Setuju.... anak bungsu aku, 5 tahun harus and memang harus bisa baca... kadang aku ga tega, dia memang les and kadang aku ulang di rumah, ngeliat mimik mukanya ketika bersusah payah membaca..duhh rasanya ga tega banget..tapi mau gimana lagi???
Febbie <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Setuju atau tidak pd
artikel dibawah ini terserah Anda.
Ttp saya sendiri setuju sih, perasaan saya dulu juga masih maen2 di TK,
di SD.. nah baru baca tulis dan hitung... buktinya baek2 aja ^_^
Sejujurnya aku juga kasian liat anak2 sekarang, kecil2 dah pada stress..
hehehe....
===========================================================
Anak TK Belajar Huruf & Angka, Penganiayaan Terselubung
Pdpersi, Jakarta - Sebagian Taman Kanak-Kanak telah mengajarkan baca, tulis dan
hitung (calistung). Selain melanggar ketentuan, hal itu juga dikhawatirkan akan
berpengaruh negatif pada perkembangan jiwa anak bahkan termasuk dalam tindak
penganiayaan (abuse).
Demikian diungkapkan Ketua Komisi Nasional (Komnas) Anak Seto Mulyadi di
Jakarta, kemarin.
Seto mengungkapkan, berdasarkan UU Sistem Pendidikan Nasional (Sidiknas) No 20
tahun 2003, TK masuk dalam sistem pendidikan anak usia dini (PAUD) dengan titik
berat pembelajaran moral, nilai agama, sosial, emosional dan kemandirian. Semua
nilai-nilai tersebut ditanamkan melalui metode pembiasaan.
UU tersebut, kata Seto, sama sekali tidak menyebutkan TK sebagai sarana
persiapan bagi anak sebelum memasuki SD. Begitu pula dengan pembelajaran huruf
dan angka, jelas-jelas tidak masuk dalam kurikulum TK. Sehingga, pendidikan
calistung dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap aturan.
Namun, lanjut Seto, pada prakteknya, pelanggaran itu terjadi di sebagian besar
TK. Hal itu ditenggarai terkait dengan tuntutan mayoritas SD yang mengharuskan
calon siswanya telah menguasai calistung.
"Orang tua kemudian balik menuntut pengelola TK. Mereka ingin anaknya
dipersiapkan seoptimal mungkin agar tidak terhambat masuk SD. Inilah lingkaran
kekeliruan yang pada akhirnya menjadikan anak sebagai korban. Akhirnya TK bukan
menjadi sarana belajar sambil bermain, tapi belajar sambil menangis," kata Seto
yang juga anggota Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP).
Padahal, kata Seto, secara ilmiah anak-anak dibawah usia sekolah belum siap
diajarkan calistung. Anak-anak TK tidak boleh dibebani target, melainkan diberi
kesempatan bermain sepuas-puasnya. Sementara, pembelajaran tentang nilai-nilai
kehidupan diberikan dengan metode tematik yang mudah difahami.
Seto menegaskan, sebagai upaya mengembalikan hak-hak anak yang dianggap kini
terampas oleh sistem pendidikan yang salah, pada 2006 mendatang BSNP akan
mengeluarkan regulasi yang merombak sistem pendidikan kelas satu hingga tiga
SD. Aturan itu akan merubah sistem pembelajaran berpola tematik, seperti yang
diterapkan pada murid TK. Pembahasan pelajaran akan disederhanakan, disesuaikan
sengan usia anak yang masih belia.
Aturan tersebut, kata Seto, kini tengah digodok BSNP dan rencananya tahun depan
akan mulai disosialisasikan. Keputusan untuk merombak aturan tersebut
didasarkan atas evaluasi BSNP pada muatan kurikulum yang saat ini berlaku.
Kurikulum saat ini dinilai terlalu berat, disertai target dan materi yang tidak
sesuai dengan usia anak.
"Sekarang ini sekolah menjadi kewajiban yang membebani anak. Padahal, sekolah
dan belajar itu hak anak. Itu yang kerap kita lupakan," ujar Seto.
Berdasarkan pengamatan Media di sejumlah TK, selain diajarkan bernyanyi dan
keterampilan unuk melatih motorik, setiap harinya murid-murid TK juga mendapat
pendidikan mengenal huruf-huruf alfabet serta angka. Bahkan, anak-anak yang
masih berusia empat sampai lima tahun itu juga diharuskan berlatih
menuliskannya dalam buku tulis seperti halnya murid SD.
Di TK Kartika Bojong Gede Kabupaten Bogor, seluruh muridnya telah terbiasa
membawa buku tulis setiap paginya. Selama tiga jam bersekolah di TK, dari pukul
tujuh hingga sepuluh pagi, mereka berlatih menulis dan membaca hingga
merangkainya dalam kata. Begitu pula dengan angka, selain menuliskannya, mereka
juga dilatih pertambahan dan pengurangan sederhana.
" Alma sudah bisa baca sedikit-sedikit, diajar mama, tapi di sekolah juga
belajar," kata Alma , seorang murid.
Nani, orang tua Alma mengaku terkadang merasa kasihan pada anaknya karena kerap
harus bersusah payah menghapal dan menulis. Padahal, memegang pinsil saja,
merupakan pekerjaan berat bagi anaknya yang belum genap lima tahun. Kendati
begitu, Nani mengaku tak berani menyatakan keberatannya pada pihak sekolah.
"Kalau dia tidak bisa baca tulis, ya susah masuk SD. Semua SD yang ada di
sekitar sini memberi tes baca tulis pada setiap anak yang mendaftar. Ada juga
yang tidak, tapi SD-nya kurang bagus," kata Nani. Seorang guru yang mengajar di
sebuah TK di Bandung mengaku dirinya kerap harus mengelus dada melihat
perjuangan yang harus dilalui anak didiknya saat diajari calistung. Padahal,
untuk memusatkan perhatian saja, murid-muridnya masih kesulitan.
"Mereka masih sulit berkonsentrasi. Keinginan bermain jauh lebih besar. Saya
sendiri tak tega, tapi ini sudah ketentuan sekolah. Padahal, dulu tidak begini,
murid saya yang saya ajar sepuluh tahun lalu tidak belajar calistung tapi
sekarang sudah jadi orang semua," kata guru yang enggan disebut namanya
tersebut. (iis
<<image/gif>>

