Contoh:
1. Saya punya 1 anak lelaki berumur 2 tahun 8 bulan. Setiap hari dia menonton TV, terutama kalau filem anak-anak. Filem yang dia sukai ialah Saras 008; Jiban; Dragon Ball; Power Rangers; Janperson; dan sejenisnya. Filem ini penuh dengan adegan perkelahian. Meski ada juga acara yang bukan kekerasan yang dia sukai seperti acara dunia binatang di TPI (Banana Zoo dan Hunters). Jagoan favorit nya ialah Power Rangers yang berwarna hitam. Sering saya mencoba mengalihkan perhatiannya pada tokoh lain. Misalnya saya mencoba membuat dongen tentang kehidupan harimau di hutan atau saya bercerita pengalaman saya dikejar-kejar gajah di Victoria Falls. Tapi di tengah cerita dia akan memotong, terutama pada bagian yang menurut dia menegangkan, dan meneruskannya bahwa kemudia datang power rangers sebagai tokoh yang akan mengalahkan semuanya.
Dalam permainan sehari-hari dia akan selalu bercerita tentang tokoh itu. Kalau melakukan permainannya itu pun adalah permainan berkelahi. Fantasi kekerasan itu telah tertanam sedini hari. Mencoba mengalihkan perhatiannya pada acara tv yang lain terasa sulit karena ada saudara sepupunya yang juga menonton acara tersebut. Maklum, kita tinggal ramai-ramai. Ketika saya selidiki anak tetangga yang lain, ternyata rata-rata anak-anak seperti itu. Baik sedang bermain di lapangan maupun sedang bercerita dengan teman-temannya.
Image kekerasan tersebut menurut saya (just opinion) juga tertanam lewat medium mainan berupa miniatur tokoh filem dan gambar-gambar yang di jual di depan sekolah-sekolah kelas SD inpres. Demikian juga pada kasus pakaian anak-anak sebagai produk sampingan dari industri filem negara maju. Saat ini banyak sekali baju bergambarkan tokoh-tokoh jagoan dari filem kekerasan yang menjadi motif pakaian anak-anak. Coba saja jalan ke pusat perbelanjaan di kota-kota besar. Jadi secara tidak sadar, masyarakat telah menanamkan budaya kekerasan secara perlahan-lahan.
Biar bagaimana pun ini debatable. Saya berharap ada komentar peserta milis yang lain. Mungkin minggu depan saya akan mencoba menuliskan aspek kejiwaan yang membentuk anak-anak indonesia lewat peradaban dan keseharian, yang secara existensialisme memang sudah dibunuh sejak dari kecil lewat peraturan-peraturan keluarga dan keharusan budaya yang tidak mengakui secara utuh keberadaan seorang anak sebagai manusia utuh (tidak dalam pengertian orde baru I dan II - Reformasi)
Salam
Adri Amiruddin
[EMAIL PROTECTED]
----------
From: Hadeer <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: Tawuran Tak Bisa Diatasi Dengan Pembinaan Individual
Date: 09 April 1999 15:42
Bisa kasih contoh ? Thanks
Hadeer
----------
From: Adri Amiruddin <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: Tawuran Tak Bisa Diatasi Dengan Pembinaan Individual
Date: 05 Maret 1999 7:44
Karena pada dasarnya, perilaku kekerasan yang tengah merundung bangsa dan negara kita sudah ditanamkan sejak bayi hingga ke liang kubur melalui perilaku dan tindak tanduk kita sehari-hari.
- Re: Tawuran Tak Bisa Diatasi Denga... Blucer Rajagukguk
- Re: Tawuran Tak Bisa Diatasi Dengan Pem... Ali Simplido
- Re: Tawuran Tak Bisa Diatasi Dengan Pem... Hadeer
- Re: Tawuran Tak Bisa Diatasi Dengan Pem... Hadeer
- Re: Tawuran Tak Bisa Diatasi Dengan Pem... Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia)
- Re: Tawuran Tak Bisa Diatasi Dengan Pem... Hadeer
- Re: Tawuran Tak Bisa Diatasi Dengan Pem... Ali Simplido
- Re: Tawuran Tak Bisa Diatasi Dengan Pem... Hadeer
- Re: Tawuran Tak Bisa Diatasi Dengan Pem... Hadeer
- Re: Tawuran Tak Bisa Diatasi Dengan Pem... Hadeer
- Nyanyi dulu ah... Adri Amiruddin
- Nyanyi dulu ah... Hadeer
- Re: Tawuran Tak Bisa Diatasi Denga... Hadeer
