Kalau nurut saya sih, lebih baik dilepas saja secepatnya.
Lagi jaman begini ini, setiap dime dana sangat berharga.
Lebih baik dipakai buat memelihara infrastuktur yang mulai
rusak, syukur-syukur bisa dipakai bangun yg baru. Contoh
untuk Sulawesi yg dari dulu jalan trans-nya nggak pernah
kelar....

Masyarakat Tim-tim kan mempunyai resource yang besar,
jadi biar cepat menjadi negara maju. Syukur-syukur bisa
mensejajari Australia, misal dengan penjualan kopi,
dan juga minyaknya di celah Timor yang terkenal itu......

Selama ini sudah terlalu mahal harga yang kita bayar
untuk menyelamatan muka politik atau harga
diri pemerintah. Dengan proporsi jumlah penduduk dan
pendapatan asli daerah, lalu kita bandingkan dengan
dana yang dikucurkan ke sana, juga darah yg membanjir
sejak tahun 77, sudah melampaui batas lah. Masih banyak
propinsi lain dengan proporsi penduduk maupun pendapatan
jauh lebih besar malah seperti dianaktirikan. Belum lagi
tuduhan-tuduhan HAM baik dari kalangan dari DN maupun LN.
Yah, ibarat anak, kalau mau mandiri ya sudah kasih aja....
Pusing amat....

Misal dikasih waktu referendum sampai 10 tahun misalnya,
apa nggak akan timbul keinginan untuk merangkul kembali?
Nah, namanya juga membujuk, maka ya harus kasih sesuatu
yg menarik. Misal dengan kucuran dana...lagi.... Nanti
propinsi yg lain yg juga butuh makin terlunta-lunta.
Mending diputuskan dengan cepat lah...

Cuma saya kurang setuju dengan IA masalah Aceh dan Irja.
Sejak RI didirikan definisi wilayah RI juga mencakup wilayah
itu. Malah kalau kita mau baca sejarah, mula-mula wilayah
kita tadinya akan meliputi semenanjung Malaya yg masih
ada di bawah Inggris kala itu. Sejarah berkata lain.... Bila setiap
waktu sebagian rakyat berontak terus dikasih merdeka, wah
bubar itu negara. Negara yg katanya pendekar HAM-pun
nggak akan bertindak begitu. Sebagian rakyat Texas ada
yg pengen bikin negara Texas, nyatanya dilindas habis.
Irlandia Utara juga dilindas habis sama pemerintahan London.
Okay lah di Texas orang yg berontak dikit, bagaimana dg di
Irlandia Utara? Mungkin kita mesti agak berhati-hati menterjemahkan
arti HAM dan menegakkan berdirinya suatu negara.

Kalau saya sih mending berdoa agar Habibie tidak bertindak
seperti Gorbachez yang dipuja kalangan barat, juga warga Sovyet
kala itu. Nyatanya setelah jangka panjang makin banyak saja
yang membencinya. Kalau US sih jelas suka cita...lha wong jadi
satu-satunya negara adidaya. Untuk kasus kita, Australia jelas
suka cita.....bisa dapat kesempatan eksploit Timtim....juga Irja...
Kan mereka lebih punya teknologi dibandingkan RI.

Sekedar pendapat....

Wassalam,
BJ


Indra Adrisudiro wrote:

> On Wed, 27 Jan 1999 18:16:33 +0700, Hadeer wrote:
> -------------------------------------------------
> |> Kalau boleh...saya pilih Timtim tetap ikut Indonesia...
> |> salam,
>
> IA: Kalau saya sih lebih suka menyerahkan keputusan itu
>     kepada rakyat Tim-Tim via referendum. Kalau nanti
>     keputusannya mau gabung ... ya silakan gabung, mau
>     misah ... ya monggo.
>
>     Hal yang sama juga bisa diterapkan buat DI Aceh atau
>     IrJa. Kalau mereka dasarnya nggak mau gabung, kenapa
>     harus dipaksa-paksa. Biarkan rakyat di daerah-daerah
>     tsb. menentukan nasibnya sendiri. Katanya demokrasi :-)

--
               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)

Kirim email ke