Pak Risfan ysh.
Gagasan Low-Car-Bon City sungguh sangat menarik, dengan kebutuhan berbagai
sub-tema, seperti misalnya: apakah berbasis keakraban lingkungan seperti
Kuala Kencana, keterjangkauan fasilitas karena neighbourhood unit yang
kompak, mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, dsb. Tidak ada satu
kota/kawasan yang mampu merangkul seluruh sub-tema tersebut karena terkait
kondisi alami dan budaya kota/kawasan tersebut. Dalam skala besar,
sebagaimana kita lihat di kota-kota metropolitan yang sudah maju, salah satu
yang dilakukan adalah menyediakan mass rapid transportation (mrt), membentuk
jaringan yang kompleks dengan menggunakan lahan bawah permukaan. Kita
seharusnya sudah melakukan hal ini bilamana ada kota yang sudah mencapai
jumlah penduduk 1 juta.
Untuk kota-kota menengah dan kecil, alternatifnya adalah dengan menata
kembali neighbourhood unit, dalam pengertian menyediakan ruang yang cukup
untuk fasilitas pelayanan perkotaan dalam satuan-satuan permukiman
perkotaan. Hal ini diasumsikan bila pola land readjustment masih mungkin
diterapkan karena ketersediaan lahan dapat diperlonggar.
Pola bike2work hanya mungkin diterapkan pada lahan relatif datar dan jarak
tempuh tidak terlalu jauh (< 5 km), atau ada kombinasi inter-moda yang baik
dan fasilitas parkir yang cukup pada setiap hub transportasi.
Penerapan konsep pada skala kawasan permukiman, saya kira dimungkinkan pada
kawasan baru dengan luasan < 50 Ha, dan dilaksanakan secara terpadu. Hal ini
tentunya membutuhkan satu manajemen pengelolaan, bisa saja dilaksanakan oleh
developer atau koperasi warga.
Saya pernah melihat satu proyek permukiman baru di sekitar Kyoto, yang
mencoba menerapkan seluruh standar secara baik. Langkah awal yang dilakukan
adalah menyediakan satu bendung yang cukup besar, digunakan untuk antisipasi
limpasan banjir, serta penyediaan keseimbangan air tanah. Kemudian
land-clearing yang mengikuti sebaiknya topografi, serta penyediaan lahan
publik. Kemudian juga menyediakan tempat pengolahan limbah. Kapling-kapling
tanah ditentukan secara teliti, termasuk bila berlokasi di hook diwajibkan
membebaskan sudut segitiga (untuk jalan kecil : 3 meter) sebagai jarak
pandang di persimpangan. Tersedia pedestrian, serta penempatan rambu dan
bangunan umum lainnya tidak mengganggu perlintasan pejalan kaki.
Mungkin saatnya kita mengembangkan standar-standar yang cermat dalam
mendukung low-car-bon-city di Indonesia. Salam.

-ekadj
2010/8/22 Risfan M <[email protected]>

> MENGGAGAS Low-Car-Bon CITY
>
> Berbicara penurunan emisi CO2 terkait efek GRK, pada lingkup perkotaan,
> secara spontan bicara Transportasi dan Land-use.
> Transportasi dengan kendaraan bermotor merupakan sumber CO2 terbesar, kalau
> pembangkit listrik di luar kota. Tentu penghematan energi harus dilakukan.
> Kedua, menangani Land-use, karena RTH berperan sebagai absorber CO2. Dan,
> kota yang sejuk tentu mengurangi kebutuhan AC.
> Land-use yang baik juga mengurangi kebutuhan trip, karena jarak tempat
> tinggal ke tempat belanja, sekolah menjadi pendek. Syukur-syukur kalau ke
> tempat kerja juga bisa dekat.
>
> Selain bidang Transportasi dan Land-use, yang masuk lingkup Perencana Kota
> adalah kriteria untuk Tata Bangunan. Intinya ialah agar pola tata bangunan
> mengurangi kebutuhan penghuni akan AC. Bisa menambah kehijauan lingkungan,
> walau sedikit.
>
> Penataan kawasan industri juga. Baik pola ataupun kriterianya bisa
> diarahkan agar mengurangi limbah yang keluar kawasan. Sehingga perlu
> diterapkan prinsip tiap kawasan mengolah limbah cair, udara, padat nya
> sendiri, sejauh mungkin. Menerapkan 3R - reduce, reuse, recycle.
> Juga menerapkan pollutant-pay principle, karena selama ini yang pricing nya
> lebih jelas adalah jasa yang dikonsumsi, termasuk air, listrik, tol, dst,
> sementara pengolahan limbah belum jelas.
>
> Banyaknya real-estate, terutama new-town, yang ditawarkan ke konsumen
> dengan konsep green, eco-mmunity, sustainable city, dst. Seperti halnya tema
> konferensi internasional FIABCI di Bali yang lalu. Ini jelas trend yang
> bagus. Namun tetap Perencana Kota mesti memonitor dan mengevaluasi agar itu
> benar-benar diterapkan, bukan sekedar gimmick pemasaran. Untuk itu kalau
> perlu selain ada penilaian, juga dibuat sayembara antar real-estate,
> newtown. Di samping juga guideline untuk pengembang skala kecil, tentang
> kaidah Low-carbon city itu seperti apa. Juga tak kalah penting ialah edukasi
> konsumen, agar mereka memilih berdasarkan kriteria "low carbon" juga,
> disamping lokasi, harga dan desain.
>
> PENDEKATAN
>
> Dalam hal Climate Change, GRK, dan low-carbon inisiative, nampaknya sejak
> awal disadari oleh banyak kalangan ini sebagai kepedulian kemanusiaan atas
> bumi. Jadi bukan karena program pemerintah, semantara masyarakat nunggu.
>
> Karena berawal dari kepedulian, yang sebetulnya juga kepedulian lama
> tentang lingkungan atau sustainable development. Momentum ini mesti
> digunakan sebaik mungkin.
> Dari sisi profesi perencana kota ialah dengan sesegera mungkin memberikan
> guideline. Awareness sudah ada, walau perlu terus ditingkatkan. Tapi saat
> ini sudah dibutukan tool praktis tentang "how to"nya. Supaya jangan ajakan
> dan slogan saja tanpa tahu apa yang mesti dilakukan.
>
> Berbagai inisiatif masyarakat seperti bike2work, penghijauan lingkungan
> skala komunitas, juga langkah-langkah korporat dalam promosi green dan
> program CSR hijaunya perlu didorong dan difasilitasi terus. Agar betul-betul
> menghasilkan sesuatu yang "tangible, measurable".
> Beri apresiasi bagi yang berprestasi dan promosikan hasilnya untuk bisa
> direplikasi oleh lingkungan lainnya, komunitas lainnya, korporat lainnya,
> kota lainnya, dst. Dengan demikian akan terjadi critical mass, suatu gerak
> perubahan masif.
>
> Selama ini wacana Perencanaan Kota sering bertolak dari masalah
> metropolitan, khususnya Jakarta. Dan, tidak jalan, frustrasi. Karena masalah
> Jakarta terlalu akut, dan skalanya terlalu besar. Maka mempertimbangkan
> bahwa urban area di Indonesia ini ada 500an lebih, sebaiknya dicoba strategi
> kebalikannya, yaitu "kota kecil, kota sedang mengepung metropolitan".
>
> Bayangkan perubahan yang bisa dilakukan di kota-kota setingkat Sukabumi,
> Sumedang, Tebing tinggi, Bukittinggi, Parepare, Kuopang, Jayapura. Rasanya
> suatu konsep Perencanaan Kota bisa feasible. Bike2work jadi mungkin, juga
> inisiatif pengolahan sampah berbasis komunitas, gerakan tanpa AC dan
> seterusnya. Juga jalinan kerjasama Pemerintah-Swasta-Masyarakat, juga
> rasanya lebih bisa dirintis dalam skala "manusia" biasa. Tak harus nunggu
> Bupati/Walikota atau Gubernur yang dalam kampanyenya memuat "green" mission.
>
> Banyak aparat pemerintah daerah, LSM, CBO, mahasiswa/pelajar, tokoh
> masyarakat, termasuk partai ttt dan kalangan korporat yang menunjukkan
> kepeduliannya. Tinggal bagaimana memfasilitasi dan memberikan guideline
> "what n how to do"nya. Semoga.
>
> Salam,
> Risfan Munir
> www. Wilayahkota.blogspot.com <http://wilayahkota.blogspot.com/>
>
>

Kirim email ke