>Jelas, ini bukan pendapat saya, apatah artinya saya, orang awam yang tidak
>lebih tahu dari para ulama. Ini posting bukan bermaksud menghujat,
>mengkafirkan ataupun menyalahkan teman2 yang kurang setuju. Ini hanyalah
>sekedar urun tahu dan syukur bisa tambah informasi.
apatah artinya saya pula kalau begitu...
Namun, yang hendak saya tanyakan, apakah ini sudah jadi kesepakatan seluruh
Ulama di dunia? Sebab, setahu saya, saya belum dengar MUI meminta kaum
muslim tidak merayakan tahun baru.
Tapi, kalau tak salah, boleh tidaknya Megawati jadi Presiden pun, para ulama
di Indonesia belum sepakat.
apatah artinya saya pula kalau begitu, ditengah kebingungan para ulama...
>Melihat pada bentuk sambutan yang diadakan jelas menunjukkan bahawa
>sambutan ini lahir dari amalan masyarakat Barat yang majoritinya beragama
>Kristian. Tentu sekali mereka merayakannya kerana ianya menanda-kan
>permulaan awal tahun baru berdasarkan taqwim Masihi mereka. Bukan itu saja,
>malahan acara-acara yang diadakan pada malam itu menggalakkan percampuran
>bebas lelaki dengan perempuan yang bukan mahramnya, bermandikan minuman
>keras dan nyanyian yang melalaikan dan melekakan orang yang menghadirinya.
Yang saya heran, apakah perlu benar menuliskan "amalan masyarakat Barat yang
majoritinya beragama Kristian"?
Tapi, kalau dipikir-pikir, menarik juga, di satu sisi film-film Hollywood
kerap dituduh beberapa ulama menyamaratakan seluruh orang Islam sebagai
teroris, karena penggambaran tokoh antagonisnya beragama Islam (sebagai
contoh, dicabut edarnya "True Lies"), namun di sisi lain beberapa kaum ulama
pun merasa perlu untuk menuliskan "menggalakkan percampuran bebas lelaki
dengan perempuan yang bukan mahramnya, bermandikan minuman keras dan
nyanyian yang melalaikan dan melekakan orang yang menghadirinya" sebagai
amalan masyarakat barat yang majoritinya beragama Kristian. Lihat
kontradiksinya?
>Melihat pada bentuk sambutan yang diadakan jelas menunjukkan bahawa
>sambutan ini lahir dari amalan masyarakat Barat yang majoritinya beragama
>Kristian. Tentu sekali mereka merayakannya kerana ianya menanda-kan
>permulaan awal tahun baru berdasarkan taqwim Masihi mereka. Bukan itu saja,
>malahan acara-acara yang diadakan pada malam itu menggalakkan percampuran
>bebas lelaki dengan perempuan yang bukan mahramnya, bermandikan minuman
>keras dan nyanyian yang melalaikan dan melekakan orang yang menghadirinya.
>
>Yang menjadi kebimbangan ialah ramainya bilangan anak Melayu/Islam kita
>yang menjadi peserta dan kadang-kala turut menjadi penganjur pada sambutan
>yang tidak layak dilakukan oleh orang-orang Islam. Mereka perlu sedar
>bahawa sebagai seorang Islam, kita perlu berhati-hati dalam memilih
>kegiatan-kegiatan luar agar tidak menjejas aqidah Islam yang suci ini.
Yah, karena merayakan Tahun Baru ternyata terkesan sebuah dosa, mungkin
kebiasaan mengikuti dan menuliskan tanggalan berdasarkan taqwim Masihi
merupakan sebuah dosa pula...
Jadi, berhati-hatilah, sebab Windows yang sedang ada di depan Anda pun
menggunakan taqwim Masihi.
Salam,
Erwin 2041
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]