MENGGAGAS Low-Car-Bon CITY

Berbicara penurunan emisi CO2 terkait efek GRK, pada lingkup perkotaan, secara 
spontan bicara Transportasi dan Land-use.
Transportasi dengan kendaraan bermotor merupakan sumber CO2 terbesar, kalau 
pembangkit listrik di luar kota. Tentu penghematan energi harus dilakukan. 
Kedua, menangani Land-use, karena RTH berperan sebagai absorber CO2. Dan, kota 
yang sejuk tentu mengurangi kebutuhan AC. 
Land-use yang baik juga mengurangi kebutuhan trip, karena jarak tempat tinggal 
ke tempat belanja, sekolah menjadi pendek. Syukur-syukur kalau ke tempat kerja 
juga bisa dekat.

Selain bidang Transportasi dan Land-use, yang masuk lingkup Perencana Kota 
adalah kriteria untuk Tata Bangunan. Intinya ialah agar pola tata bangunan 
mengurangi kebutuhan penghuni akan AC. Bisa menambah kehijauan lingkungan, 
walau sedikit. 

Penataan kawasan industri juga. Baik pola ataupun kriterianya bisa diarahkan 
agar mengurangi limbah yang keluar kawasan. Sehingga perlu diterapkan prinsip 
tiap kawasan mengolah limbah cair, udara, padat nya sendiri, sejauh mungkin. 
Menerapkan 3R - reduce, reuse, recycle. 
Juga menerapkan pollutant-pay principle, karena selama ini yang pricing nya 
lebih jelas adalah jasa yang dikonsumsi, termasuk air, listrik, tol, dst, 
sementara pengolahan limbah belum jelas.

Banyaknya real-estate, terutama new-town, yang ditawarkan ke konsumen dengan 
konsep green, eco-mmunity, sustainable city, dst. Seperti halnya tema 
konferensi internasional FIABCI di Bali yang lalu. Ini jelas trend yang bagus. 
Namun tetap Perencana Kota mesti memonitor dan mengevaluasi agar itu 
benar-benar diterapkan, bukan sekedar gimmick pemasaran. Untuk itu kalau perlu 
selain ada penilaian, juga dibuat sayembara antar real-estate, newtown. Di 
samping juga guideline untuk pengembang skala kecil, tentang kaidah Low-carbon 
city itu seperti apa. Juga tak kalah penting ialah edukasi konsumen, agar 
mereka memilih berdasarkan kriteria "low carbon" juga, disamping lokasi, harga 
dan desain.

PENDEKATAN

Dalam hal Climate Change, GRK, dan low-carbon inisiative, nampaknya sejak awal 
disadari oleh banyak kalangan ini sebagai kepedulian kemanusiaan atas bumi. 
Jadi bukan karena program pemerintah, semantara masyarakat nunggu.

Karena berawal dari kepedulian, yang sebetulnya juga kepedulian lama tentang 
lingkungan atau sustainable development. Momentum ini mesti digunakan sebaik 
mungkin. 
Dari sisi profesi perencana kota ialah dengan sesegera mungkin memberikan 
guideline. Awareness sudah ada, walau perlu terus ditingkatkan. Tapi saat ini 
sudah dibutukan tool praktis tentang "how to"nya. Supaya jangan ajakan dan 
slogan saja tanpa tahu apa yang mesti dilakukan.

Berbagai inisiatif masyarakat seperti bike2work, penghijauan lingkungan skala 
komunitas, juga langkah-langkah korporat dalam promosi green dan program CSR 
hijaunya perlu didorong dan difasilitasi terus. Agar betul-betul menghasilkan 
sesuatu yang "tangible, measurable". 
Beri apresiasi bagi yang berprestasi dan promosikan hasilnya untuk bisa 
direplikasi oleh lingkungan lainnya, komunitas lainnya, korporat lainnya, kota 
lainnya, dst. Dengan demikian akan terjadi critical mass, suatu gerak perubahan 
masif.

Selama ini wacana Perencanaan Kota sering bertolak dari masalah metropolitan, 
khususnya Jakarta. Dan, tidak jalan, frustrasi. Karena masalah Jakarta terlalu 
akut, dan skalanya terlalu besar. Maka mempertimbangkan bahwa urban area di 
Indonesia ini ada 500an lebih, sebaiknya dicoba strategi kebalikannya, yaitu 
"kota kecil, kota sedang mengepung metropolitan".

Bayangkan perubahan yang bisa dilakukan di kota-kota setingkat Sukabumi, 
Sumedang, Tebing tinggi, Bukittinggi, Parepare, Kuopang, Jayapura. Rasanya 
suatu konsep Perencanaan Kota bisa feasible. Bike2work jadi mungkin, juga 
inisiatif pengolahan sampah berbasis komunitas, gerakan tanpa AC dan 
seterusnya. Juga jalinan kerjasama Pemerintah-Swasta-Masyarakat, juga rasanya 
lebih bisa dirintis dalam skala "manusia" biasa. Tak harus nunggu 
Bupati/Walikota atau Gubernur yang dalam kampanyenya memuat "green" mission.

Banyak aparat pemerintah daerah, LSM, CBO, mahasiswa/pelajar, tokoh masyarakat, 
termasuk partai ttt dan kalangan korporat yang menunjukkan kepeduliannya. 
Tinggal bagaimana memfasilitasi dan memberikan guideline "what n how to do"nya. 
Semoga.

Salam,
Risfan Munir
www. Wilayahkota.blogspot.com

 
   

Powered by Telkomsel BlackBerry®

------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/perkotaan/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/perkotaan/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke