Dear Moms,
saya ikutan nimbrung dan share ya. Kalau menurut pengalaman dan 
pengamatan saya (juga ada hasil riset yg sy baca), sebenarnya yg 
penting utk seorang anak itu, bukan "apa yg dia pelajari", 
tp "bagaimana proses dia mempelajarinya". Kebanyakan orang dewasa 
menganggap/melihat proses belajar sesuatu itu seperti cara org 
dewasa belajar. Misalnya belajar harus serius, langsung kepada inti 
pelajarannya, dll.  Padahal teknik /metode pengajaran itu banyak 
sekali dan berkembang dgn pesat sekali. Seorang anak tidak sama 
dengan orang dewasa (secara psykologis, fisikal, logika) jadi 
treatmentnya juga harus berbeda dg org dewasa. Anak tidak akan 
merasa spt sdg belajar, kalau prosesnya -misalnya- dibungkus dgn 
bermain, yg memang menjadi kesukaan anak-anak. Ada anak teman sya, 
yg suka sekali pergi ke tempat lesnya (Les utk belajar baca, bahasa 
Inggris lagi), kalau bisa setiap hari maunya ngeles. Waktu 
diperhatikan, ternyata guru di tempat les itu, ngajarnya pakai cara 
macam-macam. Kadang gak pakai buku, tp pakai alat mengajar, pakai 
bola, pakai mainan bowling, golf, dsb, yg semuanya dikaitkan dgn 
huruf dan kata. Umur 4 tahun dia sudah bisa baca lancar. Anak itu, 
selama proses belajar gak merasa tertekan tuh, malah happy. Kalau 
ditanya kenapa suka les baca, jawabnya krn disitu bisa main, gurunya 
asik, dsb...
Gak ada sedikitpun disebut oleh dia, "sya suka ngeles, krn saya suka 
belajar..." Padahal sebenarnya, disitu dia belajar, tp prosesnya 
berbeda. Lebih fun, lebih ke dunia anak-anak, bukan spt caranya 
belajarnya org dewasa.
Proses bgmn mempelajari sesuatu yg fun dan "ala' anak-anak banget", 
tentu saja bukan hanya utk membaca saja, bisa utk berhitung, menulis 
(coba belajar menulis jangan dimulai dgn memaksa anak untuk memegang 
pensil secara betul dulu, tp (utk mengasah motorik halusnya) bisa 
dimulai dengan mencoret-coret kertas dengan menggunakan jari 
telunjuk yg dicelup ke cat air, atau dengan merobek kecil-kecil 
kertas origami dan menempel kan ke gambar mobil-mobilan, misalnya, 
pasti belajar menulis akan lebih 'fun' ya, Mom). Jadi "proses 
bagaimana anak mempelajari sesuatu itu" penting untuk memotivasi dia 
belajar sesuatu. Dan kalau anak sudah memiliki motivasi untuk mau 
tau sesuatu (baca: belajar), gak ada yg bisa menghalanginya untuk 
jadi pintar. Intinya, kalau itu bisa dimulai dari usia dini, mengapa 
harus menunggu dia besar? Sayang sekali, kan...

Herlina

--- In [email protected], "myra1577" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Yup sudah seharusnya nih pemerintah turun tangan. Denger2 sih 
> katanya UU nya tuh sebenernya ada yah yang melarang kalo di TK itu 
> gak boleh diajarin calistung? Kl bener ada, ternyata baru sekedar 
UU 
> aja ya gak dipraktekin ke dunia nyata..
> 
> Trus mnrt sy mslh ini kyknya udah kyk lingkaran setan y. muter-
> muter, gak jelas sapa yg mulai. saling menyalahkan. Soalnya sy 
> pernah denger katanya awal adanya pelajaran calistung di TK itu 
krn 
> byknya permintaan atau obsesi dr ortu sendiri. dg alasan semakin 
> dini diajari maka anak akan semakin pintar. Tp byk ortu yg 
ternyata 
> stress dg adanya pelajaran ini (kasian sm anak-anaknya), bahkan 
tdk 
> setuju.
> 
> Pernah denger jg pelajaran calistung di ajarkan di tk krn di SD 
> untuk masuk SD aja ada ujian calistung. Jd bingung kan siapa yang 
> mulai & siapa yang salah, TK, SD apa org tua?
> 
> Kl sy sih akhirnya mengambil sikap tdk mau memaksakan anak. 
Sesekali 
> di ajarin tp gak mau maksa. Anak sy skrg umur 4 th br belajar 
> membaca, itupun karena dia yang mau. Jd diapun belajarnya dg 
senang 
> hati tanpa stress.
> 
> Myra
> http://ke2naischool.blogspot.com
> 
> 
> --- In [email protected], LIa Ginting <anjelitrg@> 
> wrote:
> >
> > Sebenarnya saya setuju dengan artiket di bawah.
> > Anak-anak TK sekarang bebannya sangat berat.
> > Cintohnya anak saya sendiri, sekarang baru usia 5 tahun dan 
tahun 
> ini baru akan masuk TK B, tapi sejak mulai semester  1 di TK A, 
> dia sdh mulai belajar hurup, dan semester 2 sudah bisa baca tulis 
> bahkan berhitung dengan sempoa atau jarimatika.
> > Saya sendiri bingung, yang salah TK nya atau SD nya? krn Tk 
> memberlakukan kurikulum tersebut karena tuntutan untuk masuk SD, 
> sebagian besar SD di Jogja sdh memberlakukan tes baca tuli dan 
> berhitung untuk calon siswa yg mendaftar..kita sih jadi bingung.
> > 
> > Mungkin pemerintah, bisa lbh memperhatikan kurikulum ini di masa 
> mendatang
> > 
> > 
> > 
> > Lia mama Anjli
> >  
> > 
> > --- On Tue, 7/8/08, Febbie <febbie@> wrote:
> > From: Febbie <febbie@>
> > Subject: [parentsguide] Anak TK Belajar Huruf & Angka, 
> Penganiayaan Terselubung
> > To: [email protected]
> > Date: Tuesday, July 8, 2008, 10:50 AM
> > 
> > Setuju atau tidak pd artikel dibawah ini terserah Anda.Ttp saya 
> sendiri setuju sih, perasaan saya dulu juga masih maen2 di TK,di 
> SD.. nah baru baca tulis dan hitung... buktinya baek2 aja 
> ^_^ Sejujurnya aku juga kasian liat anak2 sekarang, kecil2 dah 
pada 
> stress.. hehehe.... ============ ========= ========= ========= 
> ========= ========= ==Anak TK Belajar Huruf & Angka, Penganiayaan 
> Terselubung
> > 
> > Pdpersi, Jakarta - Sebagian Taman Kanak-Kanak telah mengajarkan 
> baca, tulis dan hitung (calistung). Selain melanggar ketentuan, 
hal 
> itu juga dikhawatirkan akan berpengaruh negatif pada perkembangan 
> jiwa anak bahkan termasuk dalam tindak penganiayaan (abuse).
> > 
> > Demikian diungkapkan Ketua Komisi Nasional (Komnas) Anak Seto 
> Mulyadi di Jakarta, kemarin.
> > 
> > Seto mengungkapkan, berdasarkan UU Sistem Pendidikan Nasional 
> (Sidiknas) No 20 tahun 2003, TK masuk dalam sistem pendidikan anak 
> usia dini (PAUD) dengan titik berat pembelajaran moral, nilai 
agama, 
> sosial, emosional dan kemandirian. Semua nilai-nilai tersebut 
> ditanamkan melalui metode pembiasaan.
> > 
> > UU tersebut, kata Seto, sama sekali tidak menyebutkan TK sebagai 
> sarana persiapan bagi anak sebelum memasuki SD. Begitu pula dengan 
> pembelajaran huruf dan angka, jelas-jelas tidak masuk dalam 
> kurikulum TK. Sehingga, pendidikan calistung dapat dikategorikan 
> sebagai pelanggaran terhadap aturan.
> > 
> > Namun, lanjut Seto, pada prakteknya, pelanggaran itu terjadi di 
> sebagian besar TK. Hal itu ditenggarai terkait dengan tuntutan 
> mayoritas SD yang mengharuskan calon siswanya telah menguasai 
> calistung.
> > 
> > "Orang tua kemudian balik menuntut pengelola TK. Mereka ingin 
> anaknya dipersiapkan seoptimal mungkin agar tidak terhambat masuk 
> SD. Inilah lingkaran kekeliruan yang pada akhirnya menjadikan anak 
> sebagai korban. Akhirnya TK bukan menjadi sarana belajar sambil 
> bermain, tapi belajar sambil menangis," kata Seto yang juga 
anggota 
> Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP).
> > 
> > Padahal, kata Seto, secara ilmiah anak-anak dibawah usia sekolah 
> belum siap diajarkan calistung. Anak-anak TK tidak boleh dibebani 
> target, melainkan diberi kesempatan bermain sepuas-puasnya. 
> Sementara, pembelajaran tentang nilai-nilai kehidupan diberikan 
> dengan metode tematik yang mudah difahami.
> > 
> > Seto menegaskan, sebagai upaya mengembalikan hak-hak anak yang 
> dianggap kini terampas oleh sistem pendidikan yang salah, pada 
2006 
> mendatang BSNP akan mengeluarkan regulasi yang merombak sistem 
> pendidikan kelas satu hingga tiga SD. Aturan itu akan merubah 
sistem 
> pembelajaran berpola tematik, seperti yang diterapkan pada murid 
TK. 
> Pembahasan pelajaran akan disederhanakan, disesuaikan sengan usia 
> anak yang masih belia.
> > 
> > Aturan tersebut, kata Seto, kini tengah digodok BSNP dan 
> rencananya tahun depan akan mulai disosialisasikan. Keputusan 
untuk 
> merombak aturan tersebut didasarkan atas evaluasi BSNP pada muatan 
> kurikulum yang saat ini berlaku. Kurikulum saat ini dinilai 
terlalu 
> berat, disertai target dan materi yang tidak sesuai dengan usia 
anak.
> > 
> > "Sekarang ini sekolah menjadi kewajiban yang membebani anak. 
> Padahal, sekolah dan belajar itu hak anak. Itu yang kerap kita 
> lupakan," ujar Seto.
> > 
> > Berdasarkan pengamatan Media di sejumlah TK, selain diajarkan 
> bernyanyi dan keterampilan unuk melatih motorik, setiap harinya 
> murid-murid TK juga mendapat pendidikan mengenal huruf-huruf 
alfabet 
> serta angka. Bahkan, anak-anak yang masih berusia empat sampai 
lima 
> tahun itu juga diharuskan berlatih menuliskannya dalam buku tulis 
> seperti halnya murid SD.
> > 
> > Di TK Kartika Bojong Gede Kabupaten Bogor, seluruh muridnya 
telah 
> terbiasa membawa buku tulis setiap paginya. Selama tiga jam 
> bersekolah di TK, dari pukul tujuh hingga sepuluh pagi, mereka 
> berlatih menulis dan membaca hingga merangkainya dalam kata. 
Begitu 
> pula dengan angka, selain menuliskannya, mereka juga dilatih 
> pertambahan dan pengurangan sederhana.
> > 
> > " Alma sudah bisa baca sedikit-sedikit, diajar mama, tapi di 
> sekolah juga belajar," kata Alma , seorang murid.
> > 
> > Nani, orang tua Alma mengaku terkadang merasa kasihan pada 
anaknya 
> karena kerap harus bersusah payah menghapal dan menulis. Padahal, 
> memegang pinsil saja, merupakan pekerjaan berat bagi anaknya yang 
> belum genap lima tahun. Kendati begitu, Nani mengaku tak berani 
> menyatakan keberatannya pada pihak sekolah.
> > 
> > "Kalau dia tidak bisa baca tulis, ya susah masuk SD. Semua SD 
yang 
> ada di sekitar sini memberi tes baca tulis pada setiap anak yang 
> mendaftar. Ada juga yang tidak, tapi SD-nya kurang bagus," kata 
> Nani. Seorang guru yang mengajar di sebuah TK di Bandung mengaku 
> dirinya kerap harus mengelus dada melihat perjuangan yang harus 
> dilalui anak didiknya saat diajari calistung. Padahal, untuk 
> memusatkan perhatian saja, murid-muridnya masih kesulitan.
> > 
> > "Mereka masih sulit berkonsentrasi. Keinginan bermain jauh lebih 
> besar. Saya sendiri tak tega, tapi ini sudah ketentuan sekolah. 
> Padahal, dulu tidak begini, murid saya yang saya ajar sepuluh 
tahun 
> lalu tidak belajar calistung tapi sekarang sudah jadi orang 
semua," 
> kata guru yang enggan disebut namanya tersebut. (iise 
> >
>


Kirim email ke