Hik.....hik.....hik.....
Uraian itu pasti akan keluar dari orang yg memiliki hobi main game juga.
Tapi.....diluar itu semua, tetap ada efek negatifnya. Efek positif itu akan 
muncul jika kita sebagai ortu konsisten dengan peraturan yg dibuat. Hal itu 
sangat dirasakan oleh kakak saya (punya ada 2 laki2) dan saya (punya 1 anak 
laki2). Dan efek negatifnya ternyata sama. Padahal mrk gak saling kontak (usia 
mrk terpaut jauh dan kami tinggal di tempat yg berbeda, kakak saya di surabaya 
sedangkan saya di bogor). 

Saya juga akhirnya membelikan PS3 utk anak laki2 saya yg skrg berusia 10thn 
(saya ibu dari 3 putra putri).
Kakak saya pun dulu....membelikan PS2 saat anak laki2nya kelas 4 SD (skrg 
anak2nya sdh kerja dan mahasiswa). 
Dan efek negatifnya tetap ada.

Efek negatifnya :
1. Utk anak2 usia SD, akan sulit disuruh belajar. Kita harus "TEGAS" dalam 
menyuruh dia utk konsentrasi belajar.
Klu kita tidak memberikan aturan mainnya, maka mereka akan "lupa belajar" atau 
bimbang saat belajar krn fikiran mrk tertuju pada PS. Dan itu tidak bisa kita 
paksa. Karena apa yg mrk fikirkan tidak akan bisa kita tentukan.

2. Saat anak sudah merasa siap utk ditinggalkan di rumah.......mereka akan 
"dengan senang hati" meninggalkan diri di rumah dan tidak mau ikut dalam acara2 
keluarga. Jadi saya dan kakak saya (dulu) harus selalu memaksa mrk utk ikut 
gabung pergi dengan anggota keluarga yg lain.
Akhirnya......anak akan menjadi soliter. 

3. Saya sengaja tidak memasang PS itu dengan TV khusus. Artinya.....TV yg 
disambungkan dengan PS adalah TV yg dipakai oleh anggota keluarga yg lain utk 
menonton. Krn saya melihat ada yg "salah" pada diri keponakan saya. Dimana 
kakak saya memberikan TV khusus utk PS dengan maksud supaya anggota keluarga yg 
lain tidak terganggu jika ingin menonton TV.
Akibatnya.....keponakan saya semakin soliter dan memisahkan diri dengan anggota 
keluarga lain saat dimana anggota keluarga lainnya saling bertukar cerita saat 
menonton TV.
Sementara "kelemahan" pada diri saya dan anak saya, dimana TV nya harus 
berbagi.....akhirnya setiap saat saya harus mendengar merekan berebut TV. Yg 
satu ingin main PS, sementara yg lain ingin menonton TV.

Segala sesuatu pasti ada sisi negatif dan positifnya. 
Dan utk mengimbangi sisi negatifnya, kita sebagai ortu tetap harus konsisten 
dalam membuat aturan main utk anak2 kita. Jangan sampai aturan main itu 
dilanggar hanya karena sang ortu juga mempunyai hobi yg sama. 
Tanpa aturan main, kita akan sulit menerapkan disiplin pada mereka. Dan 
konsekwensi nya....kita juga harus disiplin dengan peraturan yg ada.

Dan saya memberikan peraturan pada anak saya, bahwa dia hanya boleh main PS 
hari sabtu dan minggu saja. Atau saat hari libur sekolah. 
Tapi.....dampaknya.....saat saya dan suami ingin membuat acara pergi di hari 
sabtu/minggu, dia merasa keberatan karena "hari main PS" dia hilang.

Semoga dengan berbagi, kita bisa mengambil hikmahnya.....



Regards,
YUSRI
email: [EMAIL PROTECTED]

Sent from my BlackBerry� wireless device

-----Original Message-----
From: M Yusuf <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Wed, 24 Sep 2008 09:36:58 
To: <[email protected]>
Subject: [parentsguide] Tlg komentarnya: Salahkah Saya Beli PS2 ?


Salahkah Saya Beli PS2 ?

Lama sekali saya menimbang jadi tidaknya beli PS2. Saya takut
dampak negatifnya kepada anak saya. Namun akhirnya saya mantap
membelinya. Ada alasan kuat dan terbukti bisa berdampak positif.
Apa itu ?


Beberapa waktu lalu (22/8) sepulang kantor, saya putuskan langsung
membeli Sony Play Station 2 (PS2). Memang tidak langsung
memutuskan begitu saja. Tapi beberapa hari sebelumnya saya sudah
menimbang-nimbang untuk membelinya. Bahkan saya sempat
melakukan survey harga, baik di toko online ataupun di toko
tradisional.

Tentu saja ada yang tidak setuju ketika saya utarakan ide pembelian
PS2 ini. Pertama, jelas dari istri tercinta. Tentu ini hubungannya
dengan budget keluarga. Namun ketika saya utarakan saya beli
dengan uang sendiri (uang laki he.. he..), ya istri setuju saja. Tapi dia
juga khawatir dampak negatifnya.

Ya, dampak negatifnya ini jadi keberatan yang kedua, yang akhirnya
membuat lama menimbangnya. Saya takut Zidan, anak laki saya,
menjadi malas belajar. Menjadi tidak suka membaca. Tidak mau
bergaul dengan teman-temannya. Jadi penyendiri dan hal-hal negatif
lainnya.

Saya memang maniak game. Sejak beli komputer, bahkan sejak
kenal komputer, saya suka fungsinya sebagai game. Bahkan
beberapa kali 'melekan' sampai subuh hanya ingin menuntaskan
sebuah cerita game. Dan maniaknya ini seperti menular ke Zidan.
(Dia kenal komputer juga mulai dari game tepatnya dari Education
Game).

Sering kita bermain bareng, bertukar informasi dan mencoba sebuah
game. Sering pula saya sampai rela meminjamkan HP saya yang N
Gage itu, HP game Nokia. Meski saya harus ke kantor tanpa HP.
Namun selama itu dia hanya main game di PC atau HP saya.

Namun beberapa waktu lalu dia mulai tahu main game di PS2. Ini
terjadi pas liburan ke desa, Pare. Dia diajak sepupu-sepupunya
bermain PS2. Tapi nggak sering dan lama karena harus rental, perlu
biaya. Tapi sejak salah satu sepupunya memiliki PS2, dia makin suka
main PS2.

Saya sendiri akhirnya juga mencobanya. Ya, dari kepunyaan
keponakan itu. Sejak itulah saya mulai kesengsem dengan PS2.
Jadinya kita sering membicarakan permainan PS ini. Dan meski tidak
merengek-rengek, dia ingin memiliki PS2 juga. Kita janjikan pas dia
sunat (dapat dari uang sumbangan he.. he..). Dia mengerti dan
setuju.

Tapi setelah melihat kondisi dunia gadget game, akhirnya saya mulai
menimbang-nimbang untuk membeli PS2 sekarang. Alasannya:

1. PS2 sudah diujung masa produksi.
Saat ini Sony sudah mengeluarkan lanjutan dari PS2 yakni PS3.
Seperti produk-produk lain, tentu saja produk yang digantikan ini
akan berhenti produksinya. Sehingga saat ini harga PS2 sudah di
ujung paling murah. Kalau menunggu lebih murah lagi, barang tidak
akan dijual lagi.

2. Best value PS2 tinggi.
Saat ini nilai best value PS2 sangat tinggi. Best value adalah nilai
yang didapat dari uang yang dikeluarkan. Saat ini PS2 sudah bisa
didapatkan dengan harga sekitar 1,5 juta. Padahal nilai yang
didapatkan banyak, seperti hiburan, perekat hubungan dan lainnya
(akan saya uraikan di akhir tulisan ini).

3. Support PS2 yang banyak.
Game-gamenya masih banyak dan murah harganya. 5000 rupiah
untuk 1 game. Belinya mudah, kadang ada di lapak depan Indomart.
Aksesoris pendukung juga banyak dan harganya terjangkau.
Bandingkan dengan PS3 yang gamenya susah dan mahal harganya,
500 ribu per game. Mana tahan.

4. PS2 adalah game console.
PS2 adalah game console. Memang sejak awal dirancang untuk main
game. Di komputer kita bisa main game, namun ada batasannya
tergantung spesifikasi komputernya. Sedang PS2, game itu tertera
untuk PS2 ya bisa langsung dijalankan. Beberapa game PS2 bisa buat
main 2 orang atau lebih. Dan yang menarik, beberapa game
mengaktifkan fungsi getarnya pada stik, sehingga memberi kesan
realistik ketika memainkannya. Asyik gitu.

5. PS3 yang belum siap.
Ketika saya mau beli PS2 banyak yang menyayangkan, kenapa beli
barang uzur begitu. Ya, kenapa saya tidak beli PS3 ? Kalau beli PS1
jelas tidak, karena memang sudah tidak dijual lagi. Selain itu
kualitasnya yang jauh berbeda. Untuk PS3 saya tidak mau membeli
karena harganya masih mahal, sekitar 5 juta. Gamenya sendiri harus
beli sekitar 500 ribu. Dan untuk maksimal TV-nya harus pakai TV LCD
atau TV Plasma. Ini harganya juga tidak murah. Jadi best value-nya
rendah.

Karena itu akhirnya saya mantap beli PS2. Apalagi di toko yang saya
beli itu bisa pakai kartu kredit tanpa surcharge 3% seperti biasanya.
Dan saya tambah semangat beli, karena ada warna selain hitam
yakni silver dan putih. Hebatnya harganya sama dengan hitam!
Padahal biasanya lebih mahal. Wah sudah, tanpa kelamaan nimbang
langsung saya bawa tuh PS2 yang putih.

Lalu alasan apa saya membeli PS2 di luar alasan teknis di atas ?

1. Untuk hiburan.
Hiburan adalah penyeimbang hidup. Kalau tak ada bisa bikin stress.
Kalau stress bisa timbul banyak penyakit. Baca saja tulisan-tulisan di
website saya, http://m.yusuf.web.id tentang stress penyebab banyak
penyakit.

2. Untuk mengisi waktu luang.
Dengan main PS2 kita jadi asyik, sehingga kita lupa dengan waktu.
Jadi kalau suntuk/jenuh ngga tahu harus ngapain ya bisa main PS2.
Ini ternyata berguna bagi Zidan dalam berpuasa. Bayangkan Zidan
sudah puasa maghrib di kelas 2 ini. Dan kuatnya dia puasa maghrib
terbantu dengan main game PS2.

3. Untuk keakraban.
Ini yang penting. Saya main PS2 bukan untuk menang kalah. Tapi
saya main PS2 untuk menambah keakraban antara saya dan anak
saya. Karena PS2 bisa multi player. Komputer sih juga bisa, tapi harus
2 komputer kan ? Itu pun harus ngeset jaringan dulu. Dengan main
bareng ini, kita bisa makin akrab karena bisa saling ledek, tertawa
bareng dan lainnya. Ini membuat hubungan antara orang tua dan
anak makin akrab dan erat.


~~~
Oleh: Mochamad Yusuf.
Dia adalah seorang konsultan IT senior di sebuah perusahaan web design.
Dia dapat ditemui di http://m.yusuf.web.id.

~~~
Saya tak tahu apakah keputusan saya ini benar atau salah. Karena itu
mohon sharing pengalaman atau pendapat tentang hal ini.
Mumpung belum lama saya memiliki PS2. He.. he..
Segala komentar bisa pula disampaikan di sini:
http://m.yusuf.web.id/v20/blog/index.php?act=detail&p_id=551



   Terima kasih
   M.Yusuf.web.id
   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
   Keberanian tanpa otak akan menang melawan otak tanpa keberanian.
   - [Pepatah] -
   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kirim email ke