Ass Wr Wb Mak Tan Ameh sarato dunsanak2 ambo seluruhnyo di Palanta rantau net ko..,
Memang ado benarnya informasi yang menyebutkan bahwa biaya total Operasional yang Rp.100 juta/hari adalah kira2 biaya total operasional PT.KAI Divre II Sumbar secara keseluruhan,dengan +/- 1000 orang total jumlah karyawan PT.KAI Divre II Sumbar saat ini (Sebulan +/- Rp.3 Milyar) buat Gaji pegawai,dan biaya2 lainnya. Biaya operasional KA Si Binuang sekali jalan dari Padang ke Pariaman saja (55km) = Rp.1,2 juta. Dengan daya angkut 650 org dan biaya karcis rata2 Rp.6000/org, maka dengan penumpang 200 orang saja (+/- 4 gerbong penuh), maka sudah bisa untuk pambali Solar. Nah kalau sekiranya lagi sepi...misalnya isi penumpang KA cuma 175 orang/ saja dari Padang Ke Pariaman...maka yang 25 orang =25 x 6000 =Rp.150 ribu itu saja disubsidi oleh Pemko Kota Padang. Tetapi kalau KA Padang Pariaman penuh maka= 650 x 6000 = Rp.3,9 Juta.PT.KAI bisa mengantongi keuntungan Rp.2,7 juta/sekali jalan. Kalau pulang pergi penuh maka potensial keuntungan/hari = 2 x 2,7 juta = Rp.5,4 Juta/hari. Sebulan operasionalnya 30 hari = 30 x Rp.5,4 juta = Rp.162 Juta. Nah Pemko Padang atau Pariaman tidak usah memsubsidi lagi. Nah keuntungan ini baru dari jasa angkutan penumpang Padang-Pariaman saja, coba kalau ditambah dengan pendapatan membawa Batubara dari Ombilin 1 atau 2 kali seminggu,bawa Semen dari Indarung ke PK.Baru,membawa CPO dari Nareh Ke Padang, Bawa semen dari Bukit Putus ke Teluk Bayur,ditambah lagi dg hidupnya lagi Rute KA Wisata Padang - Padang Panjang - terus Sawahlunto dan Ke Bukittinggi, income dari KA dalam kota Padang ke Pulo Air, Muaro dan Limau Manis, income dari Secure Parking area di Sp.Haru, Leasing Ruko2 tempat jajan & Souvenir di Stasiun2 yang dilalui, sewa wartel dan warnet di Stasiun2 KA, sewa Hotel di Simpang Haru terutama bila KA Bandara sudah Jalan nantinya,Sewa tempan jajan di los lambuang/Food Court di Sp.Haru,biaya2 sewa Iklan2 dari Produk2 Rokok, Bank,Telpon Cellular dan lain-lain...tentunya hal ini lama kelamaan akan menambah pendapatan dari PT.KAI Divre II Sumbar sendiri.Sehingga biaya beban operasional yang Rp.100 juta/hari itu akan tertutupi dan malah bisa2 Surplus akhirnya. Kalau kita hitung2 maka Rp. 3 milyar /bulan atau 36 Milyar/tahun total biaya operasional PT.KAI Divre II Sumbar ini, untuk memancing target Wisatawan Minang yang 2 Juta orang/tahun yang datang ke Sumatera Barat dengan membelanjakan rata2 Rp.1 juta/orang = 2 juta x Rp.1 juta = Rp.2 Triliun/tahun . Maka biaya operasional KA ini terasa akan sangat kecil sekali bila dibandingkan Multiplier efek yang dihasilkannya bagi kemajuan Pariwisata dan pemasukan keuangan Sumatera Barat nantinya. Nah begitulah Mak Tan Ameh...sekelumit hitung2an dagang dari PT.KAI Divre II Sumbar ini ke depannya, yang saya summarykan dari berbagai program PT.KAI Divre II Sumbar ke depannya. Wassalam, Kurnia Chalik Ketua II MPKAS ( Masyarakat Peduli Kereta Api Sumatera Barat) -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Tasril Moeis Sent: Wednesday, February 14, 2007 1:20 PM To: Membangun Minangkabau Nan Bergengsi Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Surat Cinta Untuk MPKAS- kiro2 biaya KA Ben, Mungkin etongan 100jt sahari untuak operasional PJKA Sumbar indak salah. Itu kan samo jo 3 M sabulan. Kiro2 komponen biaya: Biaya Operational 1. Gaji + tunjangan + kesehatan utk pegawai 2. Biaya listrik, tipon utk kantor,perumahan,stasiun dll. 3. Kendaraan dinas, transport dll. 4. Biaya operasi KA Perawatan 5. Perawatan aset tidak bergerak (Perumahan, stasiun,rel dll) 6. Perawatan Lokomotif dan Gerbong 7. Spare Parts 8. dll Baralah biaya nan sabana no, tantu sanak Kurnia nan sadang di Padang bisa batanyo ka Divre Sumbar. Tan Ameh ----- Original Message ----- From: benni inayatullah To: Membangun Minangkabau Nan Bergengsi Sent: Wednesday, February 14, 2007 11:44 AM Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Surat Cinta Untuk MPKAS. BUng Mantari sutaik.. inilah salah satu kritikan saya terhadap pemprop, pemda dan jajarannya..setiap program yang dilakukan, yang melibatkan banyak pihak dan masyarakat selalu dilakukan tergesa gesa tanpa riset terlebih dahulu.. apakah sudah di adakan survey tentang al:mobilitas masyarakat dari pariaman ke padang,multi plier effect yang ditimbulkan: (pengaruhnya ke minibus (organda) pengaruhnya ke pendapatan dephub ( tpr), tingkat kebutuhan masyarakat terhadap kereta api dll. banyak aspek lah pokoknya yang melibatkan pihak2 yang berkepentingan ttg transportasi ini. saya kira belum dilakukan sehingga ketika program ini jalan kita dihantui ketakutan ketakutan akan adanya reaksi berlawanan dari organda maupun pihak lainnya. apa sih susahnya melakukan riset/survey ttg ini ? tidak menghabiskan duit lebih dari 100 jt kok..dengan begitu kita sudah tahu dan siap dengan apapun konsekuensinya.. mantari_sutan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Setuju Pak Erwin, Hal seperti ini perlu disosialisasikan. Untuk kereta api penumpang (terutama kelas ekonomi), hampir di seluruh negara diberikan subsidi. Saya tidak tahu asumsi pemerintah daerah dalam menetapkan subsidi 100 juta per bulan ini. Jika rada mirip asumsi proyek monorel Jakarta. Saya rasa 100 juta per bulan masuk akal untuk Kereta Api Padang-Pariaman ini. Artinya dengan biaya tiket 6000 rupiah, hanya akan butuh 17 ribuan penumpang sebulan. sekitar 600 orang per hari. 300 orang satu trip. Keukarangan ini lah yang akan ditutupi oleh subsidi pemda. Mohon koreksi jika ada yang salah.. Sebenarnya perlu kajian mendalam dan ilmiah untuk menetapkan hal-hal seperti ini. Mobilitas penduduk antar wilayah banyak sekali variabelnya. Pendekatan klasik-yang sangat amat sederhana- adalah dengan rumus gravitasi. Tingkat mobilitas berbanding lurus antara jumlah penduduk dua kawasan, dan berbanding terbalik dengan jarak dua kawasan tersebut. Mengaca pada teori ini, Pemilihan trayek Padang-Pariaman sudah tepat dilakukan, mengingat jumlah penduduk yang cukup banyak dengan jarak yang relatif dekat. Mungkin Bapak/Ibu ahli pengembangan wilayah dan tranportasi publik bisa menjelaskan dengan lebih komprehensif. Wassalam, MantariUBGBsutaN --- In [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] wrote: > > Wa'alaikum salam wr wb. > > Pertama-tama, sebagai bagian dari keluarga besar MPKAS, kita menyambut > ucapan selamat dan berbagai masukan terhadap program ka reguler > padang-pariaman yang insya Allah diresmikan besok. > > Terkait dengan berbagai masukan yang datang, ambo ikut sato pulo > menyampaikan pendapat: > > 1. Perlu disadari bahwa bisnis kereta api secara umum di Indonesia adalah > dalam kondisi merugi, sehingga pemerintah mengalokasikan PSO (public service > obligation), tahun ini mungkin antara Rp 350-450 miliar (perlu dicek lagi). > Sayangnya, hingga saat ini pemerintah masih berutang PSO secara akumulatif > Rp 1,6 triliun untuk perawatan kereta api yang sangat vital ini. > > 2. Bisnis kereta api yang menguntungkan sebenarnya adalah jalur kereta > barang, sedangkan bisnis-bisnis yang prospektif adalah yang sifatnya > captive market, di antaranya kereta bandara, dan juga bisnis non angkutan > kereta, seperti memanfaatkan aset-aset kereta api yang untungnya berada di > tempat-tempat strategis, misalnya memanfaatkan Stasiun Kota di Jakarta > untuk pusat perbelanjaan, bekerja sama dengan perusahaan telekomunikasi > memanfaatkan jalur kereta untuk jalur telekomunikasi yang juga sudah > berjalan. > > Oleh karena itu, rasanya agak berlebihan kalau sejak awal kita mematok jalur > padang-pariaman harus segera menguntungkan, atau bahkan harus pulang pokok. > Dalam hal ini benar yang dikatakan Pak Ketua II MPKAS, Kurnia, bahwa yang > kita harapkan adalah multiplier effect-nya. > > Terkait multiplier effect, ambo ambilkan dari Wikipedia definisinya: > In economics, a multiplier effect or, more completely, the spending/income > multiplier effect occurs when a change in spending causes a > disproportionate change in aggregate demand. It is particularly associated > with Keynesian economics; some other schools of economic thought reject or > downplay the importance of multiplier effects particularly in the long run. > > The local multiplier effect specifically refers to the effect that spending > has when it is circulated through a local economy. For example, when the > building of a sports stadium is proposed, one of the suggested benefits is > that it will raise income in the area by more than the amount spent on the > project. > > Dengan definisi di atas, kita berharap komunitas-komunitas yang berada di > jalur yang dilalui kereta api menjadi komunitas-komunitas yang tumbuh > perekonomiannya sebagai kompensasi dari pengeluaran untuk menghidupkan jalur > kereta ini. > > Sebagai gambaran, ambo contohkan di Jakarta, jalur yang dilalui kereta > merupakan jalur yang benar-benar hidup. Jalur KA Sudirman-Tanah > Abang-Serporng misalnya, tumbuh sangat fenomenal. Institusi bisnis > bermunculan, begitu juga perumahan-perumahan elit. Akibatnya properti di > kawasan ini nilainya terus meningkat. Hal ini merupakan daya tarik luar > biasa bagi para investor. Begitu juga dengan jalur lainnya, misalnya ke > arah Bogor dan Bekasi. > > Oleh karena itu marilah kita berdoa agar multiplier effect ini terjadi, > sehingga karajo ini bisa bermanfaat, amin. > > wassalam > Erwin Zachri
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008. ----------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ============================================================ UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi. - Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika: 1. Email ukuran besar dari >500KB. 2. Email dikirim untuk banyak penerima. -------------------------------------------------------------- * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config * Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di: http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2 dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas. ============================================================

