Ikutan juga...
bener kata jeng Yusri, sebenernya kurikulum SD yang harus dibenahi, anak saya
3, 2 sdh di SD dan yang paling kecil tahun ini baru masuk SD. Pengalaman saya
dari tahun ke tahun, setiap anak mau masuk SD, stress berat, setahu saya di
semua SD, untuk masuk SD sekarang ini ada testnya, dan testnya itu ada itungan,
menulis dan otomatis harus bisa membaca, bulan2 pertama di SD si anak udah ga
ada waktu lagi untuk beradaptasi, mereka langsung yang harus menyalin,
berhitung seperti layaknya anak SD. Padahal kita tau, untuk bulan2 pertama
adaptasi dari yg namanya TK ke SD harus diperlakukan pelan2.
Itu baru cerita kelas 1, belum lagi kelas2 atasnya, di sekolah anak saya
diterapkan Full day school, tapi yang saya heran, anak tetap di bebani PR yang
seabreg abreg, rasanya miris ngeliat anak baru pulang sekolah jam 3-4 sore, and
ga sempet istirahat guru les udah nangkring di rumah. Kasian, ga tega, tapi mau
gimana lagi? ga les, takutnya mereka ketinggalan pelajaran, krn ngeliat
pelajaran mereka.. gila super duper bikin shock, pelajaran yg mungkin dulu kita
baru dapet pas SMP sekarang kelas 3 pun mereka udah dapet.
Dan karena SD anak saya di Pamulang, yang otomatis masuk ke Banten, pelajaran
bahasa Sunda di wajibkan..waduuhhh saya orang Sunda and saya tau banget betapa
susahnya bahasa sunda itu.
Entahlah, sampe sekarangpun saya masih bingung, mikirin si kecil yang mau
masuk SD, tapi belum lancar baca, dia baru 5 tahun, dan dari awal saya tidak
tega maksa dia untuk les ini itu, tidak seperti kakaknya yang hidupnya dari les
ke les. Walau akhirnya si kecil pun saya les kan membaca dan menulis, dan
sesempetnya pulang kerja saya ngulang lagi dan belajar baca, dengan susah payah
dia ngulang kata demi kata, makin ke sini memang banyak kemajuan, tapi saat dia
ngulang kata demi kata..kadang saya lihat wajahnya, mulutnya yg sampe
monyong2.... duhhh rasanya ga tega banget.... my little baby.... yg harusnya di
usianya masih banyak maen, malah harus sudah bersusah payah belajar... belum
lagi bahasa Inggris, komputer.....hiks.... hiks... entahlah......
Memang rasanya bangga yah, kalo anak sekecil dia sudah bisa baca, nulis
dll...tapi kalo liat prosesnya....
Br
Ammy Cynthia
- Yusri - <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Nimbrung juga, ya moms.....
Memang menjadi "kesulitan" tersendiri saat kita "dipaksa" utk menerima suatu
system yg salah, apalagi dalam hal pendidikan anak.
Karena klu kita salah dalam "memprogram" anak kita saat dini, efeknya akan
panjang.
Apalagi klu kita tinggal di suatu tempat yg "sangat terbatas" dalam hal memilih
sekolah.
Sebenarnya yg hrs diperbaiki oleh Pemerintah adalah prinsip yg dianut oleh
sebagian besar SD.
Menurut saya, SD yg "mewajibkan" anak kls 1 sudah mampu membaca dan menulis,
adalah SD yg "tidak mau susah". Mereka hanya menerima murid yg sudah siap
belajar.
Padahal mengajarkan membaca dan menulis adalah kewajiban mereka.
Klu kita jeli melihatnya, biasanya sekolah seperti ini secara keseluruhan
memiliki system belajar mengajar yg kurang baik.
Mereka hanya mengajarkan dan menyampaikan pada anak2 didik materi sekolah saja
tanpa memperhitungkan faktor kejiwaan mrk.
Ujung2nya, sekolah hanya mengejar target nilai rata2 sekolah dan target
kelulusan setinggi-tinggi nya.
Sementara aspek kemampuan anak akan penguasaan konsep materi pelajaran itu
sendiri akan terabaikan.
Apalagi saat ini jenjang SD sudah terbebani oleh UAN. Dan kredibilitas sekolah
sangat ditentukan oleh jumlah kelulusan muridnya.
Regards,
YUSRI
email: [EMAIL PROTECTED]
Sent from my BlackBerry® wireless device
---------------------------------
From: Lilian Kurniawan <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tue, 8 Jul 2008 09:01:18 -0700 (PDT)
To: <[email protected]>
Subject: Re: [parentsguide] Re: Anak TK Belajar Huruf Angka, Penganiayaan
Terselubung
Ikutan nibrung nih
didaerah saya yg termasuk didesa aja untuk masuk kelas 1SD harus bisa calistung
soalnya anak2 didlm kelas harus buat catatan sendiri guru cuma mencatat
dipapan tulis
jadi kita sebagai ortu jadi takut juga, kasian anak2 masih kcl udah hrs ada les
pelajaran
belum lagi pelajaran bahasa jawa yg udah diajarkan mulai kelas 1 juga , sorry
jadi curhat soalnya saya udah hrs kawatir thn depan anak saya yg pertama udah
masuk SD.
thanks,
mama Audrey
--- On Tue, 7/8/08, myra1577 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: myra1577 <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [parentsguide] Re: Anak TK Belajar Huruf & Angka, Penganiayaan
Terselubung
To: [email protected]
Date: Tuesday, July 8, 2008, 5:30 AM
Yup sudah seharusnya nih pemerintah turun tangan. Denger2 sih
katanya UU nya tuh sebenernya ada yah yang melarang kalo di TK itu
gak boleh diajarin calistung? Kl bener ada, ternyata baru sekedar UU
aja ya gak dipraktekin ke dunia nyata..
Trus mnrt sy mslh ini kyknya udah kyk lingkaran setan y. muter-
muter, gak jelas sapa yg mulai. saling menyalahkan. Soalnya sy
pernah denger katanya awal adanya pelajaran calistung di TK itu krn
byknya permintaan atau obsesi dr ortu sendiri. dg alasan semakin
dini diajari maka anak akan semakin pintar. Tp byk ortu yg ternyata
stress dg adanya pelajaran ini (kasian sm anak-anaknya) , bahkan tdk
setuju.
Pernah denger jg pelajaran calistung di ajarkan di tk krn di SD
untuk masuk SD aja ada ujian calistung. Jd bingung kan siapa yang
mulai & siapa yang salah, TK, SD apa org tua?
Kl sy sih akhirnya mengambil sikap tdk mau memaksakan anak. Sesekali
di ajarin tp gak mau maksa. Anak sy skrg umur 4 th br belajar
membaca, itupun karena dia yang mau. Jd diapun belajarnya dg senang
hati tanpa stress.
Myra
http://ke2naischool .blogspot. com
--- In parentsguide@ yahoogroups. com, LIa Ginting <[EMAIL PROTECTED] ..>
wrote:
>
> Sebenarnya saya setuju dengan artiket di bawah.
> Anak-anak TK sekarang bebannya sangat berat.
> Cintohnya anak saya sendiri, sekarang baru usia 5 tahun dan tahun
ini baru akan masuk TK B, tapi sejak mulai semester 1 di TK A,
dia sdh mulai belajar hurup, dan semester 2 sudah bisa baca tulis
bahkan berhitung dengan sempoa atau jarimatika.
> Saya sendiri bingung, yang salah TK nya atau SD nya? krn Tk
memberlakukan kurikulum tersebut karena tuntutan untuk masuk SD,
sebagian besar SD di Jogja sdh memberlakukan tes baca tuli dan
berhitung untuk calon siswa yg mendaftar..kita sih jadi bingung.
>
> Mungkin pemerintah, bisa lbh memperhatikan kurikulum ini di masa
mendatang
>
>
>
> Lia mama Anjli
>
>
> --- On Tue, 7/8/08, Febbie <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> From: Febbie <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [parentsguide] Anak TK Belajar Huruf & Angka,
Penganiayaan Terselubung
> To: parentsguide@ yahoogroups. com
> Date: Tuesday, July 8, 2008, 10:50 AM
>
> Setuju atau tidak pd artikel dibawah ini terserah Anda. Ttp saya
sendiri setuju sih, perasaan saya dulu juga masih maen2 di TK,di
SD.. nah baru baca tulis dan hitung... buktinya baek2 aja
^_^ Sejujurnya aku juga kasian liat anak2 sekarang, kecil2 dah pada
stress.. hehehe.... == ========= = ========= ========= =========
========= ========= ==Anak TK Belajar Huruf & Angka, Penganiayaan
Terselubung
>
> Pdpersi, Jakarta - Sebagian Taman Kanak-Kanak telah mengajarkan
baca, tulis dan hitung (calistung). Selain melanggar ketentuan, hal
itu juga dikhawatirkan akan berpengaruh negatif pada perkembangan
jiwa anak bahkan termasuk dalam tindak penganiayaan (abuse).
>
> Demikian diungkapkan Ketua Komisi Nasional (Komnas) Anak Seto
Mulyadi di Jakarta, kemarin.
>
> Seto mengungkapkan, berdasarkan UU Sistem Pendidikan Nasional
(Sidiknas) No 20 tahun 2003, TK masuk dalam sistem pendidikan anak
usia dini (PAUD) dengan titik berat pembelajaran moral, nilai agama,
sosial, emosional dan kemandirian. Semua nilai-nilai tersebut
ditanamkan melalui metode pembiasaan.
>
> UU tersebut, kata Seto, sama sekali tidak menyebutkan TK sebagai
sarana persiapan bagi anak sebelum memasuki SD. Begitu pula dengan
pembelajaran huruf dan angka, jelas-jelas tidak masuk dalam
kurikulum TK. Sehingga, pendidikan calistung dapat dikategorikan
sebagai pelanggaran terhadap aturan.
>
> Namun, lanjut Seto, pada prakteknya, pelanggaran itu terjadi di
sebagian besar TK. Hal itu ditenggarai terkait dengan tuntutan
mayoritas SD yang mengharuskan calon siswanya telah menguasai
calistung.
>
> "Orang tua kemudian balik menuntut pengelola TK. Mereka ingin
anaknya dipersiapkan seoptimal mungkin agar tidak terhambat masuk
SD. Inilah lingkaran kekeliruan yang pada akhirnya menjadikan anak
sebagai korban. Akhirnya TK bukan menjadi sarana belajar sambil
bermain, tapi belajar sambil menangis," kata Seto yang juga anggota
Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP).
>
> Padahal, kata Seto, secara ilmiah anak-anak dibawah usia sekolah
belum siap diajarkan calistung. Anak-anak TK tidak boleh dibebani
target, melainkan diberi kesempatan bermain sepuas-puasnya.
Sementara, pembelajaran tentang nilai-nilai kehidupan diberikan
dengan metode tematik yang mudah difahami.
>
> Seto menegaskan, sebagai upaya mengembalikan hak-hak anak yang
dianggap kini terampas oleh sistem pendidikan yang salah, pada 2006
mendatang BSNP akan mengeluarkan regulasi yang merombak sistem
pendidikan kelas satu hingga tiga SD. Aturan itu akan merubah sistem
pembelajaran berpola tematik, seperti yang diterapkan pada murid TK.
Pembahasan pelajaran akan disederhanakan, disesuaikan sengan usia
anak yang masih belia.
>
> Aturan tersebut, kata Seto, kini tengah digodok BSNP dan
rencananya tahun depan akan mulai disosialisasikan. Keputusan untuk
merombak aturan tersebut didasarkan atas evaluasi BSNP pada muatan
kurikulum yang saat ini berlaku. Kurikulum saat ini dinilai terlalu
berat, disertai target dan materi yang tidak sesuai dengan usia anak.
>
> "Sekarang ini sekolah menjadi kewajiban yang membebani anak.
Padahal, sekolah dan belajar itu hak anak. Itu yang kerap kita
lupakan," ujar Seto.
>
> Berdasarkan pengamatan Media di sejumlah TK, selain diajarkan
bernyanyi dan keterampilan unuk melatih motorik, setiap harinya
murid-murid TK juga mendapat pendidikan mengenal huruf-huruf alfabet
serta angka. Bahkan, anak-anak yang masih berusia empat sampai lima
tahun itu juga diharuskan berlatih menuliskannya dalam buku tulis
seperti halnya murid SD.
>
> Di TK Kartika Bojong Gede Kabupaten Bogor, seluruh muridnya telah
terbiasa membawa buku tulis setiap paginya. Selama tiga jam
bersekolah di TK, dari pukul tujuh hingga sepuluh pagi, mereka
berlatih menulis dan membaca hingga merangkainya dalam kata. Begitu
pula dengan angka, selain menuliskannya, mereka juga dilatih
pertambahan dan pengurangan sederhana.
>
> " Alma sudah bisa baca sedikit-sedikit, diajar mama, tapi di
sekolah juga belajar," kata Alma , seorang murid.
>
> Nani, orang tua Alma mengaku terkadang merasa kasihan pada anaknya
karena kerap harus bersusah payah menghapal dan menulis. Padahal,
memegang pinsil saja, merupakan pekerjaan berat bagi anaknya yang
belum genap lima tahun. Kendati begitu, Nani mengaku tak berani
menyatakan keberatannya pada pihak sekolah.
>
> "Kalau dia tidak bisa baca tulis, ya susah masuk SD. Semua SD yang
ada di sekitar sini memberi tes baca tulis pada setiap anak yang
mendaftar. Ada juga yang tidak, tapi SD-nya kurang bagus," kata
Nani. Seorang guru yang mengajar di sebuah TK di Bandung mengaku
dirinya kerap harus mengelus dada melihat perjuangan yang harus
dilalui anak didiknya saat diajari calistung. Padahal, untuk
memusatkan perhatian saja, murid-muridnya masih kesulitan.
>
> "Mereka masih sulit berkonsentrasi. Keinginan bermain jauh lebih
besar. Saya sendiri tak tega, tapi ini sudah ketentuan sekolah.
Padahal, dulu tidak begini, murid saya yang saya ajar sepuluh tahun
lalu tidak belajar calistung tapi sekarang sudah jadi orang semua,"
kata guru yang enggan disebut namanya tersebut. (iise
>