>wah ini pertanyaan yang dalam dan luas sekali....
Terlalu luas memang, tapi ini akibat karena negara kita luas dan masalahnya
juga banyak dan luas sekali... :-)


>tapi mari kita teliti lagi....
>pertama,banyak kerusuhan maupun kasus kasus rekayasa dan KKN yang tidak
>terselesaikan di Indonesia
>biasanya rekayasa yang berdampak kekerasan melibatkan kekuatan militer.
>Namun sampai sekarang belum tampak juga penyelesaian yang tuntas dari
>kasus-kasus itu.
>mungkin kita diluar "mencium" dimutasinya pejabat A atau B sebagai akibat
>dari suatu perkara
>namun tidak ada tanggung jawab publik yang layak.
>
>yang ingin saya tekankan di sini ialah:
>masyarakat menangkap pesan bahwa hukum tidak berlaku bagi si kuat.
>tentu sangat ironis ditengah galak-galaknya pemburuan thd pelaku kriminal
>dengan "sangat tegas"
>di sisi lain banyak kasus  kriminal yang melibatkan pejabat tinggi atau
>orang kuat yang dosanya sudah jelas-jelas
>dan merugikan kepentingan rakyat banyak seakan-akan kebal terhadap hukum
>


Jadi intinya itu adalah kurangnya pertanggung jawaban dari pemerintah sendiri.
Jika kita memang mau mereformasi pemerintah, yang perlu kita pertama bereskan
juga adalah bagaiman status dari badan-badan negara exsekutif, legislatif,
dan yudikatif dimana sekarang kita jauh lebih terfokus kepada segi power in
exsekutif. Walau itu tak selamanya jelek, tapi kesewenang-wenangan keluarga
ex-presiden yang kita rasakan selama beberapa tahun belakangan ini memang
'takes a toll.'  Kita mau pemerintahnya bertanggung jawab. Tapi kepada siapa
pertanggung jawaban itu diberi? Rakyat? 'Who is people'  Negara? Louis XIV
berkata 'l'etat c'est moi...'
Jadi sebetulnya kita perlu merobak aturan tata negara kita dan membentuk
satu badan pertanggung jawaban yang independent jika kita mau orang-
orang di pemerintahan bertanggung jawab. Banayk yang menyatakan bahwa
kita kurang memiliki buday amalu dan tanggung jawab, tapi itu NOT the answer.
Jepang dengan budaya hara kirinya sendiri tetap memiliki kebobrokan dan

mundur itu tetap merupakan jalur terakhir setelah 'rumahnya habis kebakaran.'
Jadi perlu adanya badan yudikatif yang bersih dan berwewenang; itu merupakan
salah satu jalan keluar pertama. Selama ini pengadilan merupakan sandiwara
yang menyedihkan akibat ketidak jelasan dari kedudukannya....


>disini masyarakat luas harus berjuang menuntut agar para pejabat (sipil
>maupun militer) terbiasa untuk
>mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada masyarakat,bukan hanya kepada
>atasannya.Kita sering
>melihat bahwa banyak persoalan yang menyangkut nasib masyarakat luas hanya
>diselesaikan "intern".

"intern"...  ?
Lewinsky?   :-)
(Just joking)


>kebiasaan ini yang harus kita rubah.Langkah kapolri dan Pangab untuk memecat
>kapolda maluku utara
>mungkin suatu awal yang bagus dan harus ditindaklanjuti secara
>konsekuen.Jadi tidak hanya mengesankan
>rekayasa "mengorbankan pejabat dibawah" seperti yang sering terjadi selama
>ini (kita lihat kasus penculikan).
>
>kedua, selain memang ditengarai adanya pihak penghasut,masalah SARA adalah
>masalah yang rumit dan tidak
>bisa hanya dihadapi dengan kekuatan dan hukum. Ini juga  masalah etika dan
>kesadaran.
>mungkin akan terdengar klasik kalau saya menyebut "tingkatkan dialog antar
>umat beragama",namun
>saya yakin ini adalah masalah yang sangat membutuhkan waktu.
>saya berpendapat,tumbuhnya benih benih fanatisme sempit dan sikap chauvinist
>harus dicegah sejak dini
>sehingga tidak sampai meledak dalam suatu sikap yang merugikan orang lain.
>Di Jerman pun di sekolah-sekolah diadakan banyak diskusi tentang rasismus,
>agresivitas maupun toleransi.
>Kegiatan-kegiatan seperti ini harus bersifat jujur,terbuka dan dialogis,
>artinya tidak seperti methode di tanah air
>selama ini yang lebih mendekati indoktrinasi.karena indoktrinasi
>dikhawatirkan malah menimbulkan penolakan.
>kegiatan ini harus dikonsep dengan matang, dalam jangka panjang dan didukung

>sepenuhnya oleh negara.
>

Penghasut tak akan berhasil membakar jerami kalau jeraminya basah. Masalahnya
sekarang adalah ekonomi. Terus terang saya sering skeptik jikalau mendengar
bahwa persatuan itu murni. Di Jerman sendiri, kerusakan ekonomi di ex-Jerman
Timur mengakibatkan bertumbuhnya gerakan Neo-Nazi dan banyak gerakan
ultra-nasionalis lain. Begitu juga di Russia dan negara-negara lain.
Sekarang memang
situasi di Indonesia sudah tepat dan mudah dibakar. Pertanyaannya adalah siapa
yang jadi pembakar?
Saya mengerti dan setuju dengan pendapat anda sekarang, tapi yang kita hadapi
adalah masalah yang perlu diselesaikan secepatnya sementara anda menyatakan
jawaban yang long term.
Karena itu saya lebih tertarik kepada pembentukan pemerintahan baru yang kuat
dan berwibawa. Kewobawaan bisa mengurangi kerusuhan karena rakyat patuh
dan takut kepada pemerintah. Apakah takut itu jelek? Tidak juga. Sekarang kita
ibaratnya adalah kapal yang tenggelam. Perlu koordinasi kuat untuk menambal
lubang. Kalau tak ada ketakutan kepada kapten, satu akan menurunkan sekoci,
yang lain akan melakukan apa lagi. Akhirnya kapal akan tenggelam.



>
>Untuk memulihkan kewibawaan pemerintah?....saya rasa pemerintah dari dulu
>tidak berwibawa...:)
>selama ini masyarakat takut untuk menyuarakan pendapatnya.....para pejabat
>dan politikus (kecuali
>beberapa pengecualian) tidak lebih dari badut-badut munafik yang sukanya
>menggunakan kekuasaannya
>untuk menindas.
>Kewibawaan pemerintah bisa timbul apabila minimal ada:
>1.suatu platform bersama yang diterima semua pihak.
>2.supremasi hukum yang jelas dan dilaksanakan secara konsekuen

>
>3.kejujuran dari penyelenggara negara untuk memberi informasi yang benar
>kepada rakyat.
>4.Dari point tiga akan muncul kepercayaan balik dari rakyat yang pada
>gilirannya dapat menumbuhkan
>kewibawaan pemerintah.
>
Dari argumen saya yang diatas, saya mencoba menjawab anda. Pemerintah
dulu memang KORUP tapi berwibawa. Kenapa berwibawa? Karena memiliki
legitimasi dari segi kesuksesan mereka menaikkan angka pertumbuhan
ekonomi. Dari sana mereka mendapat kewibawannnya dan rakyat pun tak
mengeluh melihat kekorupan dari antek-antek cendana.
Anda sekarang di Jerman, karena itu saya ambil contoh yang pasti 'rings a
bell'
yakni Adolf Hitler. Coba anda lihat dari 4 diatas, mana yang sesuai dengan
kondisi Jerman masa Hitler. Hanya butir 1 yakni platform 'Nazism,' KKN
merajalela, rasisme, dll sudah mengerikan. Tapi bedanya Hitler memberikan
apa yang rakyat mau, dari kharisma, identitas, sampai ekonomi; sehingga
tak ada yang cingcong waktu Hitler membasmi orang Yahudi.
Kita lihat bahwa pemerintah Hitler SANGAT BERWIBAWA....



>pemerintahan BJ Habibie ini sebetulnya telah memperoleh kesempatan luar
>biasa.Di tengah krisis legitimasinya
>dia diterima sebagai pemerintahan transisi yang tugas utamanya
>mengakomodasikan tuntutan-tuntutan reformasi
>murni dan menyelenggarakan pemilu yang jujur dan adil.Namun kasus skandal
>Jakgung dan dan tidak selesainya kasus-kasus lain, membuktikan bahwa
>kesempatan inipun tidak digunakan dengan baik oleh pemerintah saat ini.
>jadi mungkin kita harus  menunggu dan berbuat apa yang kita mampu untuk
>terwujudnya pemerintahan yang bersih
>dan berwibawa.

Prez Habibie sejak dulu memang tak memiliki kewibawaan yang tinggi; dari kasus
39 kapal perang sampai beras ketan itu sudah menjadi laughing stock di dunia.
Terus terang saya sampai sekarang beropini bahwa kkenapa Prez Habibie bisa
diatas itu karena oposisi sudah terlalu terpecah; tak ada satu suara; dan
militer
tak bisa memikirkan alternatif lain karena terallu terpecah. Karena tak adanya
kesepakatan tentang satu tokoh kharismatik, jadi lebih baik tetap status quo
karena kalau kacau maka semuanya akan lose. Ini seperti 'game of chicken'
BTW: saya curious apa major anda. Kalau anda political science, pasti
anda tahu game of chicken itu.

>
>

>** saya sebetulnya tidak seberapa cocok dengan kata berwibawa.Berwibawa
>dalam artian produk undang-undangnya
>dipatuhi..oke .Namun "wibawa" sering  mengakibatkan kepatuhan yang tidak
>proporsional.....:)

Tul....
Tapi lebih ridiculous lagi kalau patuh kepada pemerintah yang tak
berwibawa.... :-)


>
>salam hangat dari Hannover,

Thanks... Salam hangat dari San Francisco
(yang katanya hangat di musim dingin, tapi tetap anginnya mengerikan
dinginnya)
Salam hangat... Masih tetap keluar untuk mendengarkan lagu? :-)

Senang sekali berdiskusi dengan anda. Maaf kalau ada kalimat yang menyinggung.
Saya dengan senang menunggu jawaban dari anda.

Yohanes Sulaiman



The folkish state must make up for what everyone else today has neglected....
the folkish philosophy of life must succeeded in bringing about that nobler
age in
which men no longer are concerned with breeding dogs, horses, and cats, but
in elevating himself, an age in which the one knowingly and silently
renounces, the other joyfully sacrifices and gives...

                                                                                       
         "Mein Kampf"
                                                                                       
         by Adolf Hitler

Kirim email ke