Saya tidak memberi pendapat untuk seluruh bagian. Saya hanya mau mengomentari paragraf terakhirnya saja. Saudaraku, jgn pernah mengira bahwa kita memberikan perpuluhan untuk menggaji pendeta. Kita memberikan perpuluhan oleh karena Tuhan memerintahkan itu dan itu (alasan pemberian perpuluhan)sama sekali tidak ada hubungannya dengan pendeta. Mau pendeta itu berkenan sama kita atau tidak; mau pendeta itu suci di mata kita atau munafik di mata kita; atau mau pendeta itu rajin atau pendeta itu malas; tidak pernah ada alasan untuk menahan perpuluhan. Intinya, soal hormat-menghormati pendeta jangan kita kaitkan dengan kewajiban kita memberikan perpuluhan.
On Wed, 2008-08-27 at 21:21 -0700, pisctwentyfour wrote: > bagaimana si sebenarnya kita bersikap kepada seorang pendeta? > karena ada orang yang terlalu bahkan dibilang over dalam menghargai > dan menghormati seorang pendeta... apa apa selalu pendeta itu > didahulukan. mau begini mau begitu selalu pendeta... seolah olah > pendeta itu seorang dewa...ato gk turun2 dikit deh manusia 1/2 dewa > (kayak lagunya bang iwan..)... karena toh pendeta juga manusia, dan > pendeta bisa juga melakukan kesalahan... (ingat kasus kemarin2).. > terlebih kepada ketua daerah (konfrens) & officernya... > > oklah pendeta2 jaman dulu, tapi kalo melihat pendeta2 muda jaman > sekarang..wow..gaul men... > > logikanya nih pendeta kan dapat penghasilan dari perpuluhan yang > notabene sumbernya dari anggota jemaat yang setia bayarnya...tapi kok > kebalik yah? harusnya kan pendeta yang menghormati anggota jemaat > bukan sebaliknya? > ibarat bos dgn anak buah... bos kan yang bayar anak buahnya makanya > anak buahnya hormati bosnya bukan malah bos yang menghormati anak > buahnya? (walo tetap namanya saling hormat menghormati sih...) > > > > >

