>Date: Mon, 11 Jan 1999 02:09:32 +0100
>Subject: TRANSKRIP CERAMAH THEO SYAFEI BISA MENYESATKAN
>oleh A. Yuswara
>
>Jelas, bahwa transkrip ceramah Theo Syafei yang menghebohkan itu
>merupakan ekspresi jujur perasaan seorang yang bukan-Muslim, di tengah
>meningkatnya tekanan terhadap kalangan Kristen -- tekanan yang dilakukan
oleh grup
>yang mengatasnamakan Islam, khususnya KISDI.
>
>Ceramah itu diberikan kepada kalangan umat Kristen secara terbatas,
>September 1998 di Anyer, Jawa Barat, sebelum Sidang Istimewa MPR yang
>lalu. Sejak itu ditranskrip dan disebarluaskan, sampai ke Kupang, sebelum
>peristiwa pembakaran masjid di sana.  Siapa yang menyebar luaskan
>tidak diketahui. Tetapi Theo Syafei sendiri dalam transkrip memberi
>kesan, bahwa ceramahnya itu ia harapkan disebar-luaskan, agar
>dijadikan opini umum ("diopinikan", katanya).
>
>Bahwa suara itu datang dari seorang purnawirawan ABRI, dan antara lain
>mengungkapkan ketegangan antara kelompok agama di kalangan militer,
>menunjukkan betapa gawatnya hubungan Islam-Kristen di masa terakhir
>Soeharto. Kita mungkin tidak akan dapat menentukan secara persis sejak
>kapan pimpinan ABRI menjadi rusak (malahan mungkin retak) karena
>perbedaan agama di kalangan para jenderal.
>
>Ada yang mengatakan, ini bermula dari masa ketika Jenderal Benny
>Moerdani memegang peran penting dalam "intelligence community"
>Indonesia, baik sebagai Ass Intel Pangab maupun sebagai Ketua BAIS.
>Jend. Benny seorang Katolik, dan sangat mungkin -- berbareng dengan
>kuatnya kecurigaan kepada ekstremisme Islam di masa itu -- ia punya
>bias untuk tidak menyukai, atau mencurigai, banyak hal yang berwarna
Islam. Mungkin saja ia dengan
>sengaja menyingkirkan perwira yang latarbelakang Islamnya kuat,
>misalnya yang dulu di SMA, sebelum masuk AKABRI, jadi anggota organisasi
pelajar Islam.
>Menurut seorang bekas perwira intel yang aktif masa itu, "pembersihan"
>ini terutama berlangsung di dinas intel.
>
>Waktu itu pandangan ABRI terhadap aktivis Islam memang negatif, karena
>pengalaman lama dengan gerakan Darul Islam di hutan, juga karena
>ketakutan akan radikalisme yang diilhami, dan mungkin didorong, oleh
>Lybia  dan Iran. Banyak yang belum lupa, bahwa di masa dinas Benny
>sebagai orang intel No.1, terjadi "Peristiwa Woyla", ketika sejumlah
>anak muda Islam membajak Pesawat "Woyla". Mereka berhasil dilumpuhkan
>di airport Bangkok, oleh tim Kopassus yang sudah disiapkan untuk
>melawan terorisme. Ada indikasi bahwa kelompok anak muda ini, yang
>memang "fanatik", dipancing oleh militer untuk berbuat nekad, memakai
>jalan kekerasan tapi tidak siap benar, sehingga mudah
>digebuk. Dalam pengadilan, diketahui ada seorang intel ABRI yang
>diselundupkan ke dalam gerakan yang dipimpin Imron itu. Setelah
>diadili, mereka dilenyapkan. Kemungkinan dibunuh.
>
>Cara keras ABRI masa itu terhadap aktivisme Islam mencapai puncaknya
>ketika ada demonstrasi massal di Tanjung Priok, yang kemudian dikenal
>sebagai "Peristiwa Priok". Diperkirakan 100 sampai dengan 300 orang ditembak
>mati oleh Kopassus dan jenazahnya dikuburkan entah di mana.
>
>Sakit Hati
>
>Kecurigaan kepada radikalisme Islam tidak terbatas di situ. Bias
>negatif terhadap (aktivisme) Islam juga dirasakan pengaruhnya di
>kalangan perwira ABRI yang masih sedang naik jenjang karirnya waktu itu.
Memang masih
>perlu diteliti, sejauh mana bias itu mempengaruhi promosi mereka.
>Tetapi perkembangan setelah Benny Moerdani berhenti menunjukkan memang
>ada sejumlah perwira yang sakit hati oleh cara seleksi masa itu. Umumnya
>mereka datang dari keluarga Islam santri, atau yang di masa SMA pernah
>jadi anggota Pelajar Islam Indonesia. (Di antara perwira tinggi memang
>ada yang punya latarbelakang itu, misalnya Jend. Subagio, KASAD yang
>sekarang).
>
>Mereka yang tersingkir ini kemudian mendapatkan kesempatan membalas
>ketika Benny Moerdani dan orang kepercayaannya turun. Apalagi setelah
>ada ketegangan antara Benny dan Presiden Soeharto, dan terutama ketika
>Prabowo Subianto naik. Banyak versi yang menjelaskan kenapa demikian,
>tapi belum diketahui mana yang benar.  Yang pasti, Prabowo menjadi motor
>penggerak tindakan "de-Benny-isasi" yang kemudian terjadi.
>
>Prabowo membenci Benny dengan berapi-api. Perlu ditelaah lebih lanjut,
>apa yang menyebabkannya. Sifat Prabowo memang emosional,tak bisa
>mengendalikan perasaan benci atau dendam.  Tetapi ia tidak dikenal sebagai
aktivis
>Islam; ia datang dari ayah Jawa abangan (Prof. Sumitro) dan ibu
>Kristen. Mungkin ada konflik pribadi antara Prabowo dan Benny, mungkin
Prabowo ingin
>mengambil simpati Islam untuk ambisi politiknya, mungkin pula Prabowo
>hanya mencoba menyenangkan mertuanya, Presiden Soeharto -- yang waktu
>itu sudah tidak suka lagi kepada Benny, entah mengapa.
>
>Pokoknya dengan naiknya Prabowo, ada semacam gerakan balasan: perwira
>yang bukan Islam disingkirkan. Temperamen Prabowo sangat berpengaruh
>dalam cara penyingkiran ini, yaitu terang-terangan menggunakan kriteria agama.
>Sistem dan prosedur promosi dan mutasi yang normal praktis dirusak.
>Ini pun melahirkan rasa sakit hati di kalangan para perwira yang
>beragama Kristen, dan dampaknya masih terus sampai Prabowo jatuh.
>Pembatalan pengangkatan Johny Lumintang hanya beberapa jam setelah ia
>menggantikan Prabowo sebagai Pangkostrad, (Mei 1998), menunjukkan bahwa
Pangab Jend. Wiranto juga
>masih harus hati-hati untuk mempromosikan seorang Kristen ke posisi
>strategis.
>
>Singkatnya, pimpinan ABRI tidak lagi seperti dulu, yang membanggakan
>naik turunnya perwira berdasarkan "merit" atau prestasi, bukan
>berdasarkan agama. ABRI tidak lagi imun dari konflik antar golongan.
>Ini memang
>mencemaskan, dan agaknya suara Theo Syafei -- sebagai mantan perwira
>tinggi -- mencerminkan frustrasi dan keprihatinan tentang keadaan itu.
>
>
>Siapa Memojokkan ABRI dan Dwi Fungsi?
>
>Tetapi jika kita baca transkrip ceramah Theo Syafei, kita akan melihat
>juga bagaimana seorang yang berani berbicara jujur belum tentu juga
>berbicara benar. Transkrip ceramah itu menunjukkan macam-macam salah
>data dan salah analisa.
>
>Salah data yang mencolok misalnya tentang Zaky Makarim, Ketua BIA yang
>pekan ini baru diganti. Menurut Theo Syafei, (ceramahnya diucapkan bulan
>September, sebelum Sidang Istimewa), Zaky Makarim, meskipun teman
>dekat Prabowo, tidak juga dicopotoleh Wiranto, karena kakak Zaky
>adalah Anwar Makarim, seorang Ketua ICMI. Padahal kakak Zaky Makarim
>adalah Nono Anwar Makarim, seorang lawyer yang lebih banyak tinggal di
>AS, bekas pemimpin redaksi Harian KAMI, yang tidak pernah masuk
>organisasi Islam apapun.
>
>Sementara itu Wiranto tahu, menurut sebuah sumber, bahwa sebetulnya
>hubungan antara Zaky dan Prabowo tidak sedekat diduga.  Sebelum
>Wiranto mencopot Prabowo dari Kostrad, Wiranto berembug dengan Zaky,
>dan Zaky tidak membela Prabowo.
>
>Theo Syafei juga menunjukkan ketidak-mengertiannya tentang Islam,
>terutama peta bumi kalangan Islam di Indonesia. Ia tidak sepenuhnya
>memahami posisi
>Qur'an dan Hadith serta ijitihad dan kitab-kitab kuning dalam
>yurisprudensi Islam maupun sebagai pedoman hidup ummat Islam.
>
>Ia melihat perbedaan antara NU dan Muhammadiyah lebih dari segi mana
>di antara keduanya yang punya akar pada sejarah Indonesia, dengan
>kesimpulan seakan-akan Muhammadiyah kurang bersifat Indonesia
>dibanding NU. Ia tidak melihat adanya latar belakang kelas sosial
>ataupun unsur sosiologis lain dalam perbedaan kedua organisasi itu.
>Dalam hal ini pandangan Theo typikal
>pandangan ABRI, dengan menitikberatkan pada dikotomi antara "asing"
>("luar") atau "asli" ("Indonesia").
>
>Typikal pandangan ABRI pula ketika Theo Syafei melihat ancaman akan
>berdirinya "Republik Agama Islam" nanti, yang oleh Theo dikesankan
>sebagai sebuah agenda politik rahasia dari ICMI, KISDI dan seterusnya.
>
>Theo Syafei hanya melihat dua kelompok Islam. Yang satu NU (yang ia
>identikkan dengan Gus Dur yang pluralis -- padahal ada pelbagai faksi
>dalam
>NU, dan tidak semuanya pas dengan semangat pluralis Gus Dur). Yang
>lainnya ICMI, KISDI, Muhammadiyah dan seterusnya (yang ia anggap
>semuanya satu -- padahal dalam ICMI saja terdapat pelbagai jenis
>pemikiran). Theo Syafei tidak menyebut bagaimana pandangan Nurcholish
>Madjid, M. Dawam Rahardjo, Muslim Abdurrahman, dan lain-lain yang
>bukan "NU", tetapi jelas diametral bertentangan dengan KISDI.
>
>Typikal pandangan ABRI, yang "hitam-putih", Theo Syafei tidak mengerti
>nuansa perbedaan antara PPP dan Bulan Bintang, Bulan Bintang dan
>Partai Keadilan, Partai keadilan dengan Masyumi. Belum lagi memahami
>liku-liku PKB dan PAN. Seperti dalam briefing-briefing militer,
>pandangan Theo pratiks berdasar pada analisa kasar dan simplistis.
>
>Typikal pandangan ABRI pula,  untuk melihat kekuatan di Indonesia kini
>terdiri dari "ekstrim kanan" (yaitu Islam yang bukan-NU) dan
>"Pancasilais" (yang dijaga oleh ABRI). Dengan pandangan ini, Theo
>Syafei menilai,
>kalangan Islam ekstrim kanan itulah yang terus menerus berkampanye
>memojokkan ABRI, dan ingin menghabisi Dwi Fungsi ABRI. Menurut Theo,
>semua usaha itu dibuat agar ABRI yang sudah mengalami demoralisasi itu
>tersingkir
>dan negara Pancasila kita diganti oleh "Republika" ("Republik Agama").
>
>Kesimpulannya ialah:  ABRI jangan dipojokkan, Dwi Fungsi harus
>dipertahankan, agar "Negara Islam" tidak jadi berdiri.
>
>Benarkah itu? Di sini Theo Syafei keliru sama sekali. Yang menentang
>"Dwi Fungsi" ABRI bukan hanya mereka yang sejalan dengan "desain
>Republika" (kalau puin desain ini ada). Yang menentang "Dwi Fungsi"
>adalah mereka yang melihat bahwa doktrin ini menghalalkan supremasi
>ABRI dalam politik.
>Tujuannya bagus, tetapi pengalaman menunjukkan, bahwa sebuah kekuatan
>sosial-politik yang memegang senjata mau tak mau akan punya posisi di
>atas dibandingkan yang lain. Sudah punya bedil, punya kursi di DPR dan
>di
>kedudukan lain.
>
>Pengalaman menunjukkan, bahwa ABRI, dalam posisinya yang praktis
>berada di atas kekuatan lain, bahkan di atas hukum, telah menghasilkan
>perilaku politik yang bergelimang darah. Indonesia, sejak tahun 1965,
>menyelesaikan konflik-konfliknya dengan pembunuhan. Dan setiap
>kali,yang disalahkan dan dihabisi adalah kekuatan sipil. Baik itu
>anggota PKI, atau aktivis Islam, atau gerakan rakyat yang tak puas di
>Aceh, di Timor Timur, atau di Irian Jaya.
>
>Sebagai penutup, saya ingin menyimpulkan, bahwa meskipun Theo Syafei
>itu mengeluarkan ekspresi yang jujur, pandangannya menyesatkan. Saya
>anggap ketakutan akan berdirinya "Negara Islam" itu dilebih-lebihkan,
>dan ini adalah khas propaganda ABRI. Dalam kenyataan, cukup banyak
>kekuatan di kalangan Islam sendiri, dan itu tidak hanya Gus Dur, yang
>menolak ide "Negara Islam". Theo Syefei serta para jenderal lain
>sebaiknya membuka mata.
>
>Ide negara agama yang membahayakan hak asasi manusia justru harus
>diatasi dengan mengukuhkan kekuatan rakyat penjaga hak asasi. Bukan
>dengan mengukuhkan dan menghalalkan intervensi militer dalam politik,
>yang telah mengamburadulkan Indonesia selama ini. Mudah-mudahan, itu
>yang (akan) jadi platform PDI Perjuangan, yang kini dimasuki oleh Theo
>Syafei.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>_________________________________________________________
>DO YOU YAHOO!?
>Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke