Salam!
Saya ingin menjelaskan lagi.
Bagi orang Islam yang merasa dikibulin oleh laporan Kompas yang selektif, bias
dan memihak agama yang dibela koran itu-- wajar melakukan aksi boikot.
Demikian juga jika Republika membuat laporan berita senada-- yang bias dan
selektif dan merugikan kepentingan atau melukai penganut Nasrani, wajar
memboikot Republika.

Ini artinya masyarakat pembaca-- entah apa agamanya-- berhak "mengadili"
koran-koran partisan, sektarian, fundamentalis tersebut. Itu kalau memang Anda
mau. Bukan kah kita menolak fundamentalisme Islam, fundamentalisme Nasrani dan
fanatisme yang "over" lainnya?

Apa makna laporan selektif dan bias ala Kompas itu bagi kaum Nasrani? Saya
mempunyai keyakinan bahwa rekan-rekan Nasrani yang tidak fundamentalis pasti
tidak "happy" atas laporan bias tersebut. Begitu juga terhadap Republika--
saya dan sebagian rekan-rekan muslim lain-- juga tidak enjoy, tidak happy jika
koran tersebut menuding atau melecehkan penganut not-muslim.

Koran partisan, fundamentalis seperti Kompas-- saya pikir, kelak hanya akan
dibaca oleh kaum fundamentalis nya belaka. Sebab yang merah dibilang hijau,
yang putih dibilang abu-abu-- dan hanya kaum fundamentalis saja yang mau tepuk
tangan atas  pembohongan dan keculasan seperti itu. Bagi yang nasionalis dan
pro kepada kenetralan-- kelak akan memilih selera kebenarannya sendiri: yang
tidak bias dan tidak selektif.

salam,
ramadhan pohan

################.

In a message dated 3/2/99 4:28:12 AM !!!First Boot!!!,
[EMAIL PROTECTED] writes:

<<
 Hmm.. just wondering.. kenapa agama (apalagi Nasrani) dibawa2 sama Kompas
 yah..?
 Jangan gitu dong ah.. namanya juga orang cari duit.. gak ada hubungannya
 dech kayaknya..  kalo korannya diboikot trus ditutup, yang kerja disono mao
 makan apaan?
 Tapi.. kok ngomongnya gitu sih.. hubungannya kan (rada2) kurang ada..
 And anyway, you're right.. jumlah kaum fanatik Kompas emang jutaan.. :)

 Cheers
 STEPHANIE

 -----Original Message-----
 From: Ramadhan Pohan <[EMAIL PROTECTED]>
 To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
 Date: Monday, March 01, 1999 10:56 PM
 Subject: Re: BOIKOT KOMPAS


 >In a message dated 3/2/99 12:44:25 AM !!!First Boot!!!, [EMAIL PROTECTED]
 >writes:
 >
 ><< Kompas (2 Maret 1999)
 > ...... tertembak mati aparat kepolisian. Ketiga warga itu adalah Armin
 > Paeni, Mui Ekhoran, dan Husein Umar. Mereka ditembak di sekitar rumah
 > ibadah Dusun Ahuru.
 >
 > >>
 >
 >Sejak "zaman kuda gigit jari", Kompas selalu begitu. Waktu perang Bosnia,
 >fakta pun terjungkir-balik dibikin mereka. Tapi, dari segi politik, Kompas
 >berhak melakukan itu. Siapa lagi yang membela Nasrani jika bukan koran
 >Nasrani. Apa mungkin Republika? Saya sendiri tidak menyukai dua koran itu.
 >Senantiasa bias dan selektif menurunkan berita.
 >
 >Ini saatnya diserukan kepada semua orang Islam agar tidak berlangganan,
 >membeli atau membaca Kompas. Boikot saja, itu jika kalian mau. Lebih bagus
 >dengar RRI atau baca Suara Merdeka atau KR, PR, dan koran-koran yang
 >independen lainnya. Media Indonesia sendiri-- sepanjang yang saya tahu--
 >nasionalis dan tidak punya kepentingan kepada salah satu agama.
 >
 >
 >Jika pun Kompas diboikot, koran ini tidak akan mati. Kenapa? Tiras Kompas
 kan
 >tidak lebih dari 500 ribu copies. Sedangkan jumlah kaum fanatik Kompas--
 >jutaan bung!
 >
 >salam,
 >ramadhan pohan
 >(lebih suka baca Tempo atau Forum)
 >

  >>

Kirim email ke