Assalamu'alaikum WW Mamanda Sampono Sutan...., awalnyo ambo tertarik ka Grameen Bank , dimulai dari tulisan Social enterprenaur-nyo Rhenald Khasali...ditaruihkan searching dengan kato kunci "social enterpreneur"..... dan memang di Medan babarapo program tsb dilakukan oleh Mercy Corp.
Nah soal puro...pernah ambo ketahui salah satu puro pasukuan.... maagiah pinjaman modal tanpa agunan materi...., tetapi harus di acc oleh Mamak Tunganai /Mamak Pusako dan oleh Pangulu....i ... tetapi mekanisme acc ini yang kemudian jadi bumerang.... tadinya Mamak Tunganai/Mamak Pusao dan Pangulu harus acc agar dapat menjadi katalisator/motivator jika terjadi kegagalan bayar dan atau masalah lainnya....., yang terjadi malah dua hal yang saling sinergi (a) si peminjam merasa tidak bersalah karena sudah di ACC oleh mamak dan pangulu-nya jika tidak membayar.... (b) dan mungkin karena mamak dan pangulu juga miskin... pas mau acc si peminjam mengeluarkan 'uang paralu' juo , sahinggo pinjaman mikro max Rp 200.000 , tingga Rp 150.000 lai...nan Rp 25.000 untuak mamak, nan Rp 25.000 lai untuak pangulu...... Kalau LPN nan masih exist, salah satunyo LPN Nagari Bayua , memakai agunan mirip bank....walau indak sa saklek bank..... Sahinggo ado pertanyaan lanjutan : apakah mentalitas awak sudah mungkin diberikan pinjaman tanpa agunan ? walaupun diberikan dengan kasih sayang ? Wassalam Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com ====================================================================== Alam Takambang Jadi Guru ====================================================================== >From: "Ridwan M. Risan" <[EMAIL PROTECTED]> > >Wa 'alaikum salam wr wb. > >Awal tahun lalu saya sempat bincang-bincang dengan Account Manager Grameen >Bank (GB) yang beroperasi di Medan dibawah koordinasi Mercy Corps. Kinerja >GB tidak sebatas hanya memberikan pinjaman, tetapi lebih menjurus kepada >memberikan bantuan solusi manajemen. > >Hal-hal yang mereka lakukan adalah, memberikan guidance terhadap >terbentuknya kelompok usaha. Membangun kerjasama terhadap keberhasilan >usaha >setiap anggota, membangun rasa tanggung jawab bersama terhadap modal yang >diberikan. Apabila ada anggota yang gagal mengembalikan pinjaman, maka >ketua >kelompok harus bertanggung jawab mengajak semua anggota kelompok untuk >memikirkan agar anggota yang gagal dapat dibantu agar pinjaman kembali. > >Komunikasi diberikan tidak hanya terbatas pada aspek bisnis dan komersial >saja tetapi kepada membangun rasa tanggung jawab. Mereka seperti sebuah >kelompok pengajian yang menjalankan usaha merupakan bagian dari ibadah. >Kebetulan kita bahas dalam bulan Ramadhan, dengan kata lain kita bisa >katakan >mereka melakukan seperti perintah agama - Al Ma'un, agar kita bisa >memperhatikan dan menyayangi orang miskin. > >Menjalankan konsep seperti ini tidak semudah kita membicarakannya disini. >Sebenarnya banyak usaha yang sudah dilakukan oleh bank lain seperti BRI dan >konsep Dana Inpres Desa Tertinggal, tapi apa sebabnya tidak besar hasilnya >seperti Grameen Bank? Tanpa adanya hati dan kemauan untuk mau menyayangi >orang miskin, Bank tidak dapat merelakan aturannya untuk mengetahui masalah >orang miskin yang perlu dana tapi tidak punya agunan. Setelah perlu dana >perlu bantuan lain agar dengan tambahan dana usaha bisa menjadi lebih >produktif. > >Jadi konsep GB adalah memberikan bantuan melalui Kepala Kelompok yang sudah >mengetahui tujuan utama GB adalah membantu orang miskin dengan cara >pemberian pinjaman yang harus dikembalikan sesuai dengan janji. Memahami >dengan cara itu bank akan sehat sehingga lebih banyak orang miskin yang >dapat dibantu. Dengan banyaknya orang miskin yang pelan-pelan lepas dari >kem >iskinan, maka akan bertambah kuat ekonomi kelompok orang miskin, sehingga >bisa memenuhi kebutuhan lainnya. > >Jadi GB perlu kerja keras, kesabaran untuk mau memahami masalah orang >miskin >yang tidak hanya perlu modal kerja. Mereka punya masalah anak sakit, uang >sekolah anak yang perlu dibayar segera, mereka perlu disadarkan dengan >berbicara dan berdialog. GB memerlukan 30 tahun untuk dapat berhasil >seperti >sekarang. >Bagaimana dengan "Puro" dan "Lumbuang Pitih Nagari" yang masih bertahan? >Apakah konsep menyayangi orang miskin ada dalam prosesnya? > >Wassalam, > > R Sampono Sutan (57+) > >| ----- Original Message ----- >| From: "Z Chaniago" <[EMAIL PROTECTED]> >| | >| | Nah adokah nan bisa mambarikan pencerahan : apokoh sababnyo instrumen >| | finansial mikro sarupo 'puro', LPN dll indak berhasil menanggulangi >| | kemiskinan di Minangkabau ? >| | >| | Wassalam >| | Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

