Apakah problema Indonesia sekarang?
Sebagian orang menyatakan bahwa problem terbesar di bidang ekonomi.
terutama kalau kita lihat angka rupiah yang berkisar di Rp. 9000,00.
Dari mana angka Rp. 9000,00 itu? Saya yakin angka Rp. 9000,00 itu datang
dari 3 sumber, yakni faktor kepemimpinan 'chaos' yang mempengaruhi nilai
rupiah, politik depresiasi nilai Rupiah untuk merangsang eksport dan
mengurangi import, dan satu faktor tambahan yakni faktor 'China.' Faktor
'China' ini bukan orang-orang keturunan China di Indonesia yang menguasai
ekonomi, tapi lebih mengarah kepada kemungkinan dari Republik Rakyat
China untuk devaluasi. Walau China sering menyatakan bahwa mereka tak
akan devaluasi, tapi tetap investor panik. Saya yakin, begitu China devaluasi
Rupiah akan terpuruk lebih jauh lagi dan juga negara-negara Asia lain. Karena
efek yang mengerikan itu ditambah dengan struktur ekonominya yang
berantakan, saya justru cenderung menyatakan bahwa China tak akan devaluasi
sampai paling cepat akhir tahun ini. Kalau China devaluasi, bersiap-siaplah
kita melihat kehancuran kapitalisme dunia. Kaum Marxist pasti bersorak....
Namun kita lebih perlu memfokuskan diri kepada Indonesia untuk sekarang.
Sampai sekarang, masalah terbesar Indonesia adalah faktor 'chaos' di
kepemimpinan Indonesia. Problem Indonesia lebih mengarah kepada krisis
identitas. Tahun 1999 merupakan tahun yang menarik untuk Indonesia
karena kita sekarang akan menghadapi pemilu yang pertama setelah
kejatuhan ex-President Suharto pada bulan Mei tahun lalu.
Dalam pemilu ini kita akan melihat apakah Indonesia memang
serapuh yang sering dibicarakan.... Masalahnya, pemilu yang
berikut ini bukan hanya sekedar merupakan ujian penampilan
dan keunggulan antar partai untuk meraih suara terbanyak.
Melainkan dalam pemilu berikut ini kita juga menguji seberapa
kuat persatuan Indonesia.
Selama ini, apa yang mempersatukan Indonesia? Hanya ada empat,
yakni pemimpin yang kuat (Sukarno-Suharto), satu musuh untuk
memfokuskan amarah rakyat (Belanda, Malaysia, disusul komunis),
ekonomi yang bertumbuh, dan militer yang dominan terutama di masa
orde baru. Dari empat unsur diatas, unsur yang kedua sudah lama
'lenyap' (Belanda dan Malaysia merupakan 'teman,' dan Komunis sudah
lama tak relevan). Unsur yang keempat, yakni militer, sudah tak terlalu
terfokus akibat perpecahan di militer pada awal 1990-an. Pada tahun 1997
yang kita lihat adalah kehancuran ekonomi. Yang menarik adalah kehancuran
ekonomi itu justru dipercepat dengan berita bahwa ex-Presiden Suharto
dalam keadaan sakit. Terkadang kalau saya membaca ulang berita-berita
sejak jatuhnya Baht tanggal 2 Juli 1997, saya selalu terpikir bagaimana
kalau tahun 1997 tak ada rumor bahwa ex-presiden Suharto sekarat....
Tampak dari pemaparan saya diatas bahwa faktor 'Suharto' lah yang
mempersatukan Indonesia selama bertahun-tahun dan bahkan sejujurnya
saya cenderung berkesimpulan bahwa kalau saja tak ada rumor bahwa
ex-presiden Suharto sekarat pada akhir tahun 1997, tak akan ada krisis
ekonomi raksasa di Indonesia. Fakta ini memang dengan mudah dibantah,
tapi saya ragu kalau kita bisa menyepelekannya begitu saja. Kita lihat bahwa
Indonesia memerlukan satu figur untuk mempersatukan seluruh wilayahnya.
Fakta ini terus mengikuti kita sampai pemilu 4 bulan lagi. Dalam pemilu
berikut, kita menghadapi puluhan partai, dari PDI, Golkan, PAN, sampai
partai kambuhan seperti partai kaum artis, partai pelawak, dst.
Kembali ke nilai Rupiah yang Rp. 9,000,00; saya terkadang berpikir bahwa
apakah kita memang perlu satu tokoh untuk mempersatukan Indonesia?
Sampai sekarang, identitas Indonesia dipengaruhi oleh empat unsur yang
sudah saya paparkan diatas. Keempat unsur tersebut sudah lenyap dan
dengan orde Reformasi ini, diusahakan agar empat unsur itu diganti dengan
demokrasi yang murni. Tapi terus terang saya skeptik dengan hasil dari
pemilu berikut. Sampai sekarang tak ada tokoh dominan yang benar-benar
beres. Kebanyakan bahkan kaum-kaum oportunis yang berkoar-koar.
Mungkin hanya Megawati yang cukup bijak dengan cenderung diam, karena
terkadang juga diam adalah emas dan lebih sedikit kemungkinan salah
bicara.... Tapi sampai kita memiliki satu identitas yang jelas, rupiah
tak akan bisa menguat, dan kalau menguat pun tak akan bertahan lama....
Ditambah dengan faktor 'China' yang terus membayangi, Indonesia tak
akan bisa bangkit sampai kita memiliki identitas sendiri.
Dalam pemilu berikut ini, kita akan mempertaruhkan segalanya. Kita akan
berusaha lagi membentuk identitas Indonesia yang baru, karena itu sangat
penting pemilu ini berjalan lancar. Tapi sebetulnya lebih penting lagi adalah
kewibawaan pemerintah yang akan terbentuk setelah pemilu nanti. Pemilu
berikut ini juga memberi 'legitimasi' kepada pemerintah berikut. Karena itu
pemerintah berikut juga perlu yang benar-benar beres karena kalau pemerintah
tetap lemah seperti sekarang,berarti juga pemilu ini gagal untuk membentuk
identitas baru, ini akan menjadi bukti bahwa Indonesia tak bisa lepas dari
identitas
lamanya; dan kita terpaksa memilih dari dua pilihan: demokrasi tapi tetap
kacau atau kediktatoran tapi stabil. Buah simalakama....
Oakland,
Yohanes Sulaiman