Saudara-saudara sekalian:
     Saya telah beberapa kali membaca BERITA tentang ceramah Theo
Syafei serta tuntutannya terhadap media masa yang memuatnya, serta
pernyataan minta maaf serta juga analisa dari beberapa orang tentang
kejadian itu serta himbauan agar kejadian itu tidak terus di bahas. Di
media ini analisa dari A Yuswara disebarkan oleh Sdr. Pandu Riono.
     Dalam membaca semua itu, saya hanya bisa mendapat kesan dan
informasi bahwa ada seseorang memberikan ceramah, lalu ada yang
merekam dan menulis trnaskriptnya dan menyebarkannya.  Lalu dengan
kecanggihana teknologi, suara itupun bisa direkayasa.  Lalu, isi
ceramah itu menyinggung umat Islam, dst-dst.  Tetapi semua informasi
itu saya peroleh dari sumber lain, tanpa pernah membaca transcript
aslinya.  Dalam keadaan seperti ini, bila ada yang bertanya pendapat
saya tentang ceramah Thoe Syafei, maka jawaban saya adalah tidak tahu.
 Kenapa?  Karena memang saya tidak pernah membaca secara langsung.
(Kalau ada yang punya, boleh juga diposkan di sini). Saya hanya
mendengar khabar bahwa ceramah Theo Syafei menyesatkan.  Percayakah
saya pada informasi bahwa Theo Syafei dalam ceramahnya sangat
menyesatkan?  Jawabnya adalah tidak ada jawabnya.  Kenapa?  Sebab saya
tidak bisa menilai sendiri isi ceramah atau teks ceramah itu.  Karena
itu saya tidak mau ikut-ikutan menilai ceramah itu.
     Sebagai ilmuwan atau calon ilmuwan atau orang yang biasa
berkecimpung dalam dunia keilmuan, saya harus selalu berusaha melihat
data/informasi tidak hanya dari nilainya, tapi juga bagaimana data dan
informasi itu di dapat.  Selain itu juga perlu dipakai nalar
berdasarkan teori yang ada atau yang masuk akal apakah mungkin data
itu akan berbentuk seperti itu.
     Saya percaya bahwa cara berfikir ilmiah perlu juga diterapkan
dalam dunia kehidupan sehari-hari, bukan hanya dalam ujian serta
percobaan-percobaan keilmuan murni.  Dengan berfikir ilmiah, saya
yakin segala macam hasutan, gosip, rumor dsb hanya akan berkelana
sepanjang lidah yang tak betulang.  Dengan berfikir ilmiah, segala
macam adu-domba, pengkambing-hitaman, saksi dusta, fitnah dsb tidak
akan termanifestasi dalam bentuk ledakan fisik, adu otot serta adu
tinju yang berakibat hilangnya nyawa.
     Sekali lagi marilah kita mencoba berfikir kritis dalam menanggapi
informasi di media masa.

Wasalam,
Panut Wirata






---Andrew G Pattiwael <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bung Rosadi,
>
> Hayooo bung, kemarin nasehatin saya supaya tidak menuduh sembarangan
Bp.
> Adi Sasono,
> Sekarang kok Bung malah jadi panasan gini sih....
>
> hati-hati....liat dulu  move Theo selanjutnya....kan masih banyak
tanda
> tanya...
>
> Saya selalu mengingat nasehat anda.....
>
> Andrew Pattiwael
> The Military College of Vermont
> Norwich University Corps of Cadets
>
> On Mon, 11 Jan 1999, Mohammad Rosadi wrote:
>
> > Assalamualikum Wr.Wb..
> >
> > Setelah membaca tulisan tentang pidato Theo Syafei.., saya hanya
bisa
> > berkomentar:
> >
> >  Begitulah akibatnya kalo orang "bodoh dan Fasik"(seperti Theo
> > Syafei)menyampaikan berita..., penuh dengan KEBOHONGAN dan FITNAH..,
> > serta MENYESATKAN orang lain.
> > Berhati-hatilah dengan orang seperti ini......
> >
> > Wassalam
> > Mohamad Rosadi
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > >From [EMAIL PROTECTED] Mon Jan 11 08:59:49 1999
> > >Received: from [128.230.20.20] by hotmail.com (1.0) with SMTP id
> > MHotMail3093518431102058835065324772162562068399034; Mon Jan 11
08:59:49
> > 1999
> > >Received: from mailer (128.230.20.20) by mailer.syr.edu (LSMTP for
> > Windows NT v1.1a) with SMTP id <[EMAIL PROTECTED]>; Mon,
11 Jan
> > 1999 9:55:28 -0500
> > >Received: from LISTSERV.SYR.EDU by LISTSERV.SYR.EDU
(LISTSERV-TCP/IP
> > release
> > >          1.8c) with spool id 47188 for [EMAIL PROTECTED];
Mon,
> > 11 Jan
> > >          1999 09:55:30 -0500
> > >Received: from theta2.ben2.ucla.edu by listserv.syr.edu (LSMTP
Lite for
> > Windows
> > >          NT v1.1a) with SMTP id <[EMAIL PROTECTED]>;
Mon, 11
> > Jan
> > >          1999 9:55:30 -0500
> > >Received: from priono
(pool0047-max2.ucla-ca-us.dialup.earthlink.net
> > >          [207.217.13.111]) by theta2.ben2.ucla.edu (8.8.8/8.8.8)
with
> > SMTP id
> > >          GAA13680 for <[EMAIL PROTECTED]>; Mon, 11 Jan 1999
> > 06:55:19
> > >          -0800
> > >X-Sender: [EMAIL PROTECTED]
> > >X-Mailer: QUALCOMM Windows Eudora Pro Version 4.1
> > >Mime-Version: 1.0
> > >Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
> > >Message-ID:  <[EMAIL PROTECTED]>
> > >Date:         Mon, 11 Jan 1999 06:55:27 -0800
> > >Reply-To:     Indonesian Students in the US
<[EMAIL PROTECTED]>
> > >Sender:       Indonesian Students in the US
<[EMAIL PROTECTED]>
> > >Comments:     RFC822 error: <W> MESSAGE-ID field duplicated. Last
> > occurrence
> > >              was retained.
> > >Comments:     RFC822 error: <W> Incorrect or incomplete address
field
> > found and
> > >              ignored.
> > >From:         Pandu Riono <[EMAIL PROTECTED]>
> > >Subject:      Fwd: TRANSKRIP CERAMAH THEO SYAFEI BISA MENYESATKAN
> > >To:           [EMAIL PROTECTED]
> > >
> > >>Date: Mon, 11 Jan 1999 02:09:32 +0100
> > >>Subject: TRANSKRIP CERAMAH THEO SYAFEI BISA MENYESATKAN
> > >>oleh A. Yuswara
> > >>
> > >>Jelas, bahwa transkrip ceramah Theo Syafei yang menghebohkan itu
> > >>merupakan ekspresi jujur perasaan seorang yang bukan-Muslim, di
tengah
> > >>meningkatnya tekanan terhadap kalangan Kristen -- tekanan yang
> > dilakukan
> > >oleh grup
> > >>yang mengatasnamakan Islam, khususnya KISDI.
> > >>
> > >>Ceramah itu diberikan kepada kalangan umat Kristen secara
terbatas,
> > >>September 1998 di Anyer, Jawa Barat, sebelum Sidang Istimewa MPR
yang
> > >>lalu. Sejak itu ditranskrip dan disebarluaskan, sampai ke Kupang,
> > sebelum
> > >>peristiwa pembakaran masjid di sana.  Siapa yang menyebar luaskan
> > >>tidak diketahui. Tetapi Theo Syafei sendiri dalam transkrip
memberi
> > >>kesan, bahwa ceramahnya itu ia harapkan disebar-luaskan, agar
> > >>dijadikan opini umum ("diopinikan", katanya).
> > >>
> > >>Bahwa suara itu datang dari seorang purnawirawan ABRI, dan
antara lain
> > >>mengungkapkan ketegangan antara kelompok agama di kalangan
militer,
> > >>menunjukkan betapa gawatnya hubungan Islam-Kristen di masa
terakhir
> > >>Soeharto. Kita mungkin tidak akan dapat menentukan secara persis
sejak
> > >>kapan pimpinan ABRI menjadi rusak (malahan mungkin retak) karena
> > >>perbedaan agama di kalangan para jenderal.
> > >>
> > >>Ada yang mengatakan, ini bermula dari masa ketika Jenderal Benny
> > >>Moerdani memegang peran penting dalam "intelligence community"
> > >>Indonesia, baik sebagai Ass Intel Pangab maupun sebagai Ketua
BAIS.
> > >>Jend. Benny seorang Katolik, dan sangat mungkin -- berbareng
dengan
> > >>kuatnya kecurigaan kepada ekstremisme Islam di masa itu -- ia
punya
> > >>bias untuk tidak menyukai, atau mencurigai, banyak hal yang
berwarna
> > >Islam. Mungkin saja ia dengan
> > >>sengaja menyingkirkan perwira yang latarbelakang Islamnya kuat,
> > >>misalnya yang dulu di SMA, sebelum masuk AKABRI, jadi anggota
> > organisasi
> > >pelajar Islam.
> > >>Menurut seorang bekas perwira intel yang aktif masa itu,
"pembersihan"
> > >>ini terutama berlangsung di dinas intel.
> > >>
> > >>Waktu itu pandangan ABRI terhadap aktivis Islam memang negatif,
karena
> > >>pengalaman lama dengan gerakan Darul Islam di hutan, juga karena
> > >>ketakutan akan radikalisme yang diilhami, dan mungkin didorong,
oleh
> > >>Lybia  dan Iran. Banyak yang belum lupa, bahwa di masa dinas Benny
> > >>sebagai orang intel No.1, terjadi "Peristiwa Woyla", ketika
sejumlah
> > >>anak muda Islam membajak Pesawat "Woyla". Mereka berhasil
dilumpuhkan
> > >>di airport Bangkok, oleh tim Kopassus yang sudah disiapkan untuk
> > >>melawan terorisme. Ada indikasi bahwa kelompok anak muda ini, yang
> > >>memang "fanatik", dipancing oleh militer untuk berbuat nekad,
memakai
> > >>jalan kekerasan tapi tidak siap benar, sehingga mudah
> > >>digebuk. Dalam pengadilan, diketahui ada seorang intel ABRI yang
> > >>diselundupkan ke dalam gerakan yang dipimpin Imron itu. Setelah
> > >>diadili, mereka dilenyapkan. Kemungkinan dibunuh.
> > >>
> > >>Cara keras ABRI masa itu terhadap aktivisme Islam mencapai
puncaknya
> > >>ketika ada demonstrasi massal di Tanjung Priok, yang kemudian
dikenal
> > >>sebagai "Peristiwa Priok". Diperkirakan 100 sampai dengan 300
orang
> > ditembak
> > >>mati oleh Kopassus dan jenazahnya dikuburkan entah di mana.
> > >>
> > >>Sakit Hati
> > >>
> > >>Kecurigaan kepada radikalisme Islam tidak terbatas di situ. Bias
> > >>negatif terhadap (aktivisme) Islam juga dirasakan pengaruhnya di
> > >>kalangan perwira ABRI yang masih sedang naik jenjang karirnya
waktu
> > itu.
> > >Memang masih
> > >>perlu diteliti, sejauh mana bias itu mempengaruhi promosi mereka.
> > >>Tetapi perkembangan setelah Benny Moerdani berhenti menunjukkan
memang
> > >>ada sejumlah perwira yang sakit hati oleh cara seleksi masa itu.
> > Umumnya
> > >>mereka datang dari keluarga Islam santri, atau yang di masa SMA
pernah
> > >>jadi anggota Pelajar Islam Indonesia. (Di antara perwira tinggi
memang
> > >>ada yang punya latarbelakang itu, misalnya Jend. Subagio, KASAD
yang
> > >>sekarang).
> > >>
> > >>Mereka yang tersingkir ini kemudian mendapatkan kesempatan
membalas
> > >>ketika Benny Moerdani dan orang kepercayaannya turun. Apalagi
setelah
> > >>ada ketegangan antara Benny dan Presiden Soeharto, dan terutama
ketika
> > >>Prabowo Subianto naik. Banyak versi yang menjelaskan kenapa
demikian,
> > >>tapi belum diketahui mana yang benar.  Yang pasti, Prabowo menjadi
> > motor
> > >>penggerak tindakan "de-Benny-isasi" yang kemudian terjadi.
> > >>
> > >>Prabowo membenci Benny dengan berapi-api. Perlu ditelaah lebih
lanjut,
> > >>apa yang menyebabkannya. Sifat Prabowo memang emosional,tak bisa
> > >>mengendalikan perasaan benci atau dendam.  Tetapi ia tidak dikenal
> > sebagai
> > >aktivis
> > >>Islam; ia datang dari ayah Jawa abangan (Prof. Sumitro) dan ibu
> > >>Kristen. Mungkin ada konflik pribadi antara Prabowo dan Benny,
mungkin
> > >Prabowo ingin
> > >>mengambil simpati Islam untuk ambisi politiknya, mungkin pula
Prabowo
> > >>hanya mencoba menyenangkan mertuanya, Presiden Soeharto -- yang
waktu
> > >>itu sudah tidak suka lagi kepada Benny, entah mengapa.
> > >>
> > >>Pokoknya dengan naiknya Prabowo, ada semacam gerakan balasan:
perwira
> > >>yang bukan Islam disingkirkan. Temperamen Prabowo sangat
berpengaruh
> > >>dalam cara penyingkiran ini, yaitu terang-terangan menggunakan
> > kriteria agama.
> > >>Sistem dan prosedur promosi dan mutasi yang normal praktis
dirusak.
> > >>Ini pun melahirkan rasa sakit hati di kalangan para perwira yang
> > >>beragama Kristen, dan dampaknya masih terus sampai Prabowo jatuh.
> > >>Pembatalan pengangkatan Johny Lumintang hanya beberapa jam
setelah ia
> > >>menggantikan Prabowo sebagai Pangkostrad, (Mei 1998), menunjukkan
> > bahwa
> > >Pangab Jend. Wiranto juga
> > >>masih harus hati-hati untuk mempromosikan seorang Kristen ke
posisi
> > >>strategis.
> > >>
> > >>Singkatnya, pimpinan ABRI tidak lagi seperti dulu, yang
membanggakan
> > >>naik turunnya perwira berdasarkan "merit" atau prestasi, bukan
> > >>berdasarkan agama. ABRI tidak lagi imun dari konflik antar
golongan.
> > >>Ini memang
> > >>mencemaskan, dan agaknya suara Theo Syafei -- sebagai mantan
perwira
> > >>tinggi -- mencerminkan frustrasi dan keprihatinan tentang
keadaan itu.
> > >>
> > >>
> > >>Siapa Memojokkan ABRI dan Dwi Fungsi?
> > >>
> > >>Tetapi jika kita baca transkrip ceramah Theo Syafei, kita akan
melihat
> > >>juga bagaimana seorang yang berani berbicara jujur belum tentu
juga
>
=== message truncated ===

_________________________________________________________
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke