Dunsanak ABP ysh,
Berikut sebagai perbandingan saya kutipkan saja catatan AQD di milis ApaKabar
untuk menilai asal mula gerakan Paderi I di Minangkabau. Di dalam tambo Dt.
Batoeah juga disebutkan asal mula perang Paderi. Dan juga katanya di buku
Parlindungan.
Sebagai tambahan, saya menemukan sebuah sumber yang menyebutkan pada tahun
1780 telah terjadi gerakan reformasi Islam di Minangkabau. Hanya sampai
sekarang saya belum jelas bentuk dari gerakan tersebut termasuk yang
mempeloporinya.
Catatan berikutnya, hingga 1821 belum ada pengaruh asing (Barat dan lainnya)
yang masuk ke Minangkabau. Walaupun Inggris pernah cukup lama berkuasa di
Bengkulu sebelumnya. Dan baru pada tahun 1796 Inggris menguasai 'Padang'. Tahun
1819 Belanda masuk ke Padang, dan baru pada tahun 1821 mulai mengukuhkan
kekuasaannya, dan menyebabkan mulainya perang Paderi II. Satu catatan lagi,
tahun 1793 seorang bajak laut Perancis pernah menduduki Padang selama beberapa
bulan.
Mohon kiranya dicermati juga 'faktor eksternal' yang terjadi di Eropah pada
priode2 tersebut.
Demikian, wassalam.
-datuk endang
AQD:
Latar belakang lahirnya kaum Padri mempunyai kaitan dengan gerakan Wahabi
yang muncul di Saudi Arabia, yaitu gerakan yang dipimpin oleh seorang
ulama besar bernama Muhammad bin Abdul Wahab (1703--1787). Nama gerakan
Wahabi sesunggulinya merupakan nama yang mempunyai konotasi yang kurang
baik, yang diberikan oleh lawan-lawannya, sedangkan gerakan ini lebih
senang dan menamakan dirinya sebagai kaum 'Muwahhidin' yaitu kaum yang
konsisten dengan ajaran tauhid, yang merupakan landasan asasi ajaran
Islam.
Paham kaum Muwahhidin (Wahabi) ini antara lain: (a) Yang boleh dan harus
disembah hanyalah Allah se-mata; dan siapa saja yang menyembah selain
Allah, adalah musyrik; (b) Umat Islam yang meminta safaat kepada para
wali, syeikh atau ulama dan kekuatan ghaib yang di-pandang memiliki dan
mampu memberikan safaat adalah suatu kemusyrikan; (c) Menyebut-nyebut
nama Nabi, wali, ulama untuk dijadikan perantara dalam berdo'a adalah
termasuk perbuatan syirik; (d) Mengikuti shalat berjamaah adalah
nierupakan kewajiban; (e) Merokok dan segala bentuk candu adalah haram;
(f) Memberantas segala bentuk kemunkaran dan ke-maksiatan; (g) Umat
Islam, harus hidup sederhana, segala macam pakaian mewah dan
berlebih-lebihan diharamkan.
Sifat gerakan Wahabi yang keras ini, benar-benar me-rupakan tenaga
penggerak yang sanggup membangkit-kan kembali kesadaran kaum muslimin yang
sedang tidur lelap dalam keterbelakangannya. Dibantu dengan para
sahahatnya seperti Ibnu Sa'ud dan Abdul Azis Ibnu Sa'ud, pemikiran dan
cita-cita ini diwujudkan dalam gerakan yang keras, akhirnya pada tahun
1921 menjelma menjadi satu pemerintahan yang berdaulat di Saudi Arabia
dengan ibukotanya Riyadh.
Paham dan gerakan Wahabi inilah yang mewarnai pandangan Haji Miskin dari
Pandai Sikat (Luhak Agam), Haji Abdur Rahman dari Piabang (Luhak Lima
Puluh) dan Haji Muhammad Arief dari Sumanik (Luhak Tanah Datar) yang
bermukim di Mekah Saudi Arabia dan pada tahun 1802 mereka kembali ke
Sumatera Barat.
Sesampainya di Sumatera Barat, mereka berpen-dapat bahwa umat Islam di
Minangkabau baru memeluk Islam namanya saja, belum benar-benar mengamalkan
ajaran Islam yang sejati. Berdasarkan penilaian semacam itu, maka di
daerahnya masing-masing mereka mencoba memberi-kan fatwanya. Haji Muhammad
Arifin di Sumanik men-dapat tantangan hebat di daerahnya sehingga terpaksa
pindah ke Lintau. Haji Miskin mendapat perlawanan hebat pula di daerahnya
dan terpaksa harus pindah ke Ampat Angkat. Hanya Haji Abdur Rahman di
Piabang yang tidak banyak mendapat halangan dan tantangan.
Kepindahan Haji Miskin ke Ampat Angkat membawa angin baru, karena di sini
ia mendapatkan sahabat--sahabat perjuangan yang setia; diantaranya yaitu
Tuan-ku Nan Renceh di. Kamang, Tuanku di Kubu Sanang; Tuanku di Ladang
Lawas, Tuanku di Koto di Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto
Ambalau, Tuan-ku di Lubuk Aur. Itulah tujuh orang yang berbai'ah (berjanji
sehidup semati) dengan Tuanku Haji Miskin. Jumlah para ulama yang
berbai'ah ini menjadi delapan orang, yang kemudian terkenal dengan sebutan
'Harimau Nan Salapan'.
Harimau Nan Salapan ini menyadari bahwa gerakan ini akan lebih berhasil
bilamana mendapat sokongan daripada ulama yang lebih tua dan lebih
berpengaruh, yaitu Tuanku Nan Tuo di Ampat Angkat. Oleh sebab itu Tuanku
Nan Renceh yang lebih berani dan lebih lincah telah berkali-kali menjumpai
Tuanku Nan Tuo untuk meminta agar ia bersedia menjadi 'imam' atau pemimpin
gerakaa ini. Tetapi setelah bertukar-pikiran berulang kali, Tuanku Nan Tuo
menolak tawaran itu. Sebab pen-dirian Harimau Nan Salapan hendak dengan
segera menjalankan syari'at Islam di setiap nagari yang telah
ditaklukkannya. Kalau perlu dengan kekuatan dan kekuasaan.
Tetapi Tuanku Nan Tuo mempunyai pendapat Yang berbeda; ia berpendapat
apabila telah ada orang beriman di satu nagari walaupun baru seorang,
tidaklah boleh nagari itu diserang. Maka yang penting menurut pandangannya
ialah menanamkan pengaruh yang besar pada setiap nagari. Apabila seorang
ulama di satu nagari telah besar pengaruhnya, ulama itu dapat memasukkan
pengaruhnya kepada penghulu-penghulu, imam-khatib mantri dan dubalang.
Pendapat yang berbeda dan bahkan bertolak belakang antara Tuanku Nan Tuo
dengan Harimau Nan Salapan sulit untuk dipertemukan, sehingga tidak
mungkin Tuanku Nan Tuo dapat diangkat menjadi imam atau pemimpin gerakan
ini. Untuk mengatasi masalah ini, Harimau Nan Salapan mencoba mengajak
Tuanku di Mansiangan, yaitu putera dari Tuanku Man-siangan Nan Tuo, yakni
guru daripada Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat. Rupanya Tuanku yang muda di
Man-siangan ini bersedia diangkat menjadi imam atau pemimpin gerakan
Harimau Nan Salapan, dengan gelar Tuanku Nan Tuo.
Karena yang diangkat menjadi imam itu adalah anak daripada gurunya
sendiri, sulitlah bagi Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat itu untuk menentang
gerakan ini. Padahal hakikatnya yang menjadi imam dari gerakan Hariman Nan
Salapan adalah Tuanku Nan Renceh; sedangkan Tuanku di Mansiangan hanya
sebagai simbol belaka.
Kaum Harimau Nan Salapan senantiasa memakai pakaian putih-putih sebagai
lambang kesucian dan kebersihan, dan kemudian gerakan ini terkenal dengan
nama 'Gerakan Padri'.
Setelah berhasil mengangkat Tuanku di Mansiangan menjadi imam gerakan
Padri ini, maka Tuanku Nan Renceh selaku pimpinan yang paling menonjol
dari Harimau Nan Salapan mencanangkan perjuangan padri ini dan memusatkan
gerakannya di daerah Kameng. Untuk dapat melaksanakan syari'at Islam
secara utuh dan murni, tidak ada alternatif lain kecuali memperoleh
kekuasaan politik. Sedangkan kekuasaan politik itu ber-ada di tangan para
penghulu. Oleh karena itu untuk memperoleh kekuasaan politik itu, tidak
ada jalan lain kecuali merebut kekuasaan dari tangan para penghulu. Karena
Kamang menjadi pusat perjuangan Padri, maka kekuasaan penghulu Kamang
harus diambil alih oleh kaum Padri, dan berhasil dengan baik.
Sementara itu para penghulu di luar Kamang yang telah mendengar adanya
gerakan Padri ini, ingin mem-buktikan sampai sejauh mana kemampuan para
alim--ulama dalam perjuangan mereka untuk melaksanakan syari'at Islam
secara utuh dan murni. Bertempat di Bukit Batabuah dengan Sungai Puar di
lereng Gunung Merapi, para penghulu dengan sengaja dan mencolok mengadakan
penyabungan ayam, main judi dan minum--minuman keras yang diramaikan
dengan bermacam pertunjukan. Para penghulu itu dengan para pengikut-nya
seolah-olah memancing apakah para alim-ulama mampu merealisasikan ikrarnya
untuk betul-betul melaksanakan syari'at Islam secara keras.
Tentu saja tantangan ini menimbulkan kemarahan dari pihak kaum Padri.
Dengan segala persenjataan yang ada pada mereka, seperti setengger
(senapan balansa), parang, tombak, cangkul, sabit, pisau dan sebagainya
kaum Padri pergi ke Bukit Batabuh tersebut untuk membubarkan pesta
'maksiat' yang diselenggarakan oleh golongan penghulu (penguasa).
Sesampainya pasukan kaum Padri di Bukit Batabuh disambut dengan
per-tempuran oleh golongan penghulu. Dengan sikap mental perang sabil dan
mati syahid, pertempuran yang banyak menelan korban di kedua belah pihak,
akhirnya di-menangkan oleh pasukan kaum Padri. Dengan peristiwa Bukit
Batabuh, berarti permulaan peperangan Padri.
abp malin bandaro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamualaikum ww
Untuk ke-sekian kalinya tiap usai musim haji dipagi yang sejuk ditengah lalu
lalang orang2 yang baru usai sholat subuh berjamaah terlihat dipelataran depan
Babus Salam Gate hampir seribuan orang lulusan yang berasal dari berbagai
pelosok dunia dan warna kulit duduk rapi membentuk formasi setengah lingkaran
khidmat mendengar tausyiah terakhir Imam Senior Masjidil Haram yang sedang
tegak membelakangi jejeran para murabi yang selama ini tulus ikhlas membina
para kader dawah calon tentara Allah menegakkan Islam dikampung halaman
masing2
Usai ritual baiat dan pelantikan para lulusan yang telah berpredikat Wahabi
Muda ini segera saja melakukan Thawaf Wada (tawaf perpisahan) yang di-akhiri
cucuran air mata haru biru dan suara serah lirih terisak mengucapkan Selamat
berpisah Baitullah, entah kapan badan hina ini bisa kembali menyentuh melambai
menyapa menyalami mu kembali, Subhanalla Allahuakbar!
Walau berasal berbagai negeri dan ras para Mutarabi ini telah dipersaudarakan
secara khusus dalam Islam tanpa sekat dan rongga atau apapun namanya yang
membatasi, sungguh sebuah persaudaraan yang melebihi persaudaraan sekampung
senegeri asal, senasab sepesukuan, bahkan mungkin seayah dan seibu, kini
tibalah saatnya berpisah tak heran peluk rangkul mata linang berkaca mewarnai
halaman Masjidil Haram dan selanjut kembali kekampung halaman yang telah
berbilang tahun ditinggalkan
Setelah beberapa pekan ter-ambing ombang diatas kapal yang melaju ditunda angin
buritan menuju Batavia sampai juga akhirnya dipelabuhan Bandar Malaka, beberapa
penumpang transit termasuk beberapa Wahabi Muda yang akan meneruskan
perjalanan ke Patani, Trenggano, Johor, Perlis, Borneo, Sulu, Mindanao, Deli,
Aceh dan H. Abdul Rahman Piobang, H. Sumaniak dan H. Miskin yang akan terus
ke-Ranah Bundo Minangkabau Nan Den Cinto
Esok paginya dermaga Bandar Malaka disibukkan dengan aktifitas harian, sebuah
kapal megah dilengkapi pernak pernik kebesaran raja2 dijadwalkan akan bertolak
menunju Siak Sri Inderapura, tentu saja penampilan 3 Wahabi Muda yang
mengenakan putih putih ini menarik perhatian banyak orang apalagi yang namanya
baru pulang haji banyaklah orang menyapa dan menyalami tak terkecuali seorang
muda berpenampilan wah dibalut pakaian sutera mahal yang sudah dapat dipastikan
bukan orang sembarang, karuan saja 3 Wahabi Muda ini bengong dan saling pandang
menerima salam hormat tazim pemuda bangsawan itu yang tenyata adalah salah
seorang anak raja Negeri Sembilan yang di-utus ayahanda Sultan ke Minangkabau
mengantar upeti tanda hormat dan cinta keluarga besar hamba rakyat dan
Sulthan Negeri Sembilan kepada Balahan Rajo Alam Minangkabau di Pagaruyung
Mendapat saudara baru anak raja Negeri Sembilan yang antusias terhadap Islam
itu membuka kesempatan pertama Wahabi Muda ini menyampaikan dawah Islamiyah
selama perjalanan yang mengesankan itu, dentuman meriam 17 kali menyambut
kesinggahan Putra Sulthan dan rombongan di Istana Payung Sekaki Siak Sri
Inderapura, penuh sesak rakyat berjejal menonton kapal mewah yang nyandar
dinegeri yang bermoto Berbapak ke Johor Ber-ibu ke Pagaruyung (pendiri
kerajaan Siak adalah Raja Kecik Putra Raja Johor dan ibunya Anak Puti Rajo
Pagaruyuang) bahkan beberapa menantu raja Siak yang Arab Hadramaut itupun suka
cita berbincang dalam bahasa ibunya dengan tiga Wahabi Muda yang diperkenalkan
sebagai dunsanak sang Putra Sulthan Negeri Sembilan itu, esoknya melalui
Senapelan (cikal bakal kota Pekanbaru) perjalanan darat melalui Teratak Buluh
ditepian Sungai Kampar menuju Istano Rajo Gunuang Sahilan di Kampar Kiri (Riau)
yang juga balahan rajo2 Pagaruyuang kemudian dilanjutkan ke Istano
Rajo Tuan Gadih di Singingi Rantau Kuantan (Riau) yang juga masih batali
darah rajo2 Pagaruyuang, dari sini sehari perjalanan sampailah ke Istano Basa
Pagaruyuang
Setelah melewati penantian membosankan hingga purnama hari janjian ngumpul,
sejak sudah sholat asyar tadi Haji Miskin menggebrak kuda Batak yang terkenal
panjang angok itu ngebut ke surau Haji Piobang, Alhamdulillah sebelum masuk
magrib batas kampung Piobang telah tampak, sesampai disana sudah terlihat Haji
Sumaniak yang ternyata tiba lebih awal, banyak memang yang akan mereka
bincangkan terutama menyangkut strategi dawah kedepan
Lapang dada 3 Wahabi Muda kembali ketempat masing2 memulai tugas berat yang
sudah diperjelas Visi Misi dan Nilai2 yang di-anut, apalagi sistem, perencanaan
dan strategi sudah dikantongi, checklist kriteria calon binaan pun sudah ada,
pokoknyo tingga mangakok karajo surang2
Pagi itu terlihat belasan pemuda yang terseleksi ngumpul disebuah surau kalau
dilihat sepintas lalu mereka pastilah masuk kriteria mudah dibina dan lebih
dari itu termasuk batulang tagok darah barasiah, indak batato dan batindiak,
indak parokok apolai paisok ganjo, tidak terlibat bagadang mamanggang ayam
tetangga, tidak terlibat ngintip induak2 mandi dan masturbasi, tidak minum tuak
dan madat, tidak ikut ma-adu ayam ataupun cingkariak, patuh dan santunan ka
rang gaeknyo, sayang ka nan kaciak horomaik ka nan tuo2, pandai mangaji lai
sumbayang, sopan dan rapi tidak nakroba (menampakkan separo badan) dan tidak
badukun baraja ilimu syiriak, demikianlah setelah dua tahun kemudian sebelum
Gerakan Pembaharuan Islam - Harokah Islamiyah Menawarkan Syurga di
Minangkabau yang mulai terlihat debutnya tahun 1804 sudah ratusan pemuda calon
tentara Allah ujung tombak gerakan dawah menjalani pembinaan (tarbiyah) bahkan
terlihat puluhan diantara mereka yang menonjol berkualifikasi
Taipif Marinir ataupun Para Raiders dan Leadership yang kelak dapat dipercaya
mengemban tanggung jawab yang lebih berat
Alhamdulillah, sejak dua tahun terakhir denyut nadi Islam sudah terasa ke-mana2
pelosok Minangkabau, surau jo musajik lah mulai rami di-mana2 terlihat pemuda
berpakaian serba putih yang menjadi ciri khas mereka, pokoknyo si Gapar duo
taun lalu indak samo jo Gafar kini yang tidak pernah absen sholat berjamaah,
indak sungkan2 melantunkan azan tiok masuak ukatu, puaso sunaik Senin Kemis lah
kebutuhan, sholat malam lah tabiaso, kok alun hafa bana kuraan tigopuluah juih
insya Allah jus 30 surek2 pendek lah dilua kalapo, mangaji minimum sa-jus
sahari khatam tiok bulan, kok dulu ijau incek mato mancaliak pinggua anak gadih
urang kini patundukan pandang, kok dulu trauma mandakek ka kudo kini tandiang
bapacu kudo siap ok, kok dulu indak pandai baranang kini buliah di-uji, kok
dulu pucek lamah karempeang kini badagok babuku ba-urek langan, kok dulu indak
pandai mambaco Assalamualaikum naik ka rumah rang gaek kini tiok basuo
ba-ucapkan, kok dulu nan tau hanyo salingka nagari kini
long march malam ka luhak nan tigo lah kaji manurun
Sungguh sebuah perubahan dan persiapan yang mencengangkan untuk sebuah revolusi
Islam Minangkabau di-tahun2 kedepan, bagaimana 3 Wahabi Muda ini menetas
lasykar Jihad dan Harimau2 Padri yang tidak hanya sebagai dai tetapi juga
jadi momok soldadu kafia bulando, jangan ke-mana2 makmalin segera kembali
Wasalam
abp
---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messengers low PC-to-Phone call rates.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================