(Republika juga boleh)....wah anda ketahuan ngga niat kalau begini...
anda sendiri juga ngga netral...bagaimana mau mengajak kami semua untuk
ikut netral kalau sendiri juga ngga netral.....

andrew pattiwael


On Tue, 2 Mar 1999, FNU Brawijaya wrote:

> Sebetulnya sudah melebihi kuota pribadi. Tambah satu lagi nggak apa-apa ya?
>
> > Hmm.. just wondering.. kenapa agama (apalagi Nasrani) dibawa2 sama Kompas
> > yah..?
>
> Mbak Steph baru nyadar kalau Kompas sekaligus membawa nama Nasrani?
> Sudah terkenal bahwa kompas boleh dipanjangkan menjadi Komando Pastur.
> Bila nggak percaya silakan lihat susunan redaksinya. Saya sendiri dulu
> langganannya Kompas karena dalam banyak hal memang objektif, tapi bila
> menyangkut berita agama atau yg lain misal etnik yg berkaitan dg agama,
> jelas berita tsb saya skip. Nah begitu mbak, jadi hubungannya jelas erat
> banget, serasa pacar deh. Kalau mau mengunyah berita yg tendensius sih
> monggo saja (yg sebetulnya boleh dong kita kategorikan berita bohong).
>
> Saya sangat setuju dengan ide boikot harian Kompas ini. Bukan karena didasari
> sentimen agama, yah ada tapi sedikit sekali. Hanya saja sebagai harian beroplah
> terbesar saat ini, objektivitas berita harus makin terpelihara. Terpelihara lebih
> baik lagi dibandingkan dengan harian lain baik yg nasional maupun lokal.
>
> Hasil dari boikot yg saya inginkan bukanlah turunnya oplah, tetapi memberikan
> pesan kepada masyarakat pembaca bahwa harian Kompas dan Suara Pembaruan
> (juga Republika deh) sangat sering menjadi tendensius bila menyampaikan
> berita mengenai SARA. Syukur-syukur mereka menyadari bahwa pelanggan terbesar
> justru bukan umat nasrani, sekaligus sadar berita bohong mereka dapat menjadi
> senjata makan tuan.
>
> Kita sangat beruntung dalam tempo 10 menit dapat melahap berita dari 10 koran.
> Dan kita lihat kita juga sering kesulitan untuk meng-adjust info yg masuk dan sering
> terbawa juga. Bagaimana dengan yg tidak seberuntung kita-kita ini (dalam hal akses
> info koran saja lho). Sangat banyak yang tidak mempunyai akses spt ini sehingga
> opini yang terbentuk sangat dipengaruhi oleh berita (koran yg paling efektif, 
>mungkin TV
> untuk masyarakat perkotaan).
>
> Nah, siapa yg mau membuat draft boikot? Kalau agak-agak takut mengeluarkan opini
> boleh juga kolektif. Nanti disebarin ke milis-milis lain. Bila mau secara fisik 
>memboikot
> Kompas sih boleh juga.... cuma mungkin bukan itu sasaran kita.
>
>
> > Jangan gitu dong ah.. namanya juga orang cari duit.. gak ada hubungannya
> > dech kayaknya..  kalo korannya diboikot trus ditutup, yang kerja disono mao
> > makan apaan?
>
> Cari duit dengan menyesatkan orang bagaimana? Kalau saya kerjaannya nunjukin
> jalan tapi malah suka ngasih tahu jalan yg ke arah yg lain boleh nggak?
> Yg kerja di sono makannya tetep nasi tho mbak. Mau makan roti rasanya tetep
> lapar tuh...
>
>
> > Tapi.. kok ngomongnya gitu sih.. hubungannya kan (rada2) kurang ada..
> > And anyway, you're right.. jumlah kaum fanatik Kompas emang jutaan.. :)
>
> Not really. Kalau mereka tidak mengubah kebijakannya, tidak sulit untuk
> mempengaruhi orang untuk pindah koran. Jangan lupa lho, sebagian besar
> pelanggan ya kaum non-nasrani. Saya kira nggak perlu survei kita langsung
> tahu lah... Mungkin kita boleh berdebat bahwa suatu koran boleh menyebarkan
> berita bohong, tetapi suatu kelompok tertentu boleh juga mengambil langkah
> untuk mencegah menyebarnya berita bohong itu....
>
>
> Monggo,
>
> --
>                \\\|///
>              \\  - -  //
>               (  @ @  )
> ------------oOOo-(_)-oOOo-----------
> FNU Brawijaya
> Dept of Civil Engineering
> Rensselaer Polytechnic Institute
> mailto:[EMAIL PROTECTED]
> --------------------Oooo------------
>            oooO     (   )
>           (   )      ) /
>            \ (      (_/
>             \_)
>

Kirim email ke