anda benar sekali bung Yo...
memang orang yang pro status quo memang banyak dan "solid".
Ini tidak lain didasari kepentingan sesaat untuk mengamankan
pemasukan maupun asset hasil KKN mereka.
Dan "oposisi" yang terlihat tidak kompak menurut saya juga didasari
kepentingan sesaat,mereka masing masing sibuk menghitung-�hitung
kemungkinan perolehan suara mereka pada Pemilu mendatang
(lebih enak memang kalo memerintah sendiri tanpa perlu koalisi).
Tapi saya percaya partai-partai prodem bukan lahir hanya untuk
akhirnya berkoalisi dengan golkar maupun pihak status quo lainnya,
mereka hanya "bayi" yang b�ru belajar berjalan.Sibuk dengan membangun
struktur dan melakukan konsolidasi.(Kita sebetulnya juga melihat usaha-usaha
pembicaraan di tingkat sekjen antara partai-partai seperti PAN,PKB maupun
yll).
Jadi menurut saya TIDAK PENTING apakah partai-partai oposisi bersatu /dalam
koalisi atau tidak.Selama mereka konsekuen dengan sikap non kooperatifnya
maka kultur oposisi ini (struktural!) juga bisa hidup.Namun kalau mau
memerintah yaa....
tidak ada pilihan lain kecuali koalisi.
Tidak kalah penting juga peran pers.
Pada fase-fase awal, revolusi di indonesia
ini disangga oleh mahasiswa, LSM , intelektual dan pers.
Tapi pada saatnya nanti partai oposisi,Pers dan LSM akan memainkan peran
terpenting dalam kehidupan demokrasi kita. sementara mahasiswa tetap sebagai
kekuatan moral.
salam hangat dari Hannover
deddy priadi
PS: hehe....di luar memang dingin sekarang bung Yo...
cuman waktu itu saya baru pulang dari Uni, makan sambil diiringi
musik dari "rage against the machine".......:))
-----Urspr�ngliche Nachricht-----
Von: Yohanes Sulaiman <[EMAIL PROTECTED]>
An: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>; ppi Jerman
<[EMAIL PROTECTED]>
Datum: Sonntag, 21. Februar 1999 06:10
Betreff: Re: Krisis identitas Indonesia
><deleted>
>>satu tambahan kecil dari saya bung. Realita di lapangan menunjukkan
>>tarik-menarik
>>yang cukup seimbang antara pihak-pihak prodem dengan pihak pro status quo.
>>Masyarakat jelas sudah muak dengan apapun yang berbau soehartoisme, namun
>>pihak pro status quo pun masih mampunyai dukungan infrastruktur yang kuat
>>(kemungkinan money politics).
>>Karena itu saya malah berangkat dari asumsi bahwa hasil pemilu 99 ini akan
>>memunculkan perbedaan perolehan suara yang tipis dari 2 golongan besar
ini.
>>Umpama ini yang terjadi maka kita tidak dihadapkan pada pilihan extrem
>>"diktator tapi stabil atau demokrasi tapi kacau" melainkan terletak
diantara
>>keduanya.
>
>Tarik menarik itu memang cukup seimbang. Tapi kalau kita lihat sampai
sekarang
>pihak oposisi cenderung terpecah dan sementara kubu 'Suhartoism' cenderung
>solid (berhubung money politics). Sampai sekarang yang pro demokrasi pun
>masih belum bisa memberi keputusan: demokrasi jenis mana yang diinginkan.
>Tak ada salahnya dan bahkan sangat diperlukan kalau oposisi terdiri dari
>kelompok
>yang berbeda-beda seperti PAN, PDI, partai bulan bintang, dst; tapi
sayangnya
>dari oposisi tersebut, semua tak memiliki visi yang tertinggi; yakni
keinginan
>untuk reformasi yang bersih. Sehingga walau terjadi persaingan ketat
>antara pro-Suharto dan pro-dems seperti anda nyatakan, tapi pro-dems
>sendiri semua terpecah seperti lidi tanpa pengikat.
>Walaupun pro-dems kuat, tapi kalau dalam visi utama mereka terjadi
perpecahan,
>tetap saja tak akan bisa beres bahkan saya ragu kalau memang seimbang pada
>akhirnya.
>
>
>
>>Dari sini yang terpenting ialah tumbuhnya kultur oposisi dalam
pemerintahan
>>yang selama ini dihadapi secara represif oleh orde-orde terdahulu.
>>Dan kultur oposisi inilah yang pada gilirannya diharapkan menumbuhkan
>>kesadaran politik baru di masyarakat.
>
>Maaf kalau saya sangat skeptik. Tapi kalau saya rasa, apa yang rakyat
inginkan
>sekarang adalah keamanan, jaminan hidup, dan perut yang kenyang....
>Dari pengalaman era Suharto, kita lihat bahwa KKN itu cenderung ditolerir
>karena rakyat cukup makan.... :-(
>Memang budaya oposisi perlu ditumbuhkan di Indonesia tapi itu hanya bisa
>terjadi dalam jangka yang cukup panjang....
>
>
>>Lange Geschichte kurzer Sinn :
>Saya tak mengerti berhubung saya tak bisa bahasa Jerman :-(
>(Yang bisa juga bahasanya JEndRal SudirMAN) ;-)
>
>>Pemilu 99 bukan merupakan obat super manjur
>>yang mampu mengatasi ruwetnya problem bangsa ini.
>
>Memang bukan, tapi seperti orang yang baru jatuh sakit, pemilu ini
>merupakan obat pertama untuk menyembuhkan. Pertanyaannya adalah
>apakah pasiennya meminum obat ini sesuai takaran....
>
>
>>salam hangat dari Hannover
>
>>deddy priadi
>
>BTW: bukannya sekarang sedang dingin di Hannover? ;-)
>
>Anyway, saya senang sekali mendapat tanggapan yang menarik dari anda.
>
>YS
>
>
>
>
>