Assalamualikum Wr.Wb..

Setelah membaca tulisan tentang pidato Theo Syafei.., saya hanya bisa
berkomentar:

 Begitulah akibatnya kalo orang "bodoh dan Fasik"(seperti Theo
Syafei)menyampaikan berita..., penuh dengan KEBOHONGAN dan FITNAH..,
serta MENYESATKAN orang lain.
Berhati-hatilah dengan orang seperti ini......

Wassalam
Mohamad Rosadi






>From [EMAIL PROTECTED] Mon Jan 11 08:59:49 1999
>Received: from [128.230.20.20] by hotmail.com (1.0) with SMTP id
MHotMail3093518431102058835065324772162562068399034; Mon Jan 11 08:59:49
1999
>Received: from mailer (128.230.20.20) by mailer.syr.edu (LSMTP for
Windows NT v1.1a) with SMTP id <[EMAIL PROTECTED]>; Mon, 11 Jan
1999 9:55:28 -0500
>Received: from LISTSERV.SYR.EDU by LISTSERV.SYR.EDU (LISTSERV-TCP/IP
release
>          1.8c) with spool id 47188 for [EMAIL PROTECTED]; Mon,
11 Jan
>          1999 09:55:30 -0500
>Received: from theta2.ben2.ucla.edu by listserv.syr.edu (LSMTP Lite for
Windows
>          NT v1.1a) with SMTP id <[EMAIL PROTECTED]>; Mon, 11
Jan
>          1999 9:55:30 -0500
>Received: from priono (pool0047-max2.ucla-ca-us.dialup.earthlink.net
>          [207.217.13.111]) by theta2.ben2.ucla.edu (8.8.8/8.8.8) with
SMTP id
>          GAA13680 for <[EMAIL PROTECTED]>; Mon, 11 Jan 1999
06:55:19
>          -0800
>X-Sender: [EMAIL PROTECTED]
>X-Mailer: QUALCOMM Windows Eudora Pro Version 4.1
>Mime-Version: 1.0
>Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
>Message-ID:  <[EMAIL PROTECTED]>
>Date:         Mon, 11 Jan 1999 06:55:27 -0800
>Reply-To:     Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>Sender:       Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>Comments:     RFC822 error: <W> MESSAGE-ID field duplicated. Last
occurrence
>              was retained.
>Comments:     RFC822 error: <W> Incorrect or incomplete address field
found and
>              ignored.
>From:         Pandu Riono <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject:      Fwd: TRANSKRIP CERAMAH THEO SYAFEI BISA MENYESATKAN
>To:           [EMAIL PROTECTED]
>
>>Date: Mon, 11 Jan 1999 02:09:32 +0100
>>Subject: TRANSKRIP CERAMAH THEO SYAFEI BISA MENYESATKAN
>>oleh A. Yuswara
>>
>>Jelas, bahwa transkrip ceramah Theo Syafei yang menghebohkan itu
>>merupakan ekspresi jujur perasaan seorang yang bukan-Muslim, di tengah
>>meningkatnya tekanan terhadap kalangan Kristen -- tekanan yang
dilakukan
>oleh grup
>>yang mengatasnamakan Islam, khususnya KISDI.
>>
>>Ceramah itu diberikan kepada kalangan umat Kristen secara terbatas,
>>September 1998 di Anyer, Jawa Barat, sebelum Sidang Istimewa MPR yang
>>lalu. Sejak itu ditranskrip dan disebarluaskan, sampai ke Kupang,
sebelum
>>peristiwa pembakaran masjid di sana.  Siapa yang menyebar luaskan
>>tidak diketahui. Tetapi Theo Syafei sendiri dalam transkrip memberi
>>kesan, bahwa ceramahnya itu ia harapkan disebar-luaskan, agar
>>dijadikan opini umum ("diopinikan", katanya).
>>
>>Bahwa suara itu datang dari seorang purnawirawan ABRI, dan antara lain
>>mengungkapkan ketegangan antara kelompok agama di kalangan militer,
>>menunjukkan betapa gawatnya hubungan Islam-Kristen di masa terakhir
>>Soeharto. Kita mungkin tidak akan dapat menentukan secara persis sejak
>>kapan pimpinan ABRI menjadi rusak (malahan mungkin retak) karena
>>perbedaan agama di kalangan para jenderal.
>>
>>Ada yang mengatakan, ini bermula dari masa ketika Jenderal Benny
>>Moerdani memegang peran penting dalam "intelligence community"
>>Indonesia, baik sebagai Ass Intel Pangab maupun sebagai Ketua BAIS.
>>Jend. Benny seorang Katolik, dan sangat mungkin -- berbareng dengan
>>kuatnya kecurigaan kepada ekstremisme Islam di masa itu -- ia punya
>>bias untuk tidak menyukai, atau mencurigai, banyak hal yang berwarna
>Islam. Mungkin saja ia dengan
>>sengaja menyingkirkan perwira yang latarbelakang Islamnya kuat,
>>misalnya yang dulu di SMA, sebelum masuk AKABRI, jadi anggota
organisasi
>pelajar Islam.
>>Menurut seorang bekas perwira intel yang aktif masa itu, "pembersihan"
>>ini terutama berlangsung di dinas intel.
>>
>>Waktu itu pandangan ABRI terhadap aktivis Islam memang negatif, karena
>>pengalaman lama dengan gerakan Darul Islam di hutan, juga karena
>>ketakutan akan radikalisme yang diilhami, dan mungkin didorong, oleh
>>Lybia  dan Iran. Banyak yang belum lupa, bahwa di masa dinas Benny
>>sebagai orang intel No.1, terjadi "Peristiwa Woyla", ketika sejumlah
>>anak muda Islam membajak Pesawat "Woyla". Mereka berhasil dilumpuhkan
>>di airport Bangkok, oleh tim Kopassus yang sudah disiapkan untuk
>>melawan terorisme. Ada indikasi bahwa kelompok anak muda ini, yang
>>memang "fanatik", dipancing oleh militer untuk berbuat nekad, memakai
>>jalan kekerasan tapi tidak siap benar, sehingga mudah
>>digebuk. Dalam pengadilan, diketahui ada seorang intel ABRI yang
>>diselundupkan ke dalam gerakan yang dipimpin Imron itu. Setelah
>>diadili, mereka dilenyapkan. Kemungkinan dibunuh.
>>
>>Cara keras ABRI masa itu terhadap aktivisme Islam mencapai puncaknya
>>ketika ada demonstrasi massal di Tanjung Priok, yang kemudian dikenal
>>sebagai "Peristiwa Priok". Diperkirakan 100 sampai dengan 300 orang
ditembak
>>mati oleh Kopassus dan jenazahnya dikuburkan entah di mana.
>>
>>Sakit Hati
>>
>>Kecurigaan kepada radikalisme Islam tidak terbatas di situ. Bias
>>negatif terhadap (aktivisme) Islam juga dirasakan pengaruhnya di
>>kalangan perwira ABRI yang masih sedang naik jenjang karirnya waktu
itu.
>Memang masih
>>perlu diteliti, sejauh mana bias itu mempengaruhi promosi mereka.
>>Tetapi perkembangan setelah Benny Moerdani berhenti menunjukkan memang
>>ada sejumlah perwira yang sakit hati oleh cara seleksi masa itu.
Umumnya
>>mereka datang dari keluarga Islam santri, atau yang di masa SMA pernah
>>jadi anggota Pelajar Islam Indonesia. (Di antara perwira tinggi memang
>>ada yang punya latarbelakang itu, misalnya Jend. Subagio, KASAD yang
>>sekarang).
>>
>>Mereka yang tersingkir ini kemudian mendapatkan kesempatan membalas
>>ketika Benny Moerdani dan orang kepercayaannya turun. Apalagi setelah
>>ada ketegangan antara Benny dan Presiden Soeharto, dan terutama ketika
>>Prabowo Subianto naik. Banyak versi yang menjelaskan kenapa demikian,
>>tapi belum diketahui mana yang benar.  Yang pasti, Prabowo menjadi
motor
>>penggerak tindakan "de-Benny-isasi" yang kemudian terjadi.
>>
>>Prabowo membenci Benny dengan berapi-api. Perlu ditelaah lebih lanjut,
>>apa yang menyebabkannya. Sifat Prabowo memang emosional,tak bisa
>>mengendalikan perasaan benci atau dendam.  Tetapi ia tidak dikenal
sebagai
>aktivis
>>Islam; ia datang dari ayah Jawa abangan (Prof. Sumitro) dan ibu
>>Kristen. Mungkin ada konflik pribadi antara Prabowo dan Benny, mungkin
>Prabowo ingin
>>mengambil simpati Islam untuk ambisi politiknya, mungkin pula Prabowo
>>hanya mencoba menyenangkan mertuanya, Presiden Soeharto -- yang waktu
>>itu sudah tidak suka lagi kepada Benny, entah mengapa.
>>
>>Pokoknya dengan naiknya Prabowo, ada semacam gerakan balasan: perwira
>>yang bukan Islam disingkirkan. Temperamen Prabowo sangat berpengaruh
>>dalam cara penyingkiran ini, yaitu terang-terangan menggunakan
kriteria agama.
>>Sistem dan prosedur promosi dan mutasi yang normal praktis dirusak.
>>Ini pun melahirkan rasa sakit hati di kalangan para perwira yang
>>beragama Kristen, dan dampaknya masih terus sampai Prabowo jatuh.
>>Pembatalan pengangkatan Johny Lumintang hanya beberapa jam setelah ia
>>menggantikan Prabowo sebagai Pangkostrad, (Mei 1998), menunjukkan
bahwa
>Pangab Jend. Wiranto juga
>>masih harus hati-hati untuk mempromosikan seorang Kristen ke posisi
>>strategis.
>>
>>Singkatnya, pimpinan ABRI tidak lagi seperti dulu, yang membanggakan
>>naik turunnya perwira berdasarkan "merit" atau prestasi, bukan
>>berdasarkan agama. ABRI tidak lagi imun dari konflik antar golongan.
>>Ini memang
>>mencemaskan, dan agaknya suara Theo Syafei -- sebagai mantan perwira
>>tinggi -- mencerminkan frustrasi dan keprihatinan tentang keadaan itu.
>>
>>
>>Siapa Memojokkan ABRI dan Dwi Fungsi?
>>
>>Tetapi jika kita baca transkrip ceramah Theo Syafei, kita akan melihat
>>juga bagaimana seorang yang berani berbicara jujur belum tentu juga
>>berbicara benar. Transkrip ceramah itu menunjukkan macam-macam salah
>>data dan salah analisa.
>>
>>Salah data yang mencolok misalnya tentang Zaky Makarim, Ketua BIA yang
>>pekan ini baru diganti. Menurut Theo Syafei, (ceramahnya diucapkan
bulan
>>September, sebelum Sidang Istimewa), Zaky Makarim, meskipun teman
>>dekat Prabowo, tidak juga dicopotoleh Wiranto, karena kakak Zaky
>>adalah Anwar Makarim, seorang Ketua ICMI. Padahal kakak Zaky Makarim
>>adalah Nono Anwar Makarim, seorang lawyer yang lebih banyak tinggal di
>>AS, bekas pemimpin redaksi Harian KAMI, yang tidak pernah masuk
>>organisasi Islam apapun.
>>
>>Sementara itu Wiranto tahu, menurut sebuah sumber, bahwa sebetulnya
>>hubungan antara Zaky dan Prabowo tidak sedekat diduga.  Sebelum
>>Wiranto mencopot Prabowo dari Kostrad, Wiranto berembug dengan Zaky,
>>dan Zaky tidak membela Prabowo.
>>
>>Theo Syafei juga menunjukkan ketidak-mengertiannya tentang Islam,
>>terutama peta bumi kalangan Islam di Indonesia. Ia tidak sepenuhnya
>>memahami posisi
>>Qur'an dan Hadith serta ijitihad dan kitab-kitab kuning dalam
>>yurisprudensi Islam maupun sebagai pedoman hidup ummat Islam.
>>
>>Ia melihat perbedaan antara NU dan Muhammadiyah lebih dari segi mana
>>di antara keduanya yang punya akar pada sejarah Indonesia, dengan
>>kesimpulan seakan-akan Muhammadiyah kurang bersifat Indonesia
>>dibanding NU. Ia tidak melihat adanya latar belakang kelas sosial
>>ataupun unsur sosiologis lain dalam perbedaan kedua organisasi itu.
>>Dalam hal ini pandangan Theo typikal
>>pandangan ABRI, dengan menitikberatkan pada dikotomi antara "asing"
>>("luar") atau "asli" ("Indonesia").
>>
>>Typikal pandangan ABRI pula ketika Theo Syafei melihat ancaman akan
>>berdirinya "Republik Agama Islam" nanti, yang oleh Theo dikesankan
>>sebagai sebuah agenda politik rahasia dari ICMI, KISDI dan seterusnya.
>>
>>Theo Syafei hanya melihat dua kelompok Islam. Yang satu NU (yang ia
>>identikkan dengan Gus Dur yang pluralis -- padahal ada pelbagai faksi
>>dalam
>>NU, dan tidak semuanya pas dengan semangat pluralis Gus Dur). Yang
>>lainnya ICMI, KISDI, Muhammadiyah dan seterusnya (yang ia anggap
>>semuanya satu -- padahal dalam ICMI saja terdapat pelbagai jenis
>>pemikiran). Theo Syafei tidak menyebut bagaimana pandangan Nurcholish
>>Madjid, M. Dawam Rahardjo, Muslim Abdurrahman, dan lain-lain yang
>>bukan "NU", tetapi jelas diametral bertentangan dengan KISDI.
>>
>>Typikal pandangan ABRI, yang "hitam-putih", Theo Syafei tidak mengerti
>>nuansa perbedaan antara PPP dan Bulan Bintang, Bulan Bintang dan
>>Partai Keadilan, Partai keadilan dengan Masyumi. Belum lagi memahami
>>liku-liku PKB dan PAN. Seperti dalam briefing-briefing militer,
>>pandangan Theo pratiks berdasar pada analisa kasar dan simplistis.
>>
>>Typikal pandangan ABRI pula,  untuk melihat kekuatan di Indonesia kini
>>terdiri dari "ekstrim kanan" (yaitu Islam yang bukan-NU) dan
>>"Pancasilais" (yang dijaga oleh ABRI). Dengan pandangan ini, Theo
>>Syafei menilai,
>>kalangan Islam ekstrim kanan itulah yang terus menerus berkampanye
>>memojokkan ABRI, dan ingin menghabisi Dwi Fungsi ABRI. Menurut Theo,
>>semua usaha itu dibuat agar ABRI yang sudah mengalami demoralisasi itu
>>tersingkir
>>dan negara Pancasila kita diganti oleh "Republika" ("Republik Agama").
>>
>>Kesimpulannya ialah:  ABRI jangan dipojokkan, Dwi Fungsi harus
>>dipertahankan, agar "Negara Islam" tidak jadi berdiri.
>>
>>Benarkah itu? Di sini Theo Syafei keliru sama sekali. Yang menentang
>>"Dwi Fungsi" ABRI bukan hanya mereka yang sejalan dengan "desain
>>Republika" (kalau puin desain ini ada). Yang menentang "Dwi Fungsi"
>>adalah mereka yang melihat bahwa doktrin ini menghalalkan supremasi
>>ABRI dalam politik.
>>Tujuannya bagus, tetapi pengalaman menunjukkan, bahwa sebuah kekuatan
>>sosial-politik yang memegang senjata mau tak mau akan punya posisi di
>>atas dibandingkan yang lain. Sudah punya bedil, punya kursi di DPR dan
>>di
>>kedudukan lain.
>>
>>Pengalaman menunjukkan, bahwa ABRI, dalam posisinya yang praktis
>>berada di atas kekuatan lain, bahkan di atas hukum, telah menghasilkan
>>perilaku politik yang bergelimang darah. Indonesia, sejak tahun 1965,
>>menyelesaikan konflik-konfliknya dengan pembunuhan. Dan setiap
>>kali,yang disalahkan dan dihabisi adalah kekuatan sipil. Baik itu
>>anggota PKI, atau aktivis Islam, atau gerakan rakyat yang tak puas di
>>Aceh, di Timor Timur, atau di Irian Jaya.
>>
>>Sebagai penutup, saya ingin menyimpulkan, bahwa meskipun Theo Syafei
>>itu mengeluarkan ekspresi yang jujur, pandangannya menyesatkan. Saya
>>anggap ketakutan akan berdirinya "Negara Islam" itu dilebih-lebihkan,
>>dan ini adalah khas propaganda ABRI. Dalam kenyataan, cukup banyak
>>kekuatan di kalangan Islam sendiri, dan itu tidak hanya Gus Dur, yang
>>menolak ide "Negara Islam". Theo Syefei serta para jenderal lain
>>sebaiknya membuka mata.
>>
>>Ide negara agama yang membahayakan hak asasi manusia justru harus
>>diatasi dengan mengukuhkan kekuatan rakyat penjaga hak asasi. Bukan
>>dengan mengukuhkan dan menghalalkan intervensi militer dalam politik,
>>yang telah mengamburadulkan Indonesia selama ini. Mudah-mudahan, itu
>>yang (akan) jadi platform PDI Perjuangan, yang kini dimasuki oleh Theo
>>Syafei.
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>_________________________________________________________
>>DO YOU YAHOO!?
>>Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke