Assalamualaikum wr.wb:

 

Sanak rantaunet yth :

 

Pemilu tahun 1955 baru saja usai , semua warga yang punya hak pilih sudah 
melaksanakan hak pilihnya , namanya juga pesta demokrasi , maka warga 
berbondong � bondong datang ketempat pemungutan suara (TPS) . Masa kampanye 
yang dilaksanakan oleh partai peserta pemilu beberapa waktu sebelumnya menambah 
antusias masyarakat untuk mendukung salah satu partai kandidatnya .

Setelah pelaksanaan pencoblosan dilanjutkan dengan perhitungan suara , maka 
partai Masyumi keluar sebagai pemenang di negari Saok Laweh disusul partai NU , 
Perti , PSII, kemudian ada juga beberapa warga yang memilih Partai Komunis  
Indonesia ( PKI) .

Hal ini bisa saja terjadi , karena beberapa puluh tahun sebelumnya beberapa 
orang dari kampuang ini pernah di buang oleh penguasa Belanda ke Cilacap dan 
ada pula konon yang di Nusakambangankan  termasuk almarhum kakek saya karena 
keterlibatan pengedaran kupon merah yang belakangan ketahuan atas inisiatif 
komunis (dalam peristiwa Silungkang th 1926) . Dengan kemenangan Masyumi ini 
membawa udara segar dinegari yang bernama Saok laweh , karena bayangan akan 
adanya pembaruan dan reformasi disegala bidang sudah diambang pintu . Dicetus 
oleh beberapa orang yang berjiwa pembaharu antara lain Bpk Ak.Dt. Basa (alm) 
mantan Kepala SMP Negeri 1 Solok , Bpk B.D Chatib Batuah   , Bpk A.Ampang Basa 
(alm), Bpk S Dt,Tan Basa dan Nawin Abdullah .Malin Bandaro (Tentara) digulirkan 
keinginan untuk mendirikan sebuah mesjid . Perlu diketahui bahwa dinegari yang 
bernama Saok Laweh tersebut telah berdiri sebuah mesjid raya negari yang 
lumayan besar , tiangnya / tonggak macunya tidak bisa dipagut dengan dua
 orang . namun banyak dari jamaah , khususnya generasi muda dan para pembaharu 
merasa jengah , karena setiap hari jumat , penyampaian kotbah selalu 
disampaikan dalam bahasa Arab yang  saya yakin tidak semua jamaah bisa mengerti 
dan menghayati dan khatib khatib yang berkatubah itu ke itu saja .  Maka 
berembuklah para pembaharu yang saya sebutkan diatas untuk merancang suatu 
skenario untuk mendirikan suatu mesjid yang lainnya , dan tentunya berbeda 
dengan mesjid yang ada , khususnya dalam penyampaian kothbah Jumaat .   Rapat 
demi rapat telah dilakukan , dan tempat  untuk mendirikan mesjid telah pula 
didapatkan yakni tanah wakaf bekas surau di jorong Jambu (Jambatan Bulakan) . 
Pembangunan tahap demi tahap telah dimulai dengan pengurukan tanah dibekas 
surau tersebut . Sedang modal awal didapat dari iuran  para penggagas , karena 
semua mereka itu adalah termasuk orang � orang yang mampu di zaman itu , ada 
yang sebagai pemilik toko emas , dan ada pula yang sebagai Andemar bangunan . 
Dan
 sebagai penasehat masalah keagamaan diangkatlah  bapak B.D Chatib Batuah yang 
juga seorang Ulil Amri di Negari Saok Laweh ,  saat ini beliau ini  masih hidup 
dan aktif .

Untuk menggalang dana dan kepanitian maka dibentuk suatu panitia pembangunan 
Mesjid Ashriah , yang nama tersebut diambil dari surat Wal Ashri yang artinya 
�demi masa�, Sesungguhnya manusia itu benar benar berada dalam kerugian , 
kecuali orang � orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh , dan nasehat 
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menepati 
kesabaran.. Pembangunan dikerjakan secara  gotongroyong dan swadaya masyarakat 
dan panitia pembangunan mesjid dipercayakan kepada Bpk A.K Dt Basa yang saat 
itu masih aktif sebagai kepala SMP Negeri 1 Solok . Maka hari bersejarah 
tibalah jua , yakni dengan diresmikannya penggunaan mesjid yang berlantai tanah 
tersebut   pada bulan juli tahun 1956,  pelaksanaan shalat Jumat pertama yang 
menggunakan bahasa Indonesia campur minang  dalam kothbahnya . Waktu berlalu 
dan berkembang , maka pengurus tidak henti-hentinya dalam berupaya untuk 
melanjutkan pembangunan  phisik mesjid tersebut , dan seringkali mengundang para
 Dai penceramah dari luar untuk memberikan tabligh akhbar dan perlombaan 
selawat dulang untuk menggali dana  untuk pembangunan  . Satu hal yang tidak 
bisa saya lupakan sampai kini , beberapa saat sebelum peristiwa prri , seorang 
yang temasuk tokoh dalam hirarki prri pernah memberikan tablig akbar disini ( 
kalau tak salah Letkol Dahlan jambek ) , yang dalam tablighnya memberikan 
semangat untuk bersiap � siap  menghadapi perang melawan pemerintah pusat waktu 
itu . Sampai saat ini  sudah lebih dari 47 tahun mesjid tersebut digunakan 
untuk shalat berjamaah dan Shalat Jumat yang menggunakan bahasa indonesia , 
andai saja para penggagas dulu nya tidak berupaya mewujudkan mesjid tersebut , 
maka sampai kini jamaah akan   tetap mendengarkan kothbah memakai bahasa Arab   
. 

Dan phisik mesjid Ashriah tersebut saat ini telah dibangun dua tingkat , 
lengkap dengan TPA serta kantor koperasi simpin Negari Saok Lawas . Bagi sanak 
Rantaunet yang pernah pulang basamo dengan mobil pribadi , maka satu kilo 
sebelum terminal  Bareh Solok dari arah Sawahlunto / Sijunjuang sebelah kanan 
bisa menyaksikan mesjid tersebut . Demikianlah sekelumit kisah tentang cikal 
bakal Masjid Ashriah dikenegarian Saok Laweh semoga ada manfaatnya . Kok sanak 
nak mancaliak foto tantang kondisi Masjid Ashriah kini cubo buka :

 

 
http://community.webshots.com/scripts/editPhotos.fcgi?action=viewall&albumID=196666378

 
Wassalam : Zul Amry  Piliang di jimbaran bali


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke