Ikutan nibrung nih didaerah saya yg termasuk didesa aja untuk masuk kelas 1SD harus bisa calistung soalnya anak2 didlm kelas harus buat catatan sendiri guru cuma mencatat dipapan tulis jadi kita sebagai ortu jadi takut juga, kasian anak2 masih kcl udah hrs ada les pelajaran belum lagi pelajaran bahasa jawa yg udah diajarkan mulai kelas 1 juga , sorry jadi curhat soalnya saya udah hrs kawatir thn depan anak saya yg pertama udah masuk SD.
thanks, mama Audrey --- On Tue, 7/8/08, myra1577 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: myra1577 <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [parentsguide] Re: Anak TK Belajar Huruf & Angka, Penganiayaan Terselubung To: [email protected] Date: Tuesday, July 8, 2008, 5:30 AM Yup sudah seharusnya nih pemerintah turun tangan. Denger2 sih katanya UU nya tuh sebenernya ada yah yang melarang kalo di TK itu gak boleh diajarin calistung? Kl bener ada, ternyata baru sekedar UU aja ya gak dipraktekin ke dunia nyata.. Trus mnrt sy mslh ini kyknya udah kyk lingkaran setan y. muter- muter, gak jelas sapa yg mulai. saling menyalahkan. Soalnya sy pernah denger katanya awal adanya pelajaran calistung di TK itu krn byknya permintaan atau obsesi dr ortu sendiri. dg alasan semakin dini diajari maka anak akan semakin pintar. Tp byk ortu yg ternyata stress dg adanya pelajaran ini (kasian sm anak-anaknya) , bahkan tdk setuju. Pernah denger jg pelajaran calistung di ajarkan di tk krn di SD untuk masuk SD aja ada ujian calistung. Jd bingung kan siapa yang mulai & siapa yang salah, TK, SD apa org tua? Kl sy sih akhirnya mengambil sikap tdk mau memaksakan anak. Sesekali di ajarin tp gak mau maksa. Anak sy skrg umur 4 th br belajar membaca, itupun karena dia yang mau. Jd diapun belajarnya dg senang hati tanpa stress. Myra http://ke2naischool .blogspot. com --- In parentsguide@ yahoogroups. com, LIa Ginting <[EMAIL PROTECTED] ..> wrote: > > Sebenarnya saya setuju dengan artiket di bawah. > Anak-anak TK sekarang bebannya sangat berat. > Cintohnya anak saya sendiri, sekarang baru usia 5 tahun dan tahun ini baru akan masuk TK B, tapi sejak mulai semester 1 di TK A, dia sdh mulai belajar hurup, dan semester 2 sudah bisa baca tulis bahkan berhitung dengan sempoa atau jarimatika. > Saya sendiri bingung, yang salah TK nya atau SD nya? krn Tk memberlakukan kurikulum tersebut karena tuntutan untuk masuk SD, sebagian besar SD di Jogja sdh memberlakukan tes baca tuli dan berhitung untuk calon siswa yg mendaftar..kita sih jadi bingung. > > Mungkin pemerintah, bisa lbh memperhatikan kurikulum ini di masa mendatang > > > > Lia mama Anjli > > > --- On Tue, 7/8/08, Febbie <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: Febbie <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [parentsguide] Anak TK Belajar Huruf & Angka, Penganiayaan Terselubung > To: parentsguide@ yahoogroups. com > Date: Tuesday, July 8, 2008, 10:50 AM > > Setuju atau tidak pd artikel dibawah ini terserah Anda. Ttp saya sendiri setuju sih, perasaan saya dulu juga masih maen2 di TK,di SD.. nah baru baca tulis dan hitung... buktinya baek2 aja ^_^ Sejujurnya aku juga kasian liat anak2 sekarang, kecil2 dah pada stress.. hehehe.... == ========= = ========= ========= ========= ========= ========= ==Anak TK Belajar Huruf & Angka, Penganiayaan Terselubung > > Pdpersi, Jakarta - Sebagian Taman Kanak-Kanak telah mengajarkan baca, tulis dan hitung (calistung). Selain melanggar ketentuan, hal itu juga dikhawatirkan akan berpengaruh negatif pada perkembangan jiwa anak bahkan termasuk dalam tindak penganiayaan (abuse). > > Demikian diungkapkan Ketua Komisi Nasional (Komnas) Anak Seto Mulyadi di Jakarta, kemarin. > > Seto mengungkapkan, berdasarkan UU Sistem Pendidikan Nasional (Sidiknas) No 20 tahun 2003, TK masuk dalam sistem pendidikan anak usia dini (PAUD) dengan titik berat pembelajaran moral, nilai agama, sosial, emosional dan kemandirian. Semua nilai-nilai tersebut ditanamkan melalui metode pembiasaan. > > UU tersebut, kata Seto, sama sekali tidak menyebutkan TK sebagai sarana persiapan bagi anak sebelum memasuki SD. Begitu pula dengan pembelajaran huruf dan angka, jelas-jelas tidak masuk dalam kurikulum TK. Sehingga, pendidikan calistung dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap aturan. > > Namun, lanjut Seto, pada prakteknya, pelanggaran itu terjadi di sebagian besar TK. Hal itu ditenggarai terkait dengan tuntutan mayoritas SD yang mengharuskan calon siswanya telah menguasai calistung. > > "Orang tua kemudian balik menuntut pengelola TK. Mereka ingin anaknya dipersiapkan seoptimal mungkin agar tidak terhambat masuk SD. Inilah lingkaran kekeliruan yang pada akhirnya menjadikan anak sebagai korban. Akhirnya TK bukan menjadi sarana belajar sambil bermain, tapi belajar sambil menangis," kata Seto yang juga anggota Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP). > > Padahal, kata Seto, secara ilmiah anak-anak dibawah usia sekolah belum siap diajarkan calistung. Anak-anak TK tidak boleh dibebani target, melainkan diberi kesempatan bermain sepuas-puasnya. Sementara, pembelajaran tentang nilai-nilai kehidupan diberikan dengan metode tematik yang mudah difahami. > > Seto menegaskan, sebagai upaya mengembalikan hak-hak anak yang dianggap kini terampas oleh sistem pendidikan yang salah, pada 2006 mendatang BSNP akan mengeluarkan regulasi yang merombak sistem pendidikan kelas satu hingga tiga SD. Aturan itu akan merubah sistem pembelajaran berpola tematik, seperti yang diterapkan pada murid TK. Pembahasan pelajaran akan disederhanakan, disesuaikan sengan usia anak yang masih belia. > > Aturan tersebut, kata Seto, kini tengah digodok BSNP dan rencananya tahun depan akan mulai disosialisasikan. Keputusan untuk merombak aturan tersebut didasarkan atas evaluasi BSNP pada muatan kurikulum yang saat ini berlaku. Kurikulum saat ini dinilai terlalu berat, disertai target dan materi yang tidak sesuai dengan usia anak. > > "Sekarang ini sekolah menjadi kewajiban yang membebani anak. Padahal, sekolah dan belajar itu hak anak. Itu yang kerap kita lupakan," ujar Seto. > > Berdasarkan pengamatan Media di sejumlah TK, selain diajarkan bernyanyi dan keterampilan unuk melatih motorik, setiap harinya murid-murid TK juga mendapat pendidikan mengenal huruf-huruf alfabet serta angka. Bahkan, anak-anak yang masih berusia empat sampai lima tahun itu juga diharuskan berlatih menuliskannya dalam buku tulis seperti halnya murid SD. > > Di TK Kartika Bojong Gede Kabupaten Bogor, seluruh muridnya telah terbiasa membawa buku tulis setiap paginya. Selama tiga jam bersekolah di TK, dari pukul tujuh hingga sepuluh pagi, mereka berlatih menulis dan membaca hingga merangkainya dalam kata. Begitu pula dengan angka, selain menuliskannya, mereka juga dilatih pertambahan dan pengurangan sederhana. > > " Alma sudah bisa baca sedikit-sedikit, diajar mama, tapi di sekolah juga belajar," kata Alma , seorang murid. > > Nani, orang tua Alma mengaku terkadang merasa kasihan pada anaknya karena kerap harus bersusah payah menghapal dan menulis. Padahal, memegang pinsil saja, merupakan pekerjaan berat bagi anaknya yang belum genap lima tahun. Kendati begitu, Nani mengaku tak berani menyatakan keberatannya pada pihak sekolah. > > "Kalau dia tidak bisa baca tulis, ya susah masuk SD. Semua SD yang ada di sekitar sini memberi tes baca tulis pada setiap anak yang mendaftar. Ada juga yang tidak, tapi SD-nya kurang bagus," kata Nani. Seorang guru yang mengajar di sebuah TK di Bandung mengaku dirinya kerap harus mengelus dada melihat perjuangan yang harus dilalui anak didiknya saat diajari calistung. Padahal, untuk memusatkan perhatian saja, murid-muridnya masih kesulitan. > > "Mereka masih sulit berkonsentrasi. Keinginan bermain jauh lebih besar. Saya sendiri tak tega, tapi ini sudah ketentuan sekolah. Padahal, dulu tidak begini, murid saya yang saya ajar sepuluh tahun lalu tidak belajar calistung tapi sekarang sudah jadi orang semua," kata guru yang enggan disebut namanya tersebut. (iise >

