Ah kalo masalah kisah nyata sih, saya juga punya (100% real)
Teman saya anak Imam yang kerja di Department Agama, Hidup keluarganya
sederhana dan bapaknya orang jujur, tapi tetap aja nggak lulus UMPTN
berkali kali, malah putus sekolah. Jadi menurut saya LAZINESS is the
foremost factor:-)
Teman saya yang satu lagi selesai masternya di salah satu universitas
yang cukup bagus (mahal) di Amrik, nilainya bagus, dan bapaknya dia
seperti bapak teman Hadeer yang diceritakan di bawah.
btw, I still believe that TUHAN itu Maha Adil buat orang pemalas dan
yang rajin.
Ali Simplido
>
> Kisah nyata : (boleh percaya boleh tidak)
>
> Teman saya 1 kelas dulu di waktu SMA...cukup pintar
> dan berotak
> encer....tapi begitu ikut UMPTN tidak lulus dan
> tahun berikutnya tidak
> lulus pula. Akhirnya dia sekolah di swasta dan
> mengeluarkan banyak biaya.
> Sekali waktu kita ketemu dan berdiskusi....sambil
> menerawang dia bilang
> kegagalannya mungkin disebabkan karena orang tuanya
> bekerja di Bea Cukai
> dan sering mendapatkan uang "tidak
> jelas".....sekarang baru keadilan
> terjadi....orang tuanya harus mengeluarkan kembali
> kekayaannya itu untuk
> menyekolahkan teman saya itu....
>
> Believe it or not.....Tuhan Maha Adil.....
>
> Hadeer
> (2.5% itu adalah zakat harta....untuk "membersihkan"
> harta, yang diberikan
> kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Kalau
> soal bersyukur banyak
> caranya....menggunakan dengan semestinya apa yang
> kita miliki itu juga
> sudah disebut bersyukur :-))
>
>
> ----------
> > From: Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia)
> <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: [EMAIL PROTECTED]
> > Subject: Re: Tawuran Tak Bisa Diatasi Dengan
> Pembinaan Individual
> > Date: 09 April 1999 13:14
> >
> >
> > Jadi masalahnya bukan halal atau haram sumber dana
> itu, tapi bagaimana
> > mengelolanya.
> >
> > Wassalam,
> > Efron (bukan 2.5% tapi 10%, bukan untuk
> "pembersih" tapi untuk ucapan
> syukur
> > kepada Tuhan)
> >
> >
> >
> > -----Original Message-----
> > From: Hadeer [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > Sent: Friday, 09 April, 1999 12:52 PM
> > To: [EMAIL PROTECTED]
> > Subject: Re: Tawuran Tak Bisa Diatasi
> Dengan Pembinaan Individual
> >
> >
> > Tetapi setidak - tidak nya perilaku kita dalam
> mencari uang dan bekerja
> > sudah menghindari "sumber - sumber yang tidak
> jelas kehalalannya". Uang
> > bukan hasil koroupsi, bukan hasil rampok, bukan
> hasil menindas orang
> lemah
> > dll. Bukan niat kita untuk mendapatkan uang yang
> berasal dari tempat
> haram.
> >
> >
<HR>
<html><head></head><BODY bgcolor="#FFFFFF"><p><font size=2
color="#000000" face="Arial"><br>Seperti yang sudah saya bilang kan di
awal...<br><br>Sedapat mungkin kita (nggah usah gede-gede dulu
ngomongin negara) bekerja di tempat - tempat yang
"bersih"...<br>Mudah - mudahan rejeki yang didapat, rejeki
yang dibelikan ke susu dan makanan....itu mendatangkan kebahagian buat
kita dan keluarga....<br><br>Kisah nyata : (boleh percaya boleh
tidak)<br><br>Teman saya 1 kelas dulu di waktu SMA...cukup pintar dan
berotak encer....tapi begitu ikut UMPTN tidak lulus dan tahun
berikutnya tidak lulus pula. Akhirnya dia sekolah di swasta dan
mengeluarkan banyak biaya.<br>Sekali waktu kita ketemu dan
berdiskusi....sambil menerawang dia bilang kegagalannya mungkin
disebabkan karena orang tuanya bekerja di Bea Cukai dan sering
mendapatkan uang "tidak jelas".....sekarang baru keadilan
terjadi....orang tuanya harus mengeluarkan kembali kekayaannya itu
untuk menyekolahkan teman saya itu....<br><br>Believe it or
not.....Tuhan Maha Adil.....<br><br>Hadeer<br>(2.5% itu adalah zakat
harta....untuk "membersihkan" harta, yang diberikan kepada
orang-orang yang berhak menerimanya. Kalau soal bersyukur banyak
caranya....menggunakan dengan semestinya apa yang kita miliki itu juga
sudah disebut bersyukur :-))<br><br> <br>----------<br>> From: Efron
Dwi Poyo (Amoseas Indonesia) <<font
color="#0000FF"><u>[EMAIL PROTECTED]</u><font color="#000000">><br>>
To: <font color="#0000FF"><u>[EMAIL PROTECTED]</u><font
color="#000000"><br>> Subject: Re: Tawuran Tak Bisa Diatasi Dengan
Pembinaan Individual<br>> Date: 09 April 1999 13:14<br>> <br>>
<br>> Jadi masalahnya bukan halal atau haram sumber dana itu, tapi
bagaimana<br>> mengelolanya.<br>> <br>> Wassalam,<br>>
Efron (bukan 2.5% tapi 10%, bukan untuk "pembersih" tapi
untuk ucapan syukur<br>> kepada Tuhan)<br>> <br>> <br>>
<br>> -----Original Message-----<br>> From: Hadeer
[SMTP:<font color="#0000FF"><u>[EMAIL PROTECTED]</u><font
color="#000000">]<br>> Sent: Friday, 09 April, 1999
12:52 PM<br>> To: <font
color="#0000FF"><u>[EMAIL PROTECTED]</u><font
color="#000000"><br>> Subject:
Re: Tawuran Tak Bisa Diatasi
Dengan Pembinaan Individual<br>> <br>> <br>> Tetapi setidak -
tidak nya perilaku kita dalam mencari uang dan bekerja<br>> sudah
menghindari "sumber - sumber yang tidak jelas kehalalannya".
Uang<br>> bukan hasil koroupsi, bukan hasil rampok, bukan hasil
menindas orang lemah<br>> dll. Bukan niat kita untuk mendapatkan
uang yang berasal dari tempat haram.<br>> <br>> </p>
</font></font></font></font></font></font></font></font></font></body></html>
_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com