Memang sekilas rada aneh. Masak yg ikut temu kader dan yg menghadang
jumlahnya seimbang kok ada yg "ditelanjangi". Tapi justru kalimat ini kan mene-
rangkan dengan sendirinya tho? Jawabnya ya karena yg menghadang & menyerbu
laki-laki semua. Sementara yg ikut kampanye tersembunyi ini banyak juga kaum
wanitanya. Kalaupun jumlah yg menghadang lebih sedikit, masih bisa menang kok.
Mereka sudah membawa pentungan segala macem.
Kalau yg ikut temu golkar ribuan dan yg menelanjangi ratusan memang agak
susah diterima logika. Bisa sih, kalau mereka bawa senjata tajam/api. Kalau
sekedar pentungan memang meragukan. Perbandingan maksimum 1:2 masih
bisa lah ngancam dengan pentungan. Kurang dari itu kayaknya memang bunuh
diri. Jangan lupa, "kaget" juga bisa menyebabkan orang jadi takut untuk bikin
perlawanan.
Frarev Sitorus wrote:
> Menurut saya, dari loparan surat kabar bahwa kader Golkar ada ratusan
> menyambut DPP ( Akbar Tanjung ). Sedangkan kader PDIP, katanya, ada
> ratusan juga menghadang...apakah mungkin DPP yang datang hanya ratusan
> Kader menyambut dan dihadang ratusan kader PDIP. Artinya tidak dimasuk
> akal hanya ratusan kader yang menyambut, padahal DPP datang. Sungguh
> memalukan jika satgas dan kader Golkar yang ribuan "ditelanjangi"oleh
> ratusan orang lain...artinya yang ratusan kader PDIP, katanya, dama dengan
> bunuh diri.
>
> On Mon, 5 Apr 1999, Dodo D. wrote:
>
> > Hehehe...oke..oke..
> > ternyata sejak awal sudah terdapat perbedaan persepsi dan pengambilan
> > sudut pandang dalam menyikapi masalah yang sama.
> > Kalau sejak awal saya sudah mengambil sudut pandang benar atau tidaknya
> > kejadian di Prubalingga dari segi moral tanpa melihat "kewajaran" atau
> > "ke-luar biasaan" kasus itu ditinjau dari segi kualitasnya, anda
> > cenderung menyikapinya dari sudut yang sebaliknya, sehingga hampir saja
> > tidak mencapai titik temu.
> >
> > Tentang sisi pandang dalam melihat kasus itu dari kaca mata hukum dan
> > politik, saya tetap melihat adanya kerancuan di dalamnya. Saya mengerti
> > acuan yang anda gunakan dalam melihat sebuah kejadian merupakan tindak
> > kriminal biasa atau insiden politik. Saya menangkap kesan spontanitas
> > dan intention dari si pelaku sebagai determining factor dalam melihat
> > apakah itu merupakan tindak kriminal biasa atau insiden politik.
> > Menurut saya, definisi itu bisa di terima dengan jelas dalam situasi
> > yang normal. Tetapi dalam situasi politik yang ruwet seperti di negara
> > kita saat ini, susah rasanya untuk menentukan apakah kasus semacam itu
> > merupakan tindak kriminal biasa atau insiden politik, karena
> > bagaimanapun ada unsur2 politis yang dibawa di dalamnya. Mengenai
> > spontanitas dan intention dari pelaku, saya agak sulit menerima sebuah
> > hipotesa yang mengatakan bahwa kejadian yang melibatkan kurang lebih
> > 300 orang pelaku itu merupakan kejadian yang spontan dan di dorong oleh
> > kemauan pribadi para pelaku tanpa ada dorongan dari belakang. Apalagi
> > para pelaku sebagian besar menggunakan atribut partai politik tertentu.
> >
> > Mengenai siapa yang berdiri di belakang kasus itu, kita perlu cukup
> > bukti untuk mengatakannya. Bisa jadi mereka memang di perintah oleh
> > partainya, bisa juga karena mereka dibayar oleh partai lain, atau
> > bahkan bisa jadi mereka di bayar oleh si korban untuk mencari simpati,
> > tentunya dengan syarat "bila nggak ketahuan."
> >
> > Disini, saya tetap berdiri pada sudut pandang saya sendiri yang melihat
> > kasus itu dari sisi kebenaran moral dan mungkin juga hukum. Silakan
> > kalau anda menyikapinya dari sudut pandang kualitas dan akhirnya
> > mengambil kesimpulan bahwa kejadian itu merupakan kejadian yang wajar.
> > _________________________________________________________
> > Do You Yahoo!?
> > Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
> >
--
\\\|///
\\ - - //
( @ @ )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
oooO ( )
( ) ) /
\ ( (_/
\_)