Rekan-rekan Permias@

Merayakan hari valentine dan merayakan tahun baru adalah kebebasan
kita masing-masing sebagai individu. Mau dirayakan atau tidak terserah
pada keputusan pribadi masing-masing.
Terserah pada keputusan MUI Singapur kalau hendak mengeluarkan pernyataan
bahwa tidak patut bagi kalangan muslim singapur untuk tidak merayakan
valentine's day, dan juga terserah pada kalangan muslim singapur
untuk mengikuti petunjuk dari MUI singapur tsb. Terserah pada
saudara erwin dan masyarakat barat pada umumnya untuk meneruskan tradisi
tersebut.

Hari natal saja tidak diperingati oleh beberapa golongan Kristen
seperti Jehovah Witness, Kristen Adventist, dll.
Yang kata mereka hari natal bukanlah jatuh pada bulan december atau
musim winter, melainkan pada musim gugur yang bertepatan pada
sekitar bulan mei di kawasan timur tengah. Pemikiran ini ditandakan
dengan adanya para gembala yang mengembalakan domba-dombanya
saat Yesus Lahir. Tidak ada kan gembala yang menggembalakan dombanya
pada saat musim salju. But...ini adalah kepercayaan mereka,
tetapi Kristen umumnya lebih merasa bulan december adalah bulan
yang cocok untuk merayakan kelahiran sang Juru Selamat Isa Almasih.

Saya rasa bukan lah waktu yang penting untuk merayakan suatu ibadah,
tetapi inti daripada ibadah itu sendiri. Pentingkah Natal kalau hanya
dirayakan setiap tahun sekali, bukankah beribadah kepada Tuhan
adalah 24 jam, 7 hari, 365 hari setahun.

inti ibadah dari Natal itu sendiri adalah merayakan hari kelahiran
Yesus di muka bumi ini, Tuhan yang menjelma ke dalam bentuk manusia,
untuk menyelamatkan manusia dari dosa yang telah diperbuat Adam
dan Hawa. Nah nantinya akan kita peringati hari Pantekosta dan hari
Paskah yang menandakan Kematian dan Kebangkitan Yesus Melawan Maut.

Jadi bukan hadiah-hadiah yang gemerlapan, pohon natal yang indah
dihiasi lampu-lampu kristal, atau telur-telur paskah yang
berhias gambar-gambar lucu, tetapi inti dari Natal dan Paskah itu
tersebut, intinya untuk mengingatkan umat Kristiani bahwa
Tuhan masih memperhatikan kita semua manusianya.

Seperti kata Alkitab, "Tubuhmu adalah Bait Suci Allah"
(Gua ngambil literarynya nih....alias malas ke gereja)

Amin.....

Andrew Pattiwael







On Mon, 25 Jan 1999, Erwin wrote:

> >Jelas, ini bukan pendapat saya, apatah artinya saya, orang awam yang tidak
> >lebih tahu dari para ulama. Ini posting bukan bermaksud menghujat,
> >mengkafirkan ataupun menyalahkan teman2 yang kurang setuju. Ini hanyalah
> >sekedar urun tahu dan syukur bisa tambah informasi.
>
>
> apatah artinya saya pula kalau begitu...
>
> Namun, yang hendak saya tanyakan, apakah ini sudah jadi kesepakatan seluruh
> Ulama di dunia? Sebab, setahu saya, saya  belum dengar MUI meminta kaum
> muslim tidak merayakan tahun baru.
>
> Tapi, kalau tak salah, boleh tidaknya Megawati jadi Presiden pun, para ulama
> di Indonesia belum sepakat.
>
> apatah artinya saya pula kalau begitu, ditengah kebingungan para ulama...
>
> >Melihat pada bentuk sambutan yang diadakan jelas menunjukkan bahawa
> >sambutan ini lahir dari amalan masyarakat Barat yang majoritinya beragama
> >Kristian. Tentu sekali mereka merayakannya kerana ianya menanda-kan
> >permulaan awal tahun baru berdasarkan taqwim Masihi mereka. Bukan itu saja,
> >malahan acara-acara yang diadakan pada malam itu menggalakkan percampuran
> >bebas lelaki dengan perempuan yang bukan mahramnya, bermandikan minuman
> >keras dan nyanyian yang melalaikan dan melekakan orang yang menghadirinya.
>
>
> Yang saya heran, apakah perlu benar menuliskan "amalan masyarakat Barat yang
> majoritinya beragama Kristian"?
>
> Tapi, kalau dipikir-pikir, menarik juga, di satu sisi film-film Hollywood
> kerap dituduh beberapa ulama menyamaratakan seluruh orang Islam sebagai
> teroris, karena penggambaran tokoh antagonisnya beragama Islam (sebagai
> contoh, dicabut edarnya "True Lies"), namun di sisi lain beberapa kaum ulama
> pun merasa perlu untuk menuliskan "menggalakkan percampuran bebas lelaki
> dengan perempuan yang bukan mahramnya, bermandikan minuman keras dan
> nyanyian yang melalaikan dan melekakan orang yang menghadirinya" sebagai
> amalan masyarakat barat yang majoritinya beragama Kristian. Lihat
> kontradiksinya?
>
> >Melihat pada bentuk sambutan yang diadakan jelas menunjukkan bahawa
> >sambutan ini lahir dari amalan masyarakat Barat yang majoritinya beragama
> >Kristian. Tentu sekali mereka merayakannya kerana ianya menanda-kan
> >permulaan awal tahun baru berdasarkan taqwim Masihi mereka. Bukan itu saja,
> >malahan acara-acara yang diadakan pada malam itu menggalakkan percampuran
> >bebas lelaki dengan perempuan yang bukan mahramnya, bermandikan minuman
> >keras dan nyanyian yang melalaikan dan melekakan orang yang menghadirinya.
>
> >
> >Yang menjadi kebimbangan ialah ramainya bilangan anak Melayu/Islam kita
> >yang menjadi peserta dan kadang-kala turut menjadi penganjur pada sambutan
> >yang tidak layak dilakukan oleh orang-orang Islam. Mereka perlu sedar
> >bahawa sebagai seorang Islam, kita perlu berhati-hati dalam memilih
> >kegiatan-kegiatan luar agar tidak menjejas aqidah Islam yang suci ini.
>
>
> Yah, karena merayakan Tahun Baru ternyata terkesan sebuah dosa, mungkin
> kebiasaan mengikuti dan menuliskan tanggalan berdasarkan taqwim Masihi
> merupakan sebuah dosa pula...
>
> Jadi, berhati-hatilah, sebab Windows yang sedang ada di depan Anda pun
> menggunakan taqwim Masihi.
>
> Salam,
> Erwin 2041
> [EMAIL PROTECTED]
> [EMAIL PROTECTED]
> [EMAIL PROTECTED]
> [EMAIL PROTECTED]
> [EMAIL PROTECTED]
>

Kirim email ke