Bang Bahjuri :
Ooo...begitu...maaf Bang Bahjuri...kirain LSM yang itu....ternyata LSM yang ini ...:-)
Kalau LSM yang ini saya juga setuju....
Saya sudah baca Web nya....kapan ya kita (saya) bisa begitu ?
Hadeer
====================================================================
Sampai Jenazahnya pun Tak Terurus
Kisah sekelompok anak muda yang telaten menangani anak-anak jalanan. Sepuluh jempol untuk mereka.
<Picture>Udara pengap sekali di Stasiun Wonokromo, Surabaya siang itu. Sebuah obrolan dengan Rico (13) yang sedang memeluk gitar, terjadi di salah satu sudut. "Kalau mau shalat, takut, Mas," katanya polos.
"Baju saya kotor. Saya tidak punya celana panjang. Takut dosa," tambahnya kemudian. Tangannya terus memetik gitar sambil menghafalkan lagu-lagu yang bakal dijajakan di kereta api. Di sela jemari tangan kanannya terselip sebatang rokok yang diisap berulang-ulang. Sebagaimana anak-anak jalanan pada umumnya, Rico seorang perokok berat.
Mengapa uang dari ngamen tidak dibelikan celana? "Untuk makan sehari-hari saja cuma pas-pasan." kilahnya.
Ingin sebenarnya ia shalat lima waktu secara penuh. Apalagi bila ingat masa kanak-kanaknya di Kertosono Jawa Timur dulu. Ia termasuk anak yang rajin ke masjid. Di sana ia shalat dan mengaji. "Saya dulu ngaji sama teman-teman di desa, di mushala," katanya.
Suatu hari ia akan ikut shalat berjamaah di masjid Pasar Wonokromo. Masjid itu setiap hari selalu dilewatinya. "Tapi sama petugas (takmir) saya diusir," ungkapnya. Mungkin karena penampilannya yang dekil dan kumal, sehingga takmir mencurigainya. Sejak saat itu ia malas shalat. Kapok. "Sudah di stasiun sering diuber polisi, ke masjid diusir takmir," tukasnya kesal.
"Tapi kalau di Pondok Sadar semua harus ikut aturan. Teman-teman yang malas shalat subuh disiram air," kata Wili (15) teman Rico. "Yang kelewat bandel ya dipukul," tambah Wili yang nama aslinya Paiman ini. Pondok Sadar adalah nama sebuah rumah yang dikelola sekelompok anak muda, sebagai rumah singgah anak-anak jalanan. Letaknya di belakang Rumah Sakit Islam Surabaya, Wonokromo.
Kehidupan di rumah berukuran 6x15 meter per segi itu tak kalah menariknya. Misalnya shalat subuh. Mungkin karena lelah setelah sehari penuh di jalan dan kebetulan pengurus Pondok sedang tidak ada, tampil lah salah satu sebagai imam. Sambil terkantuk-kantuk mereka terus shalat. Rakaat kedua sudah hampir selesai, eh.. imamnya malah menambah satu rakaat lagi. Seorang temannya yang tidak ngantuk tertawa cekikikan. Dia hendak menegur sang imam, tapi tidak mengerti caranya. Begitu salam, dikasih tahu kalau shalatnya kelebihan, sang imam tidak memberi komentar apa-apa. Malah ia langsung saja menjatuhkan badannya, terus tidur lagi. Ya makmumnya apa kata imam, ikut tidur.
***
Disebut anak jalanan karena mereka mencari hidup dan tidur di jalan. Menurut data yang dikeluarkan Departemen Sosial dan UNICEF, awal tahun l998 jumlah anak jalanan di Jawa Timur 16.000 orang. Kini diperkirakan jumlahnya sudah menjadi 20.000, seiring memburuknya keadaan ekonomi.
Membina anak-anak ini bukanlah persoalan gampang. Mereka terbiasa hidup bebas (dalam definisinya). Mereka juga merasa sudah mampu mencari uang sendiri. Tingkat mobilitasnya juga sangat tinggi. Bila hari ini ada di terminal Bungurasih, besok boleh jadi sudah tidur di emperan toko Pasar Senen Jakarta. Lusa mungkin sudah ada di Bandung atau Semarang. Malah tidak sedikit yang menyeberang ke Sumatera. Soal transportasi, buat mereka tidak terlalu repot. Mereka biasa nggandol bis, truk atau kereta api. "Bayarnya dengan memijit supir atau kenek," kisah salah seorang mereka.
Beberapa hal itulah yang menyebabkan mereka susah diatur. Maka mengumpulkan mereka nyatanya memang sama sulitnya dengan mengurai nasib mereka. Mengorek latar belakang mereka tidaklah gampang. Mereka cenderung tertutup, hanya kepada orang tertentu yang sudah dikenal dengan baik, mereka mau membuka diri.
Mereka tak banyak peduli dengan identitas diri. Nama, misalnya, dalam sehari bisa berganti 5 kali, tergantung tempat dan orang yang menanyakan. Seperti Rico itu, setidaknya ia punya 3 nama lain lagi: Nanang, Rio, dan Eko.
Dengan kondisi seperti itu, tentu saja membina mereka tidak bisa main paksa atau dengan aturan disiplin yang terlalu ketat. Setidaknya, begitulah pengalaman, Hanim Masrura, Syaiful, Denti Sudiana dan Syamsul Arif, para relawan dari Pondok Sadar yang sudah satu tahun ini bergumul dengan mereka.
Para relawan ini sering kali justeru menjemput bola, mendatangi tempat-tempat yang biasa digunakan mangkal anak-anak itu. Seperti terminal Bungurasih, stasiun Wonokromo, stasiun Gubeng, Pasar Turi atau perempatan-perempatan jalan.
Seperti yang dilakukan Denti Sudiana (25). Seakan tanpa menghiraukan kebisingan lalu lintas, dokter hewan lulusan Universitas Airlangga ini tidak kelihatan kikuk bergaul dengan anak-anak itu. Secara bergilir ia mengajari mereka ngaji. Jika lampu merah menyala berhenti sebentar, karena anak-anak berhamburan ke jalan, ngamen. Begitu seterusnya.
Demikian juga yang dilakukan Hanim Masruroh. Mahasiswi Universitas Darul Ulum Jombang ini biasanya turun di gang Kelinci, sebuah kawasan kumuh yang terletak antara terminal Joyoboyo dan Kebon Binatang Surabaya. Di sana ada satu ruangan sederhana yang digunakan sebagai pondok belajar. Ada sekitar 75 anak yang khusus belajar membaca huruf al-Qur'an dan shalat.
Pendidikan agama memang mendapat tekanan khusus dari para relawan Pondok Sadar, disamping aspek-aspek lainnya misalnya, pendidikan umum, kebersihan, juga akhlak. Didirikan setahun lalu, LSM ini milik Yayasan SPMAA (Sumber Pendidikan Mental Agama Allah) Lamongan.
Pondok Sadar merupakan satu dari dua divisi di bawah Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) yang didirikan di Desa Turi, Kecamatan Turi, Lamongan tahun 1961. Divisi lainnya ialah Bimaskoda (Bimbingan Masyarakat Kota dan Desa). Dua divisi tersebut merupakan program kerja dari cabang SPMAA Surabaya yang secara resmi dibuka 1997. Pondok Sadar merupakan fokus kegiatan mereka untuk menangani anak-anak jalanan.
Sebagaimana tercermin dari nama 'pondok', lembaga ini ingin membangun citra positif religius anak-anak jalanan. Sedang 'sadar' bermakna memberikan kesadaran terhadap anak-anak jalanan, yang tengah kehilangan aspek-aspek sadarnya sebagai akibat pergulatan hidup di lingkungan mereka.
"Pondok Sadar Tempat Kami Belajar Hidup Wajar," demikian motto yang tertera di leaflet. Ada 15 relawan yang bergabung dengan Pondok Sadar. Hampir semuanya berasal mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya. "Anak-anak jalanan sama seperti anak-anak yang lain. Mereka layak memperoleh perlindungan, hak-hak pemahaman dan penyadaran tentang makna hidup," jelas Amirul Mu'minin, SPd (35), pimpinan Pondok Sadar.
Ada sekitar 400 anak jalanan yang kini mereka santuni. Latar belakang mereka sangat beragam, mulai dari pengamen, pencopet, pengedar obat terlarang, sampai pengemis. Sedihnya, sebagian dari mereka ada yang berasal dari keluarga baik-baik. Contohnya Rico itu. Seperti ditulis di muka, anak yang ketika ditanya tidak tahu jumlah saudaranya ini pernah mencicipi pendidikan agama di kampungnya.
Tetapi kemudian, karena merasa kelewat sering dimarahi ibunya, ia minggat. Padahal waktu itu usianya masih bau kencur, 9 tahun. Ia lalu hidup menggelandang di Kertosono. Di kota kelahirannya itu ia mencari makan sendiri dengan cara mengamen. Di Kertosono pula ia pernah merasakan hidup di balik jeruji besi selama 3 bulan, gara-gara meludahi seorang polisi. Gara-gara sudah lama menyanyi, tapi tak dihiraukan oleh pak polisi itu. "Saya memang anak bengal, Mas," cetusnya seakan menyadari dirinya.
"Pernah saya ditawari mengedarkan ecstasy, tapi saya lari," katanya sambil ngeloyor pergi. "Saya mau ngamen di Bonbin (Kebon Binatang), ah." Tanpa rencana, spontan saja Rico menghilang.
Di Pondok Sadar, anak-anak itu diajak melakukan 13 matra sadar. Sadar mandi, sadar istirahat, sadar belajar, sadar bersopan santun, sadar hidup bersih, sadar beribadah, sadar setia kawan, sadar hukum dan peraturan, sadar kerja halal, sadar menabung, sadar pulang, sadar bermasyarakat, dan sadar bermasa depan.
Untuk belajar, di rumah yang sempit itu, mereka menggunakan ruang tamu 3x7 meter persegi yang tidak berkursi. Di sana ada sebuah papan tulis, dan sebuah white board, serta kertas peraga. Di dinding ruangan yang muram tapi bersih ini terpampang gambar tata cara shalat, wudhu, silsilah nabi-nabi, juga kaligrafi bertuliskan "Muhammad". Mau tahu dari mana kaligrafi itu diperoleh? Itu mereka peroleh sendiri dari tempat sampah.
Tidak jarang mereka membawakan aneka ragam oleh-oleh untuk pengasuh. Beras, ayam potong, ikan, sayur-mayur, serta buah-buahan. Selain itu juga membawa aneka barang seperti panci, dompet, gelas, sendok, piring sampai-sampai ecstasy. "Barang-barang itu kebanyakan dari hasil curian anak-anak," kata Hanim tenaga relawan yang paling senior di sini. Cara mengetahui barang itu curian atau tidak? "Saya tanya, kalau mereka ketawa-ketawa ya itu tandanya hasil curian," kata Hanim sambil tersenyum. Jadi barang-barang itu mereka sikat dari pasar, warung atau rumah orang.
Dua tahun Hanim di sini, kadang ada rasa lelah. Di antara kelelahannya itu Hanim sering tersentuh oleh ungkapan anak-asuhnya yang sering di luar perkiraan. Misalnya ada yang bilang begini. "Mbak kenapa yah, uang yang hasil dari nyopet walaupun banyak kok cepat habis, tapi kalau dari ngamen tidak." Ungkapan itu meluncur begitu saja dari anak asuhnya yang berumur tidak kurang dari 10 tahun. "Makenya juga enakan yang dari ngamen," tambah mereka. Kadang-kadang mereka menyanyikan lagu untuk pengasuhnya.
Suatu kali seorang di antara mereka tiba-tiba terjatuh, seharian tak sadarkan diri. Seorang temannya membisiki pengasuh sambil cengengesan. Katanya, mereka sengaja ngerjain temannya itu. Karena dulu dia pernah diperlakukan serupa.
Celakanya, ada yang pernah mencoba ngerjain pengasuh dengan ramuan daun kecubung campur telur direbus yang bisa memabukkan. Maksudnya supaya pengasuh merasakan fly. Tapi tingkah konyol itu mereka batalkan sendiri setelah pikir-pikir ulang. Bukankah para pengasuh selama ini mengurus dirinya, mengajari ngaji dan shalat? Mengapa harus dicelakakan?
"Tapi namanya anak jalanan, sewaktu-waktu sifat aslinya muncul," ungkap Hanim. Kalau sudah begitu ada yang mabuk, disusul merusak apa saja, pintu dan kaca jendela. Tapi kepada pengurus mereka tetap segan.
Meskipun begitu, rasa segan tidak selalu menjamin keamanan barang milik pengasuh. Barang-barang milik Yayasan kadang ikut disikat pula. Uang atau pakaian relawan yang sebagian tinggal di asrama untuk mengawasi anak-anak, ikut lenyap. Bahkan tempat tidurnya pun pernah dijual secara diam-diam. Meski sudah diketahui siapa pelakunya, mereka toh tidak diberikan sanksi. "Ini sudah risiko memilih hidup bersama mereka," kata Gus Amirul, yang pernah terpilih sebagai Pemuda Pelopor tingkat nasional, kepada Sahid.
Dua buah kamar di bagian belakang jadi tempat istirahat. Di sinilah mereka berbagi kisah dari jalanan, bercanda melepas lelah. Alhamdulillah, Hanim gembira, karena perlahan mereka mulai mengurangi pekerjaan yang jelek-jelek. Sebagian besar memilih ngamen. "Tapi yang sangat berat menghilangkan kebiasaan merokoknya," kata Hanim.
Dua kamar sempit itu selalu tambah pengap oleh asap rokok. Dunia mereka di jalanan seolah pindah ke situ. Ngomongnya juga khas anak jalanan; keras, kasar, dan ngotot. Yang sedikit membedakan, cara berpakaian dan penampilannya yang sudah lebih rapi.
Di asrama, setiap malam anak-anak itu belajar agama dan pengetahuan umum lainnya. Karena kebetulan ada relawan yang kuliah di jurusan bahasa Inggris, anak-anak itu juga diajari bahasa internasional itu.
Jika ada yang kelihatan serius sekolah, oleh Yayasan juga disekolahkan, dengan biaya ditanggung Yayasan. Bahkan beberapa di antaranya ada yang secara serius ingin mendalami Islam. "Untuk anak seperti ini kami kirim ke Pesantren di Lamongan," kata Syaiful.
Di samping dibekali sikap hidup dan pengetahuan keislaman, mereka juga dibiasakan untuk menabung. Tanggung jawab atas Tabungan Anak Sadar (TAS) dipegang oleh Syaiful.
�
Dikuasai Preman
Karena sering tersisih, kebanyakan orang tak peduli pada perkembangan kepribadian anak-anak jalanan. Kalau 20.000 anak itu dibiarkan tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang bermasalah, dalam 10 tahun lagi Surabaya terancam panen badai persoalan serius.
Menurut Amirul --yang pernah menyelami berbagai karakter anak jalanan di Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Medan dan Ujung Pandang ini-- di Surabaya yang paling berat terdapat di dua tempat yakni di stasiun Wonokromo dan di terminal Bungurasih. Perilaku kasar ini sangat dipengaruhi oleh kerasnya kehidupan mereka. Mereka biasa dianiaya para 'atasan'nya, para preman.
Bila pendapatan dianggap tidak memadai, bukan cuma umpatan dan hardikan kasar, para preman tidak segan menganiaya anak-anak belasan tahun ini dengan bogem dan kakinya.
Menurut Amirul, dendam dan amarah mulai tertanam sejak usia dini. Jika ditanya apa cita-cita mereka? Spontan kebanyakan mereka menjawab ingin jadi polisi. Dalam benak mereka, polisi merupakan sosok orang yang menang. Penampilannya gagah dan punya pistol sehingga disegani banyak orang, termasuk preman-preman atasan mereka tadi. Kepada pak polisi juga mereka punya dendam tersendiri karena selalu dikejar-kejar.
Dengan para preman ini juga para pengasuh sempat bermasalah. Soalnya tidak mudah mendekati anak-anak itu tanpa seijin para preman. Anak-anak itu merupakan kran-kran uang. Mereka bisa marah besar kalau sampai arus uang terganggu. Keselamatan jiwa menjadi taruhannya. Namun dengan pendekatan yang baik, termasuk berbahasa Jawa kromo yang halus, para atasan itu bisa mengerti maksud baik para pengasuh.
Kalau masalah dengan para atasan sudah teratasi, tahap pertama membangun hubungan persahabatan dulu dengan calon anak-anak asuh. Lalu dilakukan rangkaian kegiatan yang bersifat rekreatif seperti menggambar atau berkemah. Ini untuk anak-anak yang sudah berusia 8 sampai 12 tahun. Setelah itu mereka diberdayakan dengan melatih keterampilan. Untuk yang masih usia sekolah disekolahkan kembali dan diberikan beasiswa. Bagi yang berusia 12 tahun ke atas hingga 19 tahun dikursuskan atau diberi modal usaha untuk membuka usaha mandiri seperti jual minuman ringan, rokok, atau berjualan koran dan majalah.
Akhirnya tahap terminasi, mengembalikan mereka ke masyarakat. Pada tahap ini diharapkan anak-anak itu telah mampu hidup secara wajar, layak, dan mampu menyelesaikan berbagai persoalannya sendiri. Setidaknya, mereka tahu tempat yang benar untuk menyelesaikannya.
Bagi anak usia sekolah, mengingat sarana tampung belum memadai Pondok Sadar menyalurkan mereka ke panti-panti asuhan atau pesantren.
�
Matipun tak ada yang mengurus
Syukur bila mereka akhirnya diasuh panti atau pesantren. Selama masih lebih banyak hidup di jalan, nasib mereka juga tak jelas arahnya. Seperti kisah Agus. Suatu siang, Agus (12), bocah pengamen yang berkulit gelap dan bertubuh kurus itu terpeleset dan terpental dari kereta yang sedang melaju kencang menuju Jombang.
Sehari semalam tidak kembali ke Pondok, pengasuh mencari ke sana kemari, bertanya pada teman-temannya. Setelah ditelusuri didapat kabar ia terjatuh dari kereta dan sudah dibawa ke rumah sakit.
Betul saja, tubuh Agus telah terbujur di sana dengan darah melumur sekujur tubuhnya. Allah yang Mahasayang, Agus belum meninggal. Tapi dokter dan paramedis bukan Allah. Selama sehari semalam tubuh anak itu dibiarkan di situ tanpa disentuh sedikitpun juga. Alasannya, tidak ada yang bertanggung jawab.
Dengan upaya keras para pengasuh, Agus akhirnya dirawat juga. Biaya pengobatannya sampai 6 juta rupiah. Tapi bulan Mei yang lalu Agus mengalami nasib yang sama. Ia jatuh lagi dari kereta di stasiun Wonokromo. Namun kali ini jiwanya tidak bisa diselamatkan. Innalilahi wa innailaihi raaji'uun. Allah mengambil alih Agus dari tangan kita.
Kalau meninggal, nasib jenazah anak-anak jalanan ini sama getirnya dengan kehidupan mereka. Kalau mereka sakit, cidera dan terpaksa masuk ke rumah sakit, mereka sering diperlakukan tidak manusiawi. Mereka digeletakkan begitu saja. Seperti yang dialami Agus tadi.
Bahkan terhadap mayat-mayat mereka, terjadi main lempar begitu saja. Seperti yang dialami jenazah Iis, gadis kecil 13 tahun asuhan Pondok Sadar. Iis yang sebenarnya akan menikah Oktober lalu karena kumpul kebo dengan sesama anak jalanan, tewas dikepruk kepalanya oleh teman sesama gelandangan yang lain. Batok kepalanya hancur. Tragisnya jenazah anak yang malang ini dilempar-lempar begitu saja. Alasannya juga sama, tidak ada yang bertanggung jawab.
Penguburan terhadap anak-anak jalanan juga sangat tidak manusiawi. Bila ada lima jenazah yang kebetulan meninggal dalam sehari, mereka dikubur dalam satu lobang yang sama dengan prosesi yang tidak selayaknya, meskipun mereka semua muslim. Agus dan Iis di ambil alih Pondok Sadar dan dimakamkan secara Islam.
"Setiap bulan anak-anak kami mati dua sampai tiga orang akibat kecelakaan lalu lintas, penyakit yang sudah akut, juga berbagai sebab seperti perkelahian antar mereka," kata Amirul. Matanya menerawang jauh, tapi tetap dengan tekad yang sama, mengasuh anak-anak itu agar bisa hidup secara wajar. Bagaimana dengan kita?�
----------
> From: Pungkas Bahjuri Ali <[EMAIL PROTECTED]>
> >
> Di sinilah peran LSM (Yang saya maksud adalah LSM dalam arti
> harfiahnya...seperti lembaga, yayasan, pesantren, kelompok, juga kumpulan
> individu dll). Jangan curiga dulu...
>
> catatan : Acungan jempol buat Amirul dkk yang bergelut diantara 20.000 anak
> jalanan di Jatim....baca kisahnya di rubrik Serial Da'i di Sahid edisi Desember
> 98 di http://www.hidayatullah.com/sahid/9812/sahid.htm
>
> Pungkas B.A
> Troy, NY
>
- What About Their Education (and Our Safety)? Pungkas Bahjuri Ali
- Re: What About Their Education (and Our Safety)? Budi Haryanto
- Re: What About Their Education (and Our Safet... Blucer Rajagukguk
- Re: What About Their Education (and Our S... Pungkas Bahjuri Ali
- Re: What About Their Education (and O... Blucer Rajagukguk
- Re: What About Their Education (and Our Safety)? Hadeer
- Re: What About Their Education (and Our Safet... Andrew G Pattiwael
- Hadeer
