Setuju bgt ama Mbak Yusri. Kyknya dlm segala hal kita emang hrs TEGAS ttg masalah aturan. Rata2 sbg ibu kita bisa lbh "killer" dlm menegakkan aturan drpd para bapak. Hal yg terjadi sama keponakan n anaknya jg terjadi ama keponakan2 ku. Walaupun aturan yg mereka tegakkan cukup keras maen PS cm weekend aja tp ya yg ada kl dah weekend gak mau pergi kemana2. Akhirnya ambil gampangnya biar gak berantem kl weekend akhirnya dibeliin PSP biar tuh game nya bisa dimaenin sambil pergi. Yg ada ya tetep konsennya cm ke PSP nya aja. Tapi ya jaman skrg rental PS aja dah ada kali di tiap RT jd ya gak bisa dipungkiri itu merupak suatu cara relaksasi anak2 kita jaman sakrg. Krn jaman dulu pun dah ada atari n nintendo yg ngetop bgt pd jamannya. Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message----- From: "- Yusri -" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Wed, 24 Sep 2008 07:27:58 To: <[email protected]> Subject: Re: [parentsguide] Tlg komentarnya: Salahkah Saya Beli PS2 ? Hik.....hik.....hik..... Uraian itu pasti akan keluar dari orang yg memiliki hobi main game juga. Tapi.....diluar itu semua, tetap ada efek negatifnya. Efek positif itu akan muncul jika kita sebagai ortu konsisten dengan peraturan yg dibuat. Hal itu sangat dirasakan oleh kakak saya (punya ada 2 laki2) dan saya (punya 1 anak laki2). Dan efek negatifnya ternyata sama. Padahal mrk gak saling kontak (usia mrk terpaut jauh dan kami tinggal di tempat yg berbeda, kakak saya di surabaya sedangkan saya di bogor). Saya juga akhirnya membelikan PS3 utk anak laki2 saya yg skrg berusia 10thn (saya ibu dari 3 putra putri). Kakak saya pun dulu....membelikan PS2 saat anak laki2nya kelas 4 SD (skrg anak2nya sdh kerja dan mahasiswa). Dan efek negatifnya tetap ada. Efek negatifnya : 1. Utk anak2 usia SD, akan sulit disuruh belajar. Kita harus "TEGAS" dalam menyuruh dia utk konsentrasi belajar. Klu kita tidak memberikan aturan mainnya, maka mereka akan "lupa belajar" atau bimbang saat belajar krn fikiran mrk tertuju pada PS. Dan itu tidak bisa kita paksa. Karena apa yg mrk fikirkan tidak akan bisa kita tentukan. 2. Saat anak sudah merasa siap utk ditinggalkan di rumah.......mereka akan "dengan senang hati" meninggalkan diri di rumah dan tidak mau ikut dalam acara2 keluarga. Jadi saya dan kakak saya (dulu) harus selalu memaksa mrk utk ikut gabung pergi dengan anggota keluarga yg lain. Akhirnya......anak akan menjadi soliter. 3. Saya sengaja tidak memasang PS itu dengan TV khusus. Artinya.....TV yg disambungkan dengan PS adalah TV yg dipakai oleh anggota keluarga yg lain utk menonton. Krn saya melihat ada yg "salah" pada diri keponakan saya. Dimana kakak saya memberikan TV khusus utk PS dengan maksud supaya anggota keluarga yg lain tidak terganggu jika ingin menonton TV. Akibatnya.....keponakan saya semakin soliter dan memisahkan diri dengan anggota keluarga lain saat dimana anggota keluarga lainnya saling bertukar cerita saat menonton TV. Sementara "kelemahan" pada diri saya dan anak saya, dimana TV nya harus berbagi.....akhirnya setiap saat saya harus mendengar merekan berebut TV. Yg satu ingin main PS, sementara yg lain ingin menonton TV. Segala sesuatu pasti ada sisi negatif dan positifnya. Dan utk mengimbangi sisi negatifnya, kita sebagai ortu tetap harus konsisten dalam membuat aturan main utk anak2 kita. Jangan sampai aturan main itu dilanggar hanya karena sang ortu juga mempunyai hobi yg sama. Tanpa aturan main, kita akan sulit menerapkan disiplin pada mereka. Dan konsekwensi nya....kita juga harus disiplin dengan peraturan yg ada. Dan saya memberikan peraturan pada anak saya, bahwa dia hanya boleh main PS hari sabtu dan minggu saja. Atau saat hari libur sekolah. Tapi.....dampaknya.....saat saya dan suami ingin membuat acara pergi di hari sabtu/minggu, dia merasa keberatan karena "hari main PS" dia hilang. Semoga dengan berbagi, kita bisa mengambil hikmahnya..... Regards, YUSRI email: [EMAIL PROTECTED] Sent from my BlackBerry� wireless device -----Original Message----- From: M Yusuf <[EMAIL PROTECTED]> Date: Wed, 24 Sep 2008 09:36:58 To: <[email protected]> Subject: [parentsguide] Tlg komentarnya: Salahkah Saya Beli PS2 ? Salahkah Saya Beli PS2 ? Lama sekali saya menimbang jadi tidaknya beli PS2. Saya takut dampak negatifnya kepada anak saya. Namun akhirnya saya mantap membelinya. Ada alasan kuat dan terbukti bisa berdampak positif. Apa itu ? Beberapa waktu lalu (22/8) sepulang kantor, saya putuskan langsung membeli Sony Play Station 2 (PS2). Memang tidak langsung memutuskan begitu saja. Tapi beberapa hari sebelumnya saya sudah menimbang-nimbang untuk membelinya. Bahkan saya sempat melakukan survey harga, baik di toko online ataupun di toko tradisional. Tentu saja ada yang tidak setuju ketika saya utarakan ide pembelian PS2 ini. Pertama, jelas dari istri tercinta. Tentu ini hubungannya dengan budget keluarga. Namun ketika saya utarakan saya beli dengan uang sendiri (uang laki he.. he..), ya istri setuju saja. Tapi dia juga khawatir dampak negatifnya. Ya, dampak negatifnya ini jadi keberatan yang kedua, yang akhirnya membuat lama menimbangnya. Saya takut Zidan, anak laki saya, menjadi malas belajar. Menjadi tidak suka membaca. Tidak mau bergaul dengan teman-temannya. Jadi penyendiri dan hal-hal negatif lainnya. Saya memang maniak game. Sejak beli komputer, bahkan sejak kenal komputer, saya suka fungsinya sebagai game. Bahkan beberapa kali 'melekan' sampai subuh hanya ingin menuntaskan sebuah cerita game. Dan maniaknya ini seperti menular ke Zidan. (Dia kenal komputer juga mulai dari game tepatnya dari Education Game). Sering kita bermain bareng, bertukar informasi dan mencoba sebuah game. Sering pula saya sampai rela meminjamkan HP saya yang N Gage itu, HP game Nokia. Meski saya harus ke kantor tanpa HP. Namun selama itu dia hanya main game di PC atau HP saya. Namun beberapa waktu lalu dia mulai tahu main game di PS2. Ini terjadi pas liburan ke desa, Pare. Dia diajak sepupu-sepupunya bermain PS2. Tapi nggak sering dan lama karena harus rental, perlu biaya. Tapi sejak salah satu sepupunya memiliki PS2, dia makin suka main PS2. Saya sendiri akhirnya juga mencobanya. Ya, dari kepunyaan keponakan itu. Sejak itulah saya mulai kesengsem dengan PS2. Jadinya kita sering membicarakan permainan PS ini. Dan meski tidak merengek-rengek, dia ingin memiliki PS2 juga. Kita janjikan pas dia sunat (dapat dari uang sumbangan he.. he..). Dia mengerti dan setuju. Tapi setelah melihat kondisi dunia gadget game, akhirnya saya mulai menimbang-nimbang untuk membeli PS2 sekarang. Alasannya: 1. PS2 sudah diujung masa produksi. Saat ini Sony sudah mengeluarkan lanjutan dari PS2 yakni PS3. Seperti produk-produk lain, tentu saja produk yang digantikan ini akan berhenti produksinya. Sehingga saat ini harga PS2 sudah di ujung paling murah. Kalau menunggu lebih murah lagi, barang tidak akan dijual lagi. 2. Best value PS2 tinggi. Saat ini nilai best value PS2 sangat tinggi. Best value adalah nilai yang didapat dari uang yang dikeluarkan. Saat ini PS2 sudah bisa didapatkan dengan harga sekitar 1,5 juta. Padahal nilai yang didapatkan banyak, seperti hiburan, perekat hubungan dan lainnya (akan saya uraikan di akhir tulisan ini). 3. Support PS2 yang banyak. Game-gamenya masih banyak dan murah harganya. 5000 rupiah untuk 1 game. Belinya mudah, kadang ada di lapak depan Indomart. Aksesoris pendukung juga banyak dan harganya terjangkau. Bandingkan dengan PS3 yang gamenya susah dan mahal harganya, 500 ribu per game. Mana tahan. 4. PS2 adalah game console. PS2 adalah game console. Memang sejak awal dirancang untuk main game. Di komputer kita bisa main game, namun ada batasannya tergantung spesifikasi komputernya. Sedang PS2, game itu tertera untuk PS2 ya bisa langsung dijalankan. Beberapa game PS2 bisa buat main 2 orang atau lebih. Dan yang menarik, beberapa game mengaktifkan fungsi getarnya pada stik, sehingga memberi kesan realistik ketika memainkannya. Asyik gitu. 5. PS3 yang belum siap. Ketika saya mau beli PS2 banyak yang menyayangkan, kenapa beli barang uzur begitu. Ya, kenapa saya tidak beli PS3 ? Kalau beli PS1 jelas tidak, karena memang sudah tidak dijual lagi. Selain itu kualitasnya yang jauh berbeda. Untuk PS3 saya tidak mau membeli karena harganya masih mahal, sekitar 5 juta. Gamenya sendiri harus beli sekitar 500 ribu. Dan untuk maksimal TV-nya harus pakai TV LCD atau TV Plasma. Ini harganya juga tidak murah. Jadi best value-nya rendah. Karena itu akhirnya saya mantap beli PS2. Apalagi di toko yang saya beli itu bisa pakai kartu kredit tanpa surcharge 3% seperti biasanya. Dan saya tambah semangat beli, karena ada warna selain hitam yakni silver dan putih. Hebatnya harganya sama dengan hitam! Padahal biasanya lebih mahal. Wah sudah, tanpa kelamaan nimbang langsung saya bawa tuh PS2 yang putih. Lalu alasan apa saya membeli PS2 di luar alasan teknis di atas ? 1. Untuk hiburan. Hiburan adalah penyeimbang hidup. Kalau tak ada bisa bikin stress. Kalau stress bisa timbul banyak penyakit. Baca saja tulisan-tulisan di website saya, http://m.yusuf.web.id tentang stress penyebab banyak penyakit. 2. Untuk mengisi waktu luang. Dengan main PS2 kita jadi asyik, sehingga kita lupa dengan waktu. Jadi kalau suntuk/jenuh ngga tahu harus ngapain ya bisa main PS2. Ini ternyata berguna bagi Zidan dalam berpuasa. Bayangkan Zidan sudah puasa maghrib di kelas 2 ini. Dan kuatnya dia puasa maghrib terbantu dengan main game PS2. 3. Untuk keakraban. Ini yang penting. Saya main PS2 bukan untuk menang kalah. Tapi saya main PS2 untuk menambah keakraban antara saya dan anak saya. Karena PS2 bisa multi player. Komputer sih juga bisa, tapi harus 2 komputer kan ? Itu pun harus ngeset jaringan dulu. Dengan main bareng ini, kita bisa makin akrab karena bisa saling ledek, tertawa bareng dan lainnya. Ini membuat hubungan antara orang tua dan anak makin akrab dan erat. ~~~ Oleh: Mochamad Yusuf. Dia adalah seorang konsultan IT senior di sebuah perusahaan web design. Dia dapat ditemui di http://m.yusuf.web.id. ~~~ Saya tak tahu apakah keputusan saya ini benar atau salah. Karena itu mohon sharing pengalaman atau pendapat tentang hal ini. Mumpung belum lama saya memiliki PS2. He.. he.. Segala komentar bisa pula disampaikan di sini: http://m.yusuf.web.id/v20/blog/index.php?act=detail&p_id=551 Terima kasih M.Yusuf.web.id --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Keberanian tanpa otak akan menang melawan otak tanpa keberanian. - [Pepatah] - ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

