----- Original Message ----- From: "Isna Huriati" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Friday, June 17, 2005 7:28 AM Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Perjalanan di balik Padang Sahara(2)
> Assalamu'alaikum Rahima, .......................dikuduang................................ > Saya pernah mengundang seorang > doctor ahli tafsir dan juga doctor ahli kebidanan dari Mesir yang waktu > itu sedang mengajar di IAIN beberapa tahun yang lalu untuk berceramah > ditempat pertemuan kita ( luar biasa untuk standar Indonesia , > keahliannya Ima ). Dia sangat sederhana, betul betul seorang ulama pikir > saya. Waktu itu yang saya takutkan adalah, berapa saya harus membayar > dia ( karena saya yang ngundang ), karena kadang yang hadir sedikit, > jadi duitnya juga kan sedikit. Tahu Ima apa katanya waktu saya > sampaikan ke dia. Haram, haram, maksudnya dia haram menerima uang untuk > berceramah dalam hal agama. Saya tanya sama yang sudah pernah ngundang > dia, memang begitu. Jadi saya belikan dia sebuah scarf batik untuk > kerudung isterinya. Waktu saya sampaikan jangan kecewa kalau yang hadir > sedikit, dia bilang satu orangpun saya akan berceramah. Tidak dibayar, > satu orang yang hadir juga mau, betul ulama pikir saya. Kalau di Indo > semakin hebat orangnya semakin tinggi bayarannya. Saya baru ketemu satu > orang yang lansung menyerahkan amplop itu kembali ke yayasan yang > dibina oleh pengajian tersebut. Ima, mungkinkah di Indo lebih banyak > orang yang paham agama yang munafik dari di Mesir, dan mungkinkah di > Indo banyak mereka itu yang memperjual belikan ayat ayat Allah, sehingga > mungkin dakwah harus ditujukan kepada mereka dulu, baru orang awam. > Wallahualam bissawab. Saat ini, dikoran pagi Republika saya baca > "Bekas Menteri Agama Said Aqil Munawar jadi tersangka korupsi > penyelenggaraan ibadah haji. ". > Sekian dulu Ima nanti kita sambung lagi. > > Wassalam > Isna Assalamualaikum WW Maaf, kalau pendapat saya memang lain, kalau dia berprofesi sebagai penceramah ya harus dibayar. Untuk jadi penceramah dia kan harus belajar, membeli buku, makan dan minum dan berkeluarga. Nanti, malah bisa dibilang lagi seorang guru tidak harus dibayar, karena dia kan beramal memberikan ilmu kepada orang lain. Sebab penceramah kan hampir sama dengan guru. Satunya guru agama yang lainnya guru pelajaran lainnya. Selanjutnya, kalau profesi penceramah tidak mendapat bayaran, maka makin sedikit yang mau jadi penceramah. Sedang masih dibayar saja masih sedikit yang mau jadi penceramah. Kalau pendapat saya ilmu itu susah untuk dipelajari alias didapat. Maka, setelah melaui perjuangan panjang dan mempunyai kemapuan maka sudah selayaknya menerima balasan atas jerih payahnya. Dokter yang mengobati orang kecelakaan dan orang sekaratpun harus dibayar bukan? Apa dapat kita bilang dokter tidak berperi kemanusiaan, jelas orang kecelakaan, orang kena musibah kok harus membayar? Harus diketahui bahwa obat dan tempat prakteknya harus dia bayar, listrik yang dipakai harus dibayar, biaya hidupnya juga perlu uang, dst. Begitu juga si penceramah. Memberi penilaian bagi penceramah, sebagai orang yang memperjual belikan agama, maaf, adalah kurang bijaksana. Sebaiknya kita janganlah melihat hanya dari kaca mata kita sendiri. Karena kita dipoihak yang harus membayar maka sebaiknya tidak membayar, kalau harus membayar maka itu dibilang ini dan itu. Kalaulah begini jadinya, maka penceramah akan menjadikan ceramah itu sebagai, hanya tugas sambilan, sehingga sudah sama diketahui dan dialami, bahwa kerja sambilan itu adalah tidak serius, kalau tidak serius berarti kwalitas atau kontinuitas akan terganggu atau malah berantakan. Maaf Uni saya agak gambalang dan menggunakan logika yang mungkin salah menurut logika ahli agama. Mohon pencerahan yang seimbang dan mantik dari ahli agama. Yang seharusnya yang tidak boleh adalah yang sudah keterlaluan. Sudah diluar kepatutan umu yang berlaku. Kadang jika diperhatikan, kasihan juga hidup seorang penceramah, sudah datang dari jauh, dengan biaya sendiri, jika naik bis dan ojek saja perlu uang dan harus berbuka puasa dijalan lagi. Jika dihitung dengan akurat malah kadang uang yang dibawa pulang tidak seimbang dengan tenaga yang dikeluarkan (pengalaman ustaz di masjid dekat rumah saya, diaman ustaznya datang dari Tanjung Priok dibulan puasa). Sekali lagi, maaf, saya ya kurang setuju dengan menyatakan, penceramah sebagai orang yang jual agama, sedang seorang pemakalah saja tidak dibilang begitu. Coba kita pakai sepatu penceramah, coba gunakan kacamata sipenceramah. Kadang ya kasihana, karena itu janganlah dipakai induksi untuk memblem suatu profesi. Saya berpendapat, jadi penceramah harus dapat membuat orang kaya, dapat membangun rumah layak, dapat menyekolahkan anaknya, dapat membeli mobil, sehingga pendidikan tinggi agama tidak jadi pilihan terakhir bagi anak didik, sebagaimana juga dialami oleh PT pendidikan guru. Sekali lagi mohon maaf, jika tidak berkenan. Wabillahi taufiq walhidayah. Wassalamualaikum WW St.P _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

