Tolong dibaca aturan di footer dibawah -------------------------------------- Sukseskan Pulang Basamo Juni 2008
Saya sepakat dengan Bu hanifah ini..memang kendala sosial budaya lah yang menyumbang ketertinggalan Sumbar dalam mengelola pariwisata selama ini. seperti yang pernah saya tulis dipadang ekspres tahun lalu, setau saya daerah yang mengandalkan wisata alam tidak bisa meninggalkan faktor apa yang dinamakan sand, sun and sex. Itu yang tidak bisa di terima di Sumbar. Dalam hal ini masyarakat di lombok pun mengalami hal yang sama. Keindahan alam mereka juga saya rasa melebihi bali tapi karena resistensi masyarakat terhadap dunia glamor, dunia malam (baca maksiat) maka daya tarik wisata mereka tidak terkelola dengan baik. Asumsi Bapak Saafrudin Bahar mengenai masalah ini disebabkan oleh karena tidak adanya struktur supra nagari memang perlu kita analisis lebih lanjut seperti juga halnya analisa saya sebelumnya. Menurut pendapat sementara saya justru otonomi tingkat nagari seharusnya akan mendorong pertumbuhan wisata. Karena hampir setiap nagari disumbar mempunyai keunggulan masing masiang. Kalau penerimaan masyarakat terhadap wisata ini tidak seperti sekarang dalam arti lain tinggi maka otonomi setingkat nagari itu sangat baik sekali. Berikut saya copy paste kan kemali tulisan saya mengenai kendala pariwisata sumbar..sebagai wacana pembuka diskusi semata [:)] *** Menggagas Sumbar sebagai tujuan wisata regional Sesungguhnya sudah sejak bertahun-tahun lalu, Sumbar dicanangkan sebagai salah satu tujuan kunjungan wisata terbaik di Indonesia. Sejak itu pula Pemerintahan Propinsi Sumbar bertekad memajukan pariwisata sebagai salah satu sumber andalan bagi keuangan daerah, mengingat potensi sumber daya alam Sumbar yang memang cukup terbatas. Sumbar bukanlah wilayah yang kaya dengan minyak atau gas seperti yang dimiliki Riau atau Sumatera Selatan. Material tambang yang dimiliki hanya batu bara yang cadangannya sudah semakin menipis. Dengan kondisi demikian, maka terdapat rationale yang kuat bagi pemerintah daerah Sumbar untuk mengembangan sector-sektor lain yang potensial memberi kontribusi bagi kas daerah. Salah satu pilihan itu adalah pariwisata. Persoalannya, sampai saat ini belum ada perkembangan berarti untuk menjadikan Sumbar sebagai daerah tujuan wisata. Sejatinya terdapat sejumlah factor yang dapat diidentifikasi memengaruhi hal itu, khususnya faktor social-budaya dan masalah di tingkat kebijakan. Pertanyaan teknisnya, bagaimana merumuskan kebijakan pariwisata Sumbar? Kendala socio-cultural Untuk mewujudkan Sumbar sebagai daerah tujuan wisata asing dan domestik, selain dituntut menyajikan pemandangan alam yang indah, masyarakat yang ramah, pelaku pariwisata di sumbar juga musti menyediakan tempat hiburan bagi pengunjungnya. Keberadaan café, night club ataupun diskotek merupakan hal "wajib" yang musti disediakan oleh pengelola wisata, hotel dan lainnya. Masalah muncul ketika mayoritas penduduk Sumbar adalah muslim yang berfalsafahkan adat basandi syarak syarak basandi kitabullah. Dengan kultur dan kehidupan religius yang telah melekat di batin masyarakat, keberadaan tempat hiburan ini akan sangat meresahkan masyarakat sehingga memungkinkan terjadinya gesekan cultural yang tidak sehat bagi pertumbuhan pariwisata Sumbar. Dalam hal ini daya tolak masyarakat Sumbar sangat kuat ketika kehidupan mereka merasa terusik dengan kehadiran budaya baru yang jauh berbeda dengan akar budaya Minangkabau. Resistensi dari masyarakat ini berimbas kepada matinya daya tarik wisata bagi wisatawan asing. Sebagai pembanding dalam kasus ini kita bisa merujuk ke propinsi Bali. Bali dikenal sebagi tujuan wisata internasional yang tetap konsekwen menjalani ritual adatnya tanpa bersinggungan dengan budaya "kosmo" yang di bawa oleh wisatawan mancanegara. Malah ke "taatan" masyarakat Bali kepada religinya menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Keberadaan nightclub, bar, call girl dan sarana hiburan lainya dibiarkan tumbuh dan dinikmati oleh pengunjung pulau tersebut sepanjang harinya tanpa merasa cemas akan mendapat penolakan dari masyarakat sekitar. Tentunya Sumbar tidak diharuskan meniru keharmonisan yang terjadi di pulau dewata tersebut karena adanya perbedaan norma budaya, melainkan musti memikirkan strategi apa yang bisa di terapkan agar gesekan antara dua komponen tersebut tidak menimbulkan hal hal yang mematikan kreatifitasan pelaku pariwisata di Sumbar. Persoalan di tingkat pembuat kebijakan Dalam tataran pembuat kebijakanpun terjadi hal hal yang sangat kontra-produktif dengan pertumbuhan pariwisata sumbar. Hal ini semakin menyiratkan ambivalen nya sikap pemerintah propinsi dalam menentukan skala prioritas kebijakan. Rancangan Perda anti maksiat salah satu kebijakan yang apabila jadi diberlakukan maka akan sangat tidak menguntungkan bagi pelaku pariwisata. Sasaran perda tersebut jelas saja menuju ke kehidupan malam yang merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan asing pada umumnya. Penggerebekan di hotel hotel kelas Melati yang telah lama berlangsung di Kota Padang terbukti telah menurunkan pendapatan bagi pemilik hotel dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi wisatawan asing maupun domestic yang berkunjung ke kota itu. Disini pembuat kebijakan dihadapkan pada pilihan membuka kran kebebasan seluas luasnya bagi pelaku pariwisata demi memajukan kesejahteraan atau mengakomodir keinginan masyarakat yang ingin melindungi nilai nilai adat dan agamanya. Rendahnya anggaran yang disediakan untuk pengembangan pariwisata juga menjadi masalah klasik yang belum tuntas. Dalam RAPBD Sumbar 2006 sektor pariwisata hanya mendapat kucuran dana sebesar Rp13,1 miliar dari anggaran tersebut untuk promosi hanya dianggarkan Rp 1.2 Milyar (padang ekspres 8 januari 2006) sebuah nominal yang amat sangat minim demi menggenjot kunjungan wisatawan mancanegara serta domestic. Merumuskan kembali daya tarik pariwisata sumatera barat. Ketika kita ditanya apakah yang paling menarik di Sumatra Barat yang bisa dijadikan keunggulan dari daerah lain ? maka jawaban yang mungkin timbul adalah keindahan alamnya. Hal itu mungkin benar ketika yang memberikan penilaian belum pernah berkunjung ke daerah lain sehingga tidak melihat perbandingannya. Mungkin juga jawabannya adalah budayanya yang khas dengan matrilinealnya serta busana daerahnya yang khas. Namun permasalahannya sekarang budaya yang manakah yang bisa membuat kita unggul bersaing dengan budaya lainnya di tanah air semisal jawa, toraja ataupun Bali ? Kesemuanya ini perlu kita kaji lagi agar tidak menimbulkan kepuasan diri yang berlebihan yang selalu menekankan alam sumbar adalah alam yang paling indah se nusantara, budaya yang paling khas yang berujung kepada kejumudan diri sehingga mengira wisatawan akan berkunjung dengan sendirinya tanpa adanya usaha untuk menarik mereka secara khusus. Masyarakat Sumbar umumnya harus menyadari bahwa setiap keindahan alam, objek panorama, air terjun, ngarai dan lembah sesungguhnya hanyalah sebongkah benda mati yang tidak bernyawa dimana banyak daerah lainpun memilikinya. kita boleh saja menyatakan bahwa alam sumbar jauh lebih indah melebihi alam di Bali, namun dalam kenyataanya Bali adalah ikon pariwisata nasional yang bahkan kepopulerannya jauh melebihi bangsa ini. Dari sini dapat kita tarik satu pelajaran bahwasanya keindahan alam hanya akan menjadi benda mati yang tak bernyawa dan tidak mempunyai daya tarik apapun bagi pengunjung ketika tidak adanya komunitas di daerah tersebut yang memberikan warna dan roh bagi objek wisata tersebut. oleh karena itu perlu kita sadari pentingnya peran komunitas dalam memajukan dunia pariwisata Sumbar. Setiap wisatawan yang berkunjung mengharapkan menemui keramah tamahan dari penduduknya yang melayani dengan sepenuh hati sehingga membuatnya mereka betah menikmati keindahan alam yang disuguhkan.Perpaduan antara keindahan objek wisata sumbar dengan keramahan penduduk Minangkabau akan terjalin dengan harmonis apabila ada titik temu antara dua elemen ini .Dibutuhkan terobosan baru yang kiranya membutuhkan keberanian dan kesolidan antara pelaku wisata dan pembuat kebijakan. Apabila pelaku pariwisata dan pembuat kebijakan memutuskan untuk mengorbankan kepentingan masyarakat yang ingin menjaga norma agama dan budaya maka akan menimbulan cost social yang sangat tinggi. Dengan meniadakan fasilitas hiburan malam maka secara tak langsung wisatawan dari belahan eropa, amerika dan Australia yang terbiasa dengan hiburan malam tidak akan memprioritaskan untuk mengunjungi Sumbar. Kemungkinan wisatawan yang akan bertahan adalah sebagian wisatawan asia seperti Malaysia, singapura, Jepang dan timur tengah serta wisatawan domestic tentunya yang lebih tertarik dengan wisata alam, sejarah dan budaya. Pilihan terakhir adalah yang paling aman, karena tidak akan menimbulkan gesekan sosial berkepanjangan. Untuk itu musti ada brand yang jelas yang mencerminkan perpaduan budaya asli masyarakat dengan strategi pertumbuhan dunia pariwisata Sumbar. Dalam hal ini menyiapkan strategi khusus untuk menggarap wisatawan regional yang masih mempunyai akar budaya yang sama dengan Indonesia dan Sumbar khususnya.Hal ini yang seharusnya menjadi perhatian pertama bagi pemrov sumbar untuk jangka waktu dekat sehingga melalui survei yang mendalam Sumbar bisa memiliki branding yang kuat seperti halnya jogja never ending asia yang telah begitu bagus menjual image jogja dimata dunia internasional. --- In [EMAIL PROTECTED], hanifah daman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Tolong dibaca aturan di footer dibawah > -------------------------------------- > Sukseskan Pulang Basamo Juni 2008 > > > Ass Wr Wb > > Sato sakaki mangomentari (asal bunyi sen). > > Sekian banyak obyek wisata, tak satupun yg terpelihara dg baik. > > Mungkin rang awak takuik indak bisa mangandalikan pangaruah budaya...misalno budaya barat. Indak bisa mangontrol pergaulan remaja... Sadang indak di daerah pariwisata sen alah susah juo mangandalikanno, apoli .. apo li. > > Pangalaman jadi ABG di daerah pariwisata Sungai Tanang dulu katiko ABG... iyo sabana susah hati rang gaek- gaek di no. Wakatu itu kami ganti pakaian bakain panjang bagi anak gadih kalau kalua rumah jo mamakai sarawa pendek, salutuik, baju kaos oblong, dll. Pandai pulo kami baranang pakai baju ranang... bacampua laki-laki jo padusi... itu sabalun tahun 80 an. Sabana mantiko - mantiko... kami indak pulo maraso basalah... kan mode... > Kasudahanno ditutuik sen daerah Sungai Tanang jadi daerah pariwisata. > Tapi kini alah babukak liak... Toh ndak ado bedono di bukak atau di tutuik.. pangaruah budaya bisa dicaliak di TV. Kalau ado nan balibur ka BKT, singgahlah ka Sungai Tanang.. ba biduak-biduak... (bukan babendi bendi he he he) > > > Wass > > Hanifah > > -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan,silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2 dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika: 1. Email ukuran besar dari >100KB. 2. Email dengan attachment. 3. Email dikirim untuk banyak penerima. ================================================

