulama, sehingga ketika Allah tidak meninggalkan seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh yang apabila ditanya mereka akan memberikan fatwa tanpa didasarkan ilmu lalu mereka pun sesat serta menyesatkan." (HR. Muslim)


Secara ringkas beberapa hal yang dapat dilakukan untuk peningkatan negeri ini menurut saya :
1. peningkatan pendidikan ushuluddin (aqidah) yang shahih untuk siswa maupun pendidik
2. pengiriman pendidik ke luar negeri dapat dilanjutkan namun dengan seleksi yang baik (negara tujuan, perguruan tinggi tujuan, dll)
3. perekrutan pendidik dari luar dengan seleksi yang ketat


Sekian dari saya dan semoga ada manfaatnya. Mohon maaf dan koreksi jika ada kesalahan. Segala kebaikan hanyalah dari Allah sedangkan keburukan dari saya dan syaithan.

Alahu a'lam.

--
Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke