Yth Pak Risfan M, ikut meramekan... melemaskan syaraf sejenak..

Kalau pada konteks ekonomi wilayah, seyogyanya Pemda-pemda yang terpengaruh 
dengan adanya TOL diajak berbicara pada saat perencanaan pembangunan dan 
penyusunan FS nya. Tapi walaupun tidak diajak bicara oleh pengusaha jalan TOL, 
karena dapat berita ada jalan TOL maka baiknya Pemda yang merasa bakal rugi 
angkat bicara. Nah  disini  saya kira masalahnya akan meluas ke arena kultur 
kita, mungkin, sehingga komunikasi dimaksud tidak jalan. Kabarnya banyak lho 
Pemda yang tidak aktif mengurusi bagaimana agar perekonomian daerahnya bisa 
lebih maju.
Salam, 
Rempu

--- On Wed, 10/8/08, Risfan M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Risfan M <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [perkotaan] Nilai lahan dan Intensitas Lahan
To: [email protected]
Date: Wednesday, October 8, 2008, 12:29 AM










    
            Bang Eka dan reman2 ysh,



Terima kasih atas tanggapannya. Mengenai perubahan nilai dan harga lahan akibat 
interaksi antara land-use dengan sistem transportasi saya gambarkan dalam 
Diagram-2 (terlampir atau di  blog Urban Land Economic). Pada prinsipnya 
pembangunan jalan (apalagi tol) antar kota akan meningkatkan nilai lahan di 
lokasi-lokasi yang mengalami peningkatan aksesibilitasnya. Nilai lahan akan 
diikuti dengan naiknya harga lahan pula, asal sites tersebut tidak ada 
restriksi untuk dibangun. Selanjutnya, walau sering lambat NJOP naik, sehingga 
PBB juga bisa naik. Tapi lebih dari itu yang diharapkan tentu economic 
multiplier effect nya, bagi kehidupan ekonomi lokal dan daerah.



Itulah manfaat pembangunan prasarana jalan bagi kawasan (dan masyarakat) yang 
diuntungkannya. Hanya sering kali tujuan semula terutama untuk manfaat akses 
regional (antar kota) misalnya, tapi masyarakat di sekitar (pintu tol) yang 
banyak diuntungkan. Tak ada yang salah, yang penting jangan sampai ekses 
keuntungan tersebut jangan sampai mengganggu fungsi utamanya. Kalau karena 
”numpang untung” tersebut fungsi jalan terganggu, ya percuma saja membangun 
jalan tersebut.

Perlu dicatat juga bahwa yang menikmati keuntungan meningkatnya akses karena 
jalan tol, misalnya, bukan hanya Bekasi saja, tapi sampai Bandung. Walau yang 
”dirugikan” juga ada, misalnya kota-kota Subang, Purwakarta, juga kota-kota 
kecil sepanjang jalur Puncak, yang arus lalu lintas harian (LHR)nya merosot 
tajam.



Kembali ke topik nilai lahan, dengan time-frame. Dengan diagram tersebut 
tergambar bahwa dalam jangka waktu tertentu peningkatan intensitas land-use 
sebagai respons dari pembangunan jalan tersebut bisa menimbulkan feed-back 
negatif, yaitu peningkatan pembangunan lahan yang over, sehingga menimbulkan 
masalah baru. Sehingga nilai lahan di titik-titik yang tadinya naik bisa 
merosot. Sehingga nilai lahan di waktu mendatang (Vt) tidak selalu naik.



Dari sisi pengambangn wilayah, kalau tidak diterapkan  ”growth management” dan 
penataan sistem transportasi yang memadai, akan menimbulkan kebutuhan lebih 
lanjut untuk pembangunan prasaran jalan lagi. Maka masalah akan berulang.



Sekali lagi kajian urban land economi ini membawa pesan, agar publik juga faham 
soal adanya peningkatan nilai lahan (dan siapa yang diuntungkan) dan biaya 
eksternalitasnya (dan siapa yang menanggungnya) . 



Salam,

Risfan Munir

Blog - http://urbaneconomi c.blogspot. com




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke