Dunsanak Taufiq ysh, lai batambah kaji kito basamo.
   
  Saya melihat fenomena suku Melayu ini cukup luar biasa di masa lalunya, dan 
selama ini kelihatan kurang terkemuka, dan syukurlah sudah ada upaya untuk 
bangkit kembali.
   
  Sementara saya sambung sedikit: pada posisi abad ke-6 sebenarnya ada 2 
kerajaan besar di Sumatera, yaitu: Sriwijaya di Palembang (Budha) dan Melayu di 
Jambi (Hindu). Kalau boleh disertakan adalah Minangkabau, yang tidak berbentuk 
kerajaan.
   
  Satu praduga saya mengatakan hal tersebut adalah: seorang pengelana Cina 
bernama Itsing (?) dalam catatannya menyebutkan bahwa dia berkali-kali 
berkunjung ke Sriwijaya untuk belajar, dan sebelum ke Sriwijaya dia senantiasa 
menyempatkan diri untuk belajar di Melayu.
   
  Beberapa tahun yang lalu saya mencoba menggali rute perjalanan di peta, dan 
ada prasangka yang kuat posisi pusat kerajaan Melayu itu adalah di hulu 
Batanghari. Namun tentunya pusat-pusat itu sudah berpindah-pindah, dan inilah 
hal cukup menarik perhatian saya.
   
  Ketika Singhasari (Hindu) melakukan ekspedisi Pamalayu (1275), sebenarnya 
adalah meminta bantuan kepada Melayu karena ada tekanan yang kuat dari dinasti 
Syailendra (Sriwijaya) ke arah timur. “Bantuan militer” didatangkan, dan dapat 
dicatat komunikasi ini berlangsung cukup lama, hingga 1293 ketika Singhasari 
tumbang dan kemudian berganti menjadi Majapahit. Saya melihat raja-raja 
Majapahit adalah ‘murni’ dari Melayu, termasuk ‘lingkaran dalam’ kerajaan, 
setidaknya sampai era Hayam Wuruk. Jadi dari Jambi sebenarnya kekuatan Melayu 
beralih ke Jawa, dan kemudian tersebar lagi ke seluruh Nusantara melalui Sumpah 
Palapa.
   
  Namun pada tahun 1347, Adityawarman yang terakhir menjabat werdhamantri di 
Majapahit kembali ke Melayu dan meneruskan kepemimpinan menjadi raja. Beberapa 
tahun kemudian Adityawarman berpindah ke Pagaruyung untuk menjadi urang 
sumando. Sebenarnya pada saat itulah kekuatan Melayu sudah terpecah-pecah. 
Namun saya memperkirakan kekuatan ‘asli’ Melayu tersebar terutama di sepanjang 
pantai timur Sumatera. Terakhir saya mendengar ada yang berlokasi di salah satu 
pulau di Kepulauan Riau.
   
  Saya meloncat sedikit kepada hubungan Minangkabau dan Melayu, yaitu masuk ke 
era abad 16-17, untuk menjelaskan eksistensi orang Minang di daratan Riau. 
Bahan ini saya dapatkan dari salah satu buku tambo, dan baiklah saya uraikan 
sedikit:
  Pada waktu itu Kerajaan Aceh sangat gigih membendung pengaruh Portugis di 
Selat Malaka, dan salah satu upayanya adalah menguasai daerah-daerah terutama 
di pesisir pantai timur Sumatera dan pantai barat Malaysia. Pada masa itu 
Kerajaan Johor dan Kerajaan Siak bersekutu untuk membendung pengaruh Aceh ini, 
namun tidak cukup kuat. Untuk itu ‘diundanglah’ Kerajaan Pagaruyung pada masa 
itu untuk membantu mencegah intervensi Aceh. Dari ketiga luhak dikumpulkanlah 
sejumlah sukarelawan, dan kemudian berangkat berperang. Akhirnya pengaruh Aceh 
dapat dicegah di Riau terutama, dan ternyata banyak dari sukarelawan tersebut 
yang kemudian dipersilahkan untuk menetap di Riau sebagai ‘warga kehormatan’. 
Kemudian beberapa daerah di Riau telah menjadi ‘rantau’ bagi orang Minang, dan 
pada beberapa tempat adat Minangkabau dipakai. Beberapa daerah tersebut di 
antaranya adalah Kampar Kiri dan Kampar Kanan, Inderagiri, Bangkinang, hingga 
Kota Baru. Beberapa daerah disebutkan membentuk sistem
 persukuan tersendiri seperti di Minangkabau dan juga mengangkat datuk-datuk. 
Sanak yang berada di Riau mungkin dapat mendalami hal ini lebih jauh.
   
  Keberadaan orang Minang di Malaysia terutama saya lihat sejak tahun 1575, 
yaitu ketika terjadi perselisihan di istana Pagaruyung, sehingga terjadi 
eksodus di antaranya sampai ke Negeri Sembilan itu.
   
  Keberadaan suku Minang dan Melayu adalah sangat dekat, namun sebenarnya 
terdapat perbedaan yang jelas dalam tata cara berbudaya. Pada masa dulunya saya 
melihat sebenarnya suku Minang ini adalah suku yang sangat dihormati di 
Sumatera, karena diperlakukan sebagai ‘saudara tua’ dan senantiasa menjaga diri 
dalam hubungan sesama suku. Dapat dilihat bagaimana Sriwijaya melakukan 
kunjungan muhibbah ke Minangkabau, kemudian juga ketika Melayu meminta bantuan. 
Termasuk Aceh, ketika melakukan proteksi di pantai barat terhadap pengaruh 
Belanda, melakukannya secara baik-baik kepada Kerajaan Pagaruyung melalui 
perjanjian Painan. Namun Aceh menggunakannya hanya untuk wilayah pesisir dan 
tidak pernah sampai masuk ‘ke dalam’.
   
  Sebenarnya tidak ada upaya intervensi dari suku bangsa mana pun ke 
Minangkabau, tidak pada masa Melayu, Sriwijaya, Majapahit, maupun Aceh. 
Demikian juga orang Minang, tidak memiliki ambisi untuk menyerang daerah lain, 
terkecuali memang saya melihat ada beberapa waktu menyerang ke ‘utara’, dan 
itupun tidak menduduki.
   
  Termasuk juga patut diselidiki bagaimana orang Minang ‘sangat dihormati’ di 
Sumbawa Timur hingga ke Flores Barat.
   
  Ada beberapa bahan mengenai kajian suku Melayu ini, dapat dilihat pada arsip 
milis Kebudayaan.
   
  Sementara demikian dulu sanak, dan wassalam.
   
  -datuk endang


"Rasyid, Taufiq (taufiqr)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  
Tarimo kasih sanak Datuak Endang

- Untuk Suarnadwipa, inilah komunitas Melayu yang terdeteksi dalam
sejarah pertama sekali. Komunitas tersebar sepanjang aliran Sungai
Batanghari hingga ke hulu. Saya masih mengukur kemungkinan orientasi
permukiman hingga ke Gunung Kerinci.

// Ambo pernah ka Karinci ko, sekitar sapuluah kecamatan disiko, saling
beda bahaso dan budayanyo. Apokoh medan yang sulit (dulu) bisa
menyebabkan kondisi iko ?

- Selanjutnya: "Memang aneh pada sekitar abad 6 muncul Kedatukan
Srivijaya yang berorientasi ke laut (lowland) dan terus berjaya hingga
abad 12, saya pikir ini adalah kelompok migran baru dari Asia Timur.
Belum lagi petualangan para pirates dari Bugis di Selat Malaka yang
banyak bersembunyi di Riau kepulauan. Setelah itu hingga hari ini, kita
tidak pernah berjaya mengembangkan budaya lowland (it is not a jalasveva
jayamahe).


// Kalau maliek profilnyo memang rang Palembang/Lampung mungkin iyo
dunsanak suku Hainan.

Kelompok lain nan berasal dari Asia Timur ko adolah suku terasing Akit
di Pulau Rupat. Walau sehari-mari berbahasa Melayu tapi profil nya mirip
Cina. Begitu juga suku Laut disekitar Batam/Karimun.

Bulan yang lewat salah satu peternak Ikan Arwana kenalan ambo yang
berasal dari Cino iko, secaro bagarah ambo kecekkan inyo mirip Angkatan.
Disamping profilnya yang gelap juga tampaknya lebih keras. Tapi ruponyo
inyo urang suku laut. Familinyo masih banyak yang iduik dilamun ombak,
indak betah tinggal didarat.
Sehari-hari mereka tampaknyo memang menganggap dirinyo rang Cino bukan
Melayu, baik dari segi adat, bahaso dan agamo jo komunitasnyo. 



- Daerah Siak merupakan pusat Melayu di daratan, samo jo daerah pesisir
dan kepulauan Riau, dialek disiko e'
Melayu dialek 'o' banyak dipakai di pedalaman Riau.

//Kampar dan Kuantan masih Patriarchat.
Pasir Pangiraian ado tigo kelompok yaitu yang punyo suku dan Datuak
barek ka Minang, Pinggiran Sungai Rokan sampai ka Bagan Siapi-api masuak
ka Melayu sarato kelompok Mandailing nan langkok jo marganyo.


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke