Hmm.. just wondering.. kenapa agama (apalagi Nasrani) dibawa2 sama Kompas
yah..?
Jangan gitu dong ah.. namanya juga orang cari duit.. gak ada hubungannya
dech kayaknya.. kalo korannya diboikot trus ditutup, yang kerja disono mao
makan apaan?
Tapi.. kok ngomongnya gitu sih.. hubungannya kan (rada2) kurang ada..
And anyway, you're right.. jumlah kaum fanatik Kompas emang jutaan.. :)
Cheers
STEPHANIE
-----Original Message-----
From: Ramadhan Pohan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Monday, March 01, 1999 10:56 PM
Subject: Re: BOIKOT KOMPAS
>In a message dated 3/2/99 12:44:25 AM !!!First Boot!!!, [EMAIL PROTECTED]
>writes:
>
><< Kompas (2 Maret 1999)
> ...... tertembak mati aparat kepolisian. Ketiga warga itu adalah Armin
> Paeni, Mui Ekhoran, dan Husein Umar. Mereka ditembak di sekitar rumah
> ibadah Dusun Ahuru.
>
> >>
>
>Sejak "zaman kuda gigit jari", Kompas selalu begitu. Waktu perang Bosnia,
>fakta pun terjungkir-balik dibikin mereka. Tapi, dari segi politik, Kompas
>berhak melakukan itu. Siapa lagi yang membela Nasrani jika bukan koran
>Nasrani. Apa mungkin Republika? Saya sendiri tidak menyukai dua koran itu.
>Senantiasa bias dan selektif menurunkan berita.
>
>Ini saatnya diserukan kepada semua orang Islam agar tidak berlangganan,
>membeli atau membaca Kompas. Boikot saja, itu jika kalian mau. Lebih bagus
>dengar RRI atau baca Suara Merdeka atau KR, PR, dan koran-koran yang
>independen lainnya. Media Indonesia sendiri-- sepanjang yang saya tahu--
>nasionalis dan tidak punya kepentingan kepada salah satu agama.
>
>
>Jika pun Kompas diboikot, koran ini tidak akan mati. Kenapa? Tiras Kompas
kan
>tidak lebih dari 500 ribu copies. Sedangkan jumlah kaum fanatik Kompas--
>jutaan bung!
>
>salam,
>ramadhan pohan
>(lebih suka baca Tempo atau Forum)
>