Assalamualaikum, Mamak saya mengatakan, "itu bana nan indak buliah disabuik". Pernyataan ini terlontar ketika kami para keponakannya menanyakan soal sistem waris di minangkabau. Kata Mamak juga, di zaman dulu (sebelum tahun 50-an) lelaki jarang bekerja di tanah isterinya. Siang, ia lebih banyak berada di sawah ladang Ibu atau saudara perempuan mereka. Bahkan ketika sakit, mereka lebih suka dirawat saudara perempuan atau keponakannya dibanding isteri atau anaknya.
Itulah minangkabau. Sebuah kawasan yang memang sedikit berbeda. Konon katanya, adalah etnis terbesar yang menerapkan sistem matrilineal. Sangat berbeda dengan sistem keturunan agama-agama utama dunia. Terutama islam, agama yang dianut oleh orang minangkabau. Ketika dituntut menjalankan islam sesuai syariatnya, orang minangkabau berusaha menjalankan dengan sepenuh hati. Minangkabau punya ABS-SBK. Tapi ketika dihadapkan pada situasi sistem waris dan garis keturunan, terdapat kecenderungan untuk meng- ingkarinya. Diignore caro kami e.. Selama ini bukan berarti tidak ada upaya untuk menarik masalah ini. Banyak nama yang bisa disebut untuk itu. Dalam memoar pribadinya, Bung Hatta pernah mengatakan, walaupun orang tua beliau berpisah. Ketika kecil, beliau masih sering dibawa ke rumah bako di Batu Hampar. Walaupun minangkabau mengantut sistem matrilineal, keluarga ayahnya menerapkan pula aturan islam. Maklum mereka adalah keturunan ulama besar. Didikan tanah arab pula. Buya Hamka malah lebih berani berpendapat soal sistem waris. Tapi, Buya Hamka sendiri ternyata tidak cukup. Kondisi sekarang juga tak berubah. Maraknya lembaga dakwah kampus di era 1990-an, tentu telah menghasilkan jumlah orang muda islam puritan. Kalau boleh menyebut nama, PKS adalah salah satu contohnya. Sebuah organisasi dengan militansi yang cukup tinggi. Atau anak muda non aktivis tapi punya latar belakang syariat islam yang tinggi. Untuk tataran kelompok mereka, mungkin mereka mampu menerapkan syariat islam tersebut. Namun ketika dibawa ke ranah minang. Jangankan mampu merubah, ajakannya saja jarang kita dengar. Apakah ada resistensi tinggi untuk hal waris dan garis keturunan ini? Atau, benarkah ketika di mato alah dipiciangkan, dan ketika di paruik alah dikampihan. Ataukah selama ini sudah muncul sebuah kelompok baru islam di minangkabau. Sebentuk kompromi yang menghasilkan identitas baru: sebagai ISLAM MINANGKABAU. Entahlah. Saya tidak ada kapasitas untuk menjawab itu. Waalaikumsalam UBGB (Mantari Sutan) --- In [EMAIL PROTECTED], abp malin bandaro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Assalamualaikum ww > > Suai ambo co sanak Zet Palai Rinuak bahwa konsep ABSSBK kito buek se-sederhana2-nyo agar mudah dilaksanakan, pokok-nyo indak buliah malenceng atau "meleng" dari Kitabullah, kan iyo ba-itu lalu-nyo dek sanak Zet? > Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008. ----------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ============================================================ UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi. - Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika: 1. Email ukuran besar dari >500KB. 2. Email dikirim untuk banyak penerima. -------------------------------------------------------------- * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config * Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di: http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2 dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas. ============================================================

